Fenomena Underemployment: Banyak Lulusan S1 Tak Bekerja Sesuai Jurusan, Ini 11 Bidang dengan Risiko Tertinggi
Fenomena underemployment atau ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dan pekerjaan kini menjadi perhatian serius di dunia kerja global.
Di Amerika Serikat, data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari separuh lulusan dari jurusan tertentu bekerja di bidang yang tidak membutuhkan gelar sarjana, bahkan di bawah level pendidikan mereka.
Kondisi ini menggambarkan tantangan nyata di pasar tenaga kerja modern, di mana gelar S1 tak selalu menjamin pekerjaan sepadan dengan bidang studi, terutama pada profesi yang lebih menekankan keterampilan teknis daripada akademik.
Apa Itu Underemployment?
Menurut Federal Reserve Bank of New York (New York Fed), underemployment terjadi ketika seseorang bekerja di posisi yang tidak membutuhkan kualifikasi setinggi pendidikan yang dimilikinya.
Artinya, lulusan perguruan tinggi bekerja di sektor yang sebenarnya tidak memerlukan gelar sarjana, sehingga potensi akademiknya tidak termanfaatkan secara optimal.
Definisi ini juga mencakup ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dan bidang pekerjaan. Misalnya, lulusan Ilmu Sosial yang bekerja di sektor ritel atau lulusan Seni Pertunjukan yang beralih ke pekerjaan administratif.
New York Fed mencatat, hanya sekitar 50 persen lulusan baru dari sejumlah jurusan yang berhasil memperoleh pekerjaan level sarjana (college-level job) pada tahun pertama setelah lulus.
Mengapa Underemployment Terjadi?
Fenomena ini disebabkan oleh kesenjangan antara sistem pendidikan dan kebutuhan industri.
Banyak program studi masih berorientasi pada teori akademik, sementara dunia kerja kini menuntut keterampilan praktis, digital, dan vokasional.
Akibatnya, lulusan dengan gelar sarjana kerap bersaing dengan lulusan diploma atau kursus teknis yang justru lebih siap secara keterampilan.
11 Jurusan dengan Tingkat Underemployment Tertinggi di AS
Berdasarkan laporan New York Fed yang dirilis Selasa (14/10/2025), berikut daftar jurusan kuliah di Amerika Serikat dengan tingkat underemployment tertinggi:
1. Criminal Justice (Peradilan Kriminal) – 67,2%
Jurusan ini menempati posisi teratas dengan tingkat ketidaksesuaian kerja mencapai 67,2 persen.
Sebagian besar lulusan bekerja di sektor keamanan swasta atau administrasi publik yang tidak mensyaratkan gelar sarjana.
Banyak posisi di bidang penegakan hukum seperti petugas keamanan dan staf pengadilan cukup dengan pelatihan teknis, bukan gelar S1.
2. Performing Arts (Seni Pertunjukan) – 62,3%
Lulusan Seni Pertunjukan sering berakhir di pekerjaan di luar panggung, seperti pariwisata, pendidikan, atau industri kreatif informal.
Minimnya posisi formal di bidang seni membuat banyak lulusan beralih ke pekerjaan di luar bidang akademiknya.
Ilustrasi antropologi.
3. Medical Technicians (Teknisi Medis) – 57,9%
Meskipun sektor kesehatan dikenal stabil, banyak posisi teknisi medis hanya mensyaratkan diploma.
Lulusan S1 bidang ini akhirnya bekerja di posisi teknis dasar atau administratif di rumah sakit.
4. Humanities (Ilmu Humaniora) – 56,5%
Kemampuan berpikir kritis dan analitis lulusan humaniora sering kali tidak terserap di bidang spesifik.
Banyak yang bekerja di sektor layanan publik, komunikasi, dan administrasi, yang tidak langsung terkait dengan bidang akademik mereka.
5. Anthropology (Antropologi) – 55,9%
Pasar kerja untuk antropologi relatif sempit.
Sebagian besar lulusan bekerja di lembaga penelitian, LSM, atau riset pasar, bukan di bidang antropologi murni.
6. Hospitality and Tourism (Pariwisata dan Perhotelan) – 54,5%
Industri ini padat karya dan lebih menilai pengalaman kerja dibanding ijazah S1.
Akibatnya, banyak lulusan bekerja di posisi operasional seperti staf hotel atau event organizer.
7. Sociology (Sosiologi) – 54,1%
Lulusan sosiologi sering beralih ke sektor pendidikan, administrasi, atau layanan masyarakat karena keterbatasan lapangan kerja penelitian sosial.
8. General Social Sciences (Ilmu Sosial Umum) – 54,1%
Sifatnya yang luas membuat lulusan bidang ini kurang memiliki spesialisasi, sehingga banyak bekerja di pemasaran, pelayanan publik, atau administrasi.
9. Public Policy & Law (Kebijakan Publik dan Hukum) – 53,9%
Tanpa pendidikan lanjutan seperti law school atau master of public policy, banyak lulusan bekerja di sektor swasta atau administratif non-hukum.
Ilustrasi mahasiswa jurusan Seni
10. Fine Arts (Seni Rupa) – 53,4%
Bidang seni rupa bersifat sangat kompetitif dan banyak posisi bersifat freelance.
Lulusan sering bekerja di desain grafis, penjualan, atau pendidikan non-formal.
11. Animal and Plant Sciences (Ilmu Hewan dan Tumbuhan) – 53,2%
Sebagian besar posisi riset di bidang biologi dan pertanian memerlukan gelar pascasarjana, sehingga lulusan S1 banyak bekerja di administrasi atau konservasi dasar.
Pelajaran bagi Dunia Pendidikan dan Mahasiswa
Fenomena underemployment menjadi peringatan bagi perguruan tinggi untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri.
Sementara bagi mahasiswa, penting untuk mengasah keterampilan praktis dan digital yang relevan dengan pasar kerja agar lebih adaptif terhadap perubahan ekonomi.
Di sisi lain, industri juga diharapkan lebih membuka peluang magang dan kerja sama riset agar lulusan dapat menggabungkan kemampuan akademik dengan pengalaman nyata di lapangan.
Sebagian artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul .
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.