Sering "Kena Mental" Saat Lebaran? Kenali Pemicu dan Cara Mengatasinya

kena mental, Sering

Momen kumpul keluarga saat perayaan Idul Fitri menjadi ajang silaturahmi yang sangat dinantikan.

Namun, bagi sebagian orang, berhadapan dengan keluarga besar justru memicu perasaan terasing, tersudutkan, dan seolah tidak memiliki sandaran sama sekali.

Menghadapi rentetan pertanyaan basa-basi tanpa adanya dukungan moral dari orang terdekat dapat menguras energi dan pikiran.

Menurut Psikolog Klinis Wenny Aidina, M.Psi., Psikolog, memiliki pertahanan mental yang kuat menjadi kunci agar tidak mudah terpancing amarah atau larut dalam kesedihan mendalam ketika berada dalam situasi seperti itu.

"Kalau kita mau punya mental yang kuat, dilatih. Bukan dilatih dengan, 'Oh berarti aku perlu banyak dicerca, banyak kena masalah biar kuat mentalnya", enggak. Tapi dengan cara apa? Dengan cara lebih banyak mengenal diri kita," ungkap Wenny dalam webinar KALM Counseling bertajuk "Nelen Sabar Sampe Kenyang: Tips Biar Nggak Meledak Pas Lebaran", Sabtu (14/3/2026).

Ia mengibaratkan ketahanan mental layaknya otot tubuh manusia yang tidak bisa terbentuk secara instan.

Menurut Wenny, kekuatan psikologis tersebut baru bisa didapatkan melalui proses latihan yang konsisten, bukan sekadar menahan derita dalam diam sampai "kena mental".

"Misalnya kita mau otot kita kuat, itu kan perlu dilatih. Enggak mungkin tiba-tiba habis lahir, enggak ngapa-ngapain, tapi ototnya tiba-tiba jadinya kuat," tutur dia.

Pahami mengapa pertanyaan keluarga terasa menyakitkan

Wenny menjelaskan bahwa langkah pertama untuk melatih mental bukanlah dengan menebalkan telinga terhadap cibiran, melainkan menyelami ke dalam diri sendiri.

Sering kali, pertanyaan basa-basi dari kerabat terasa sangat menyakitkan karena kalimat tersebut tanpa sengaja menyentuh isu psikologis yang belum terselesaikan sejak masa kecil.

Untuk Wenny, misalnya, ia kerap ditanya perihal momongan sesaat setelah menikah. Rasa tidak nyaman yang muncul dan merusak suasana hatinya ternyata sama sekali bukan disebabkan oleh esensi dari pertanyaan itu sendiri.

"Kok aku terpicu ketika orang tanya belum punya anak? Setelah dicari tahu, ternyata bukan karena ditanyanya yang jadi masalah bagi aku, tapi ternyata karena sifat kompetitifnya aku ini," ungkap dia.

Merasa tertinggal dari pencapaian teman sebaya di usia yang sama adalah akar masalah sebenarnya.

Dengan mengetahui pemicu utamanya, seseorang menjadi lebih siap dan tahu secara pasti bagian mana dari mentalnya yang perlu segera direhabilitasi.

kena mental, Sering

Ilustrasi sedih.

Risiko terlalu sering menghindari acara keluarga

Mengetahui kelemahan diri sama halnya dengan prinsip "sedia payung sebelum hujan". Menyadari titik rapuh di dalam batin membuat seseorang bisa menyusun dan menyiapkan "perisai" sebelum benar-benar berhadapan dengan anggota keluarga besar.

Sayangnya, lanjut Wenny, alih-alih berlatih merespons dengan bijak, banyak individu justru mengambil jalan pintas dengan menghindari pertemuan keluarga sepenuhnya.

Mengurung diri di kamar, sengaja tidak berbaur, bahkan sengaja tidak mengambil libur Lebaran dan memutuskan untuk tetap bekerja, sering dianggap sebagai solusi paling "menenangkan" untuk menjaga kewarasan.

"Kalau 'belajarnya' adalah selalu menghindar, akhirnya tidak belajar untuk menunjukkan bagaimana cara mengelola emosi dengan tepat. Jadi, menghindar bukan salah satu cara yang efektif sebenarnya," tegas dia.

Pentingnya menyiapkan skenario sebelum silaturahmi

Untuk bisa menghadapi situasi kumpul keluarga tanpa harus melarikan diri, persiapan yang matang harus dilakukan.

Agar tidak kelelahan akibat beban yang bertumpuk, urusan teknis seperti masalah finansial, baju Lebaran, dan tiket mudik, harus diselesaikan jauh hari sebelum bulan puasa berakhir.

Dengan rampungnya persiapan teknis, energi yang tersisa di minggu terakhir menjelang Lebaran bisa difokuskan sepenuhnya untuk menata dan merenungkan kesiapan emosional.

"Kita sudah ada skema di otak. Misalnya, aku akan bertamu ke keluarga yang ini. Aku tahu pasti akan ditanya soal berat badan. Dengan kita sudah mempersiapkan itu, kita jadi bisa tahu (akan ditanya hal tersebut). Jadinya kita enggak ngerasa terlalu syok," jelas Wenny.

Membuat skema kemungkinan atau prediksi obrolan di dalam kepala ampuh meminimalisasi efek terkejut saat pertanyaan nyinyir dilontarkan.

Pada akhirnya, menurunkan ekspektasi dan menyiapkan mental bukan semata untuk terlihat tangguh di luar, melainkan murni demi mengelola emosi agar batin tetap terjaga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang