Inter Juara Liga Italia: 3 Senjata, Energi Chivu, dan Scudetto Ke-21

Inter Milan, Liga Italia, Cristian Chivu, Serie A, Inter Juara Liga Italia: 3 Senjata, Energi Chivu, dan Scudetto Ke-21

Cristian Chivu menghadirkan energi baru. Inter Milan pun mengamankan scudetto ke-21.

Stadion Giuseppe Meazza jadi arena pesta bagi Inter Milan. Gelar juara Liga Italia 2025-2026 dipastikan Inter di sana, setelah mengalahkan Parma 2-0 pada pekan ke-35, Minggu (3/5/2026) atau Senin dini hari WIB.

Hasil seri saja sejatinya sudah cukup bagi Inter untuk mengunci titel scudetto, mengingat pesaing mereka, Napoli, hanya bermain imbang 0-0 dengan Como pada hari Sabtu (2/5/2026).

Namun, Inter Milan memilih menyegel gelar dengan cara terbaik, yakni lewat raihan tiga angka.

Semuanya sudah seperti digariskan bagi Inter. Marcus Thuram, yang lahir di Parma, menjebol klub kebanggaan kota kelahirannya untuk membuka jalan Inter menuju titel scudetto ke-21.

Menerima sodoran Piotr Zielinski, sepakan kaki kanan Marcus Thuram menembus gawang Parma yang dikawal kiper Jepang, Zion Suzuki.

Kemenangan 2-0 Inter disegel oleh Henrikh Mkhitaryan pada menit ke-80, memaksimalkan operan Lautaro Martinez.

Inter juara bersama sang pelatih baru, Cristian Chivu. Pada tahun pertamanya menukangi tim, Chivu bisa langsung membawa Il Nerazzurri jadi kampiun.

Inter Milan, Liga Italia, Cristian Chivu, Serie A, Inter Juara Liga Italia: 3 Senjata, Energi Chivu, dan Scudetto Ke-21

Marcus Thuram dan Lautaro Martinez merayakan gelar juara Liga Italia dengan rekan satu tim setelah pertandingan sepak bola Serie A antara Inter Milan vs Parma di stadion Giuseppe Meazza di Milan, pada 3 Mei 2026. (Foto oleh Stefano RELLANDINI / AFP)

Gelar juara Liga Italia 2025-2026 kian terasa bermakna bagi Chivu, karena dipastikan saat melawan Parma, tim yang memberinya kesempatan pertama melatih di level profesional musim lalu.

Chivu kini berada dalam jajaran nama spesial yang pernah mengantar Inter Milan jadi juara Liga Italia sebagai pemain dan pelatih.

Melansir Tuttomercatoweb, Cristian Chivu mengikuti jejak Armando Castelazzi yang menyumbangkan gelar juara Liga Italia sebagai pemain pada 1929-1930, lalu jadi jawara Serie A lagi musim 1937-1938 saat banting setir jadi peracik taktik Inter.

Sementara, semasa masih aktif bermain, Chivu turut membantu Inter meraih scudetto pada 2007-2008, 2008-2009, dan 2009-2010.

Pelatih asal Rumania itu juga menyamai catatan eks pelatihnya, Jose Mourinho, yang mampu juara bersama Inter di musim debut.

Musim Debut Indah Cristian Chivu

Tercatat ada lima nama yang sukses mempersembahkan gelar juara dalam musim debut melatih Inter.

Selain Chivu, ada Arpad Weisz (1929-1930), Alfredo Foni (1952-1953), Giovanni Invernizzi (1970-1971), dan tentu saja Jose Mourinho (2008-2009).

Kehadiran Cristian Chivu memberikan hawa segar bagi Inter Milan yang mengalami pukulan hebat ketika kalah 0-5 di final Liga Champions musim lalu.

“Pelatih telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan membawa energi dan antusiasme baru," ujar kapten Inter Milan, Lautaro Martinez, memuji Chivu, dikutip dari Football Italia.

"Jadi setelah empat tahun yang hebat bersama Simone (Inzaghi), mungkin kami membutuhkan perubahan suasana setelah Final Liga Champions itu," kata Lautaro.

"Chivu memastikan semua orang merasa terlibat dan bahkan bisa berlatih dengan senyum, itu sangat membantu,” ujarnya menjelaskan.

Chivu mampu mengembalikan motivasi pemain yang berada di titik terendah setelah bencana di final Liga Champions 2025-2026.

Tak cuma menunjukkan kepiawaian mengelola ruang ganti, Chivu juga membuktikan diri sebagai pelatih yang cermat membaca situasi.

Contoh paling gres adalah pergantiannya pada menit ke-67 di laga melawan Parma. Dua pemain yang dimasukkannya, Lautaro Martinez dan Henrikh Mkhitaryan berkolaborasi dan mengunci kemenangan Inter.

Inter Milan, Liga Italia, Cristian Chivu, Serie A, Inter Juara Liga Italia: 3 Senjata, Energi Chivu, dan Scudetto Ke-21

Cristian Chivu merayakan raihan scudetto ke-21 setelah pertandingan sepak bola Serie A Liga Italia antara Inter Milan vs Parma di stadion Giuseppe Meazza di Milan, pada 3 Mei 2026. (Foto oleh Stefano RELLANDINI / AFP)

Perpaduan Mourinho, Ranieri, Spalletti

Kiper legendaris Inter, Walter Zenga, tak ragu menyebut Chivu sebagai kombinasi Jose Mourinho, Claudio Ranieri, dan Luciano Spalletti.

“Sebuah perpaduan antara Mourinho, Ranieri, dan Spalletti. Mourinho dalam cara menyatukan kelompok dan merayakan bersama semua orang, Ranieri dalam komunikasi eksternal, serta Spalletti dalam situasi permainan,” tutur Zenga dilansir dari Tuttomercatoweb.

Musim pertama Chivu memang jauh dari kata sempurna. Ia sempat berada dalam tekanan ketika hanya menang sekali dalam tiga laga awal Serie A.

Kekalahan dalam sepasang Derby della Madonnina melawan AC Milan musim ini jadi catatan merah lain Cristian Chivu.

Pelatih asal Rumania itu juga dianggap bertanggung jawab terhadap kegagalan Inter melangkah jauh di Liga Champions.

Il Nerazzurri sudah harus angkat koper sejak fase playoff lantaran kalah dari tim debutan Liga Champions, Bodo/Glimt.

Namun, keberhasilan Inter meraih scudetto ke-21 tetap tak bisa dilepaskan dari kerja keras Chivu.

Bersama Chivu, Inter punya tiga senjata yang menonjol. Inter musim ini merupakan tim yang paling sering mencetak gol via situasi tendangan penjuru di Serie A, persisnya 17 kali.

Inter pun jadi yang paling berbahaya di udara. Terhitung 19 gol sundulan sudah diciptakan personel Inter, terbanyak di antara kontestan Serie A lain.

Selain itu, keberadaan jago tembak semodel Hakan Calhanoglu dan Federico Dimarco membuat Inter mampu meneror lawan dari jarak jauh.

Scudetto Milik Chivu

Tercatat musim ini pasukan Nerazzurri mencetak 12 gol dari luar kotak penalti. Tak ada tim lain yang mampu melewati catatan Inter itu.

“Ini adalah scudetto milik Cristian Chivu dan para pemain, yang harus kami ucapkan terima kasih atas apa yang telah mereka lakukan. Di baliknya ada budaya kerja yang hebat dan rasa memiliki yang kuat, yaitu kesadaran akan apa arti mewakili Inter,” ujar Presiden Inter, Beppe Marotta.

“Chivu adalah seorang pemimpin, ia pernah memenangkan treble sebagai pemain, bekerja dengan baik di tim Primavera, dan juga berkembang di Parma."

"Perkembangannya sangat jelas, ia akan memiliki karier yang cemerlang dan saya berharap ia bisa terus bertahan di sini. Bagi kami dia adalah sosok yang ideal. Kesuksesan ini terutama adalah karena jasanya,” ucap Marotta menambahkan.

Musim pertama Chivu di Inter memang penuh liku. Namun, tanpanya, Nerazzurri mungkin tidak akan bisa merengkuh scudetto ke-21.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang