Tren Kecantikan Kini Lebih Inklusif, Fokus pada Kesehatan dan Keseimbangan Diri
Di tengah gempuran tren kecantikan yang menuntut kesempurnaan fisik, mulai dari kulit putih, tubuh langsing, hingga wajah tirus, banyak perempuan merasa terjebak dalam standar yang sempit. Media sosial memperkuat persepsi bahwa kecantikan harus seragam, padahal setiap individu memiliki definisi dan perjalanan yang berbeda.
Dalam situasi ini, muncul pendekatan baru yang menekankan bahwa kecantikan sejati bukanlah tentang tampil tanpa cela, melainkan tentang kesehatan, keseimbangan, dan penerimaan diri.
Pendekatan ini semakin relevan bagi masyarakat modern yang mulai memahami pentingnya hubungan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Kecantikan tidak lagi berhenti pada tampilan luar, melainkan meluas menjadi bentuk kesadaran diri dan keberanian untuk hidup apa adanya.
Perspektif ini pula yang diusung oleh dr Ayu Widyaningrum, seorang dokter estetika sekaligus figur publik yang dikenal karena pandangannya tentang kecantikan yang inklusif.
“Cantik bagi wanita Indonesia memang masih dikategorikan sosok wanita yang putih bersih, langsing, dan tirus. Padahal cantik menurut saya adalah bagaimana seorang wanita bisa mempunyai kulit yang sehat diimbangi dengan tubuh atau fisik dan mental yang sehat,” ujarnya, seperti dikutip dari siaran pers, Senin, 20 Oktober 2025.
Pakar kecantikan dr Ayu
Pandangan ini mencerminkan pemahaman yang lebih dalam bahwa kecantikan sejati terpancar dari keseimbangan antara perawatan diri dan kesehatan mental. Dalam praktik medisnya, pendekatan inklusif menjadi nilai utama.
Ia berhati-hati dan selektif dalam memilih inovasi kesehatan, memastikan setiap perawatan aman dan sesuai dengan kondisi pasien. Setiap layanan di kliniknya juga dirancang tidak hanya bagi mereka yang sehat, tetapi juga bagi pasien dengan kondisi medis serius seperti diabetes, autoimun, kanker, atau lupus.
“Kecantikan, dalam dunia saya, adalah komitmen seumur hidup untuk kesehatan dan pertumbuhan,” ujarnya.
Lebih jauh, filosofi kecantikan yang dipegangnya berpijak pada regenerasi, bukan hanya fisik, tetapi juga mental. “Saya harus tetap cantik, bukan hanya penampilan, tapi juga dengan menjaga kesehatan organ tubuh, mengelola stres, dan menjaga keseimbangan emosional,” jelasnya.
Pandangan hidupnya sejalan dengan filosofi “Front & Female” yang menekankan kepemimpinan diri dan keindahan perilaku. Dalam perjalanannya, ia percaya bahwa kecantikan sejati bukan tujuan akhir, melainkan cara hidup yang seimbang, tangguh, dan penuh tujuan.
Sebagai bentuk nyata dari nilai-nilai yang dipegang, Widya Esthetic Clinic, klinik yang ia dirikan sejak 2015, baru saja merayakan hari jadinya yang ke-10. Perayaan ini tidak dilakukan dengan pesta besar, melainkan dengan memberikan layanan terapi imunologi sel gratis bagi sekitar 50 pasien dengan berbagai kondisi kronis, mulai dari diabetes hingga autoimun.
“Selama satu hari penuh, kami memberikan pelayanan Terapi Imunologi Sel. Bukan dengan pesta meriah, ini merupakan wujud terima kasih kami pada masyarakat Banjarmasin dan pasien yang selama ini sudah membersamai berdirinya klinik ini,” ujarnya.
Alih-alih sekadar perayaan, langkah tersebut menjadi simbol dari filosofi kecantikan yang berakar pada empati dan kebermanfaatan. Bagi dirinya, kecantikan sejati adalah tentang merawat diri sekaligus memberi dampak positif bagi sekitar, bukan hanya tampil sempurna di depan cermin, tetapi juga menyinari orang lain dengan kebaikan dan kepedulian.