Top 5+ Kebiasaan yang Ternyata Bisa Merusak Gigi secara Permanen
Menjaga kesehatan rongga mulut kerap dianggap cukup hanya dengan menyikat gigi secara teratur setiap hari.
Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa ada beberapa rutinitas sehari-hari yang perlahan bisa mengganggu kesehatan gigi dan gusi, tanpa memunculkan rasa sakit di awal.
Beberapa tindakan yang tampaknya aman ternyata memicu masalah struktural serius di masa depan, mulai dari penipisan enamel hingga risiko infeksi gusi kronis. Apa saja?
Ragam kebiasaan yang ternyata bisa merusak gigi
1. Mengunyah yang keras-keras
Menggigit tutup pulpen atau mengunyah es batu, memang tidak berbahaya, tetapi lama-kelamaan kebiasaan ini bisa merusak gigi.
"Kebiasaan tersebut mengikis email gigi dan dapat menciptakan retakan kecil yang memburuk seiring berjalannya waktu," kata drg. Nicole Khalife, DDS, mengutip Real Simple, Minggu (26/4/2026).
Jika kamu sering mengunyah saat merasa stres atau terdistraksi, Khalife menyarankan untuk menyediakan sesuatu yang teksturnya lembut seperti permen karet bebas gula guna membantu mengalihkan keinginan tersebut.
Baca juga:
2. Menjadikan gigi sebagai alat
Menggunakan gigi untuk membuka kemasan plastik yang sulit robek atau memutar tutup botol adalah kebiasaan buruk yang harus diubah. Sebab, gigi manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk menahan tekanan ekstrem dari sudut yang tidak wajar layaknya alat pertukangan.
"Barang tergelincir secara tidak sengaja saat (dibuka atau diputar) memakai gigi sebagai alat dapat mengakibatkan laserasi atau iritasi pada gusi," ungkap drg. Jie Sun.
Benda-benda yang dipaksa masuk ke mulut tersebut juga sarat akan kuman pembawa penyakit. Kerusakan struktural yang dihasilkan sering kali berujung pada perbaikan ekstensif.
"Intinya, gigi adalah untuk makan, bukan untuk difungsikan sebagai alat," tegas drg. Sun.
3. Kesalahan rutinitas pembersihan
Ilustrasi sikat gigi dengan campuran odol dan garam untuk memutihkan gigi.
Menyikat gigi sesegera mungkin setelah menyantap sarapan sering dianggap sebagai langkah higienis. Faktanya, proses mengonsumsi makanan menurunkan tingkat pH di dalam mulut dan membuat lapisan enamel menjadi jauh lebih lunak.
Dokter menyarankan untuk menunggu setidaknya 30 menit agar air liur mengembalikan keseimbangan pH alami.
"Saat kamu menyikat gigi segera setelah makan, abrasi mekanis dari menyikat gigi dapat mempercepat keausan enamel," sebut drg. Sun.
Selain pengaturan waktu yang salah, memberikan tekanan terlalu keras saat menyikat juga berdampak fatal karena bisa mengekspos dentin lunak di bagian bawahnya.
"Ketika enamel terkikis, hal itu dapat menyebabkan retak, terkelupas, dan patah, bersamaan dengan peningkatan sensitivitas dan kerusakan gigi yang lebih cepat," jelas drg. Sandip Sachar.
Selalu gunakan sikat gigi berbulu lembut dan memperbaiki teknik pembersihan.
"Saya sarankan menyikat gigi dengan gerakan melingkar yang lembut, dibandingkan dengan gerakan maju mundur seperti menggergaji," tambah drg. Sachar.
4. Pemutih, Ngemil, dan Bernapas Lewat Mulut
Penggunaan produk pemutih gigi instan tanpa pengawasan dokter gigi juga sering membawa petaka. Pemakaian jangka panjang dari produk yang dijual bebas di pasaran ini justru merusak lapisan gigi.
"Pemutihan berlebihan, terutama dengan gel atau setrip yang dibeli di toko, dapat menyebabkan penipisan enamel, sensitivitas, dan gusi yang teriritasi," tutur drg. Khalife.
Di sisi lain, frekuensi ngemil yang terlalu tinggi tanpa diimbangi rutinitas pembersihan akan menumpuk sisa makanan yang berbahaya.
"Setiap camilan, terutama yang tinggi gula atau karbohidrat, memberi makan bakteri di mulut. Mereka menciptakan asam yang menyerang enamel," terang drg. Khalife.
Kondisi tersebut akan semakin parah jika kamu terbiasa bernapas melalui mulut, yang membuat produksi air liur penetral asam berkurang drastis.
"Selain itu, bernapas melalui mulut juga dapat memengaruhi perkembangan wajah pada anak-anak dan menyebabkan masalah ortodontik," kata drg. Sun.
5. Menggemeretakkan gigi tanpa sadar
Gesekan kuat antargigi saat tertidur di malam hari secara bertahap akan meratakan permukaan gigitan dan memicu nyeri sendi rahang. Memakai pelindung mulut saat tidur adalah salah satu solusi pencegahannya.
"Sayangnya, enamel tidak beregenerasi. Setelah gigi terkikis, mereka tidak menyembuhkan dirinya sendiri," pungkas drg. Sachar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang