Cek Label Nutri-Level Kemenkes Sebelum Beli Minuman Manis, Bantu Cegah Adiksi Gula

diabetes, minuman manis, minuman tinggi gula, Cek Label Nutri-Level Kemenkes Sebelum Beli Minuman Manis, Bantu Cegah Adiksi Gula

 Tingkat konsumsi harian masyarakat terhadap makanan dan minuman manis kini telah mencapai titik yang mengkhawatirkan.

Perilaku jajan sembarangan tanpa memerhatikan takaran nutrisi menjadi penyumbang utama tingginya kasus diabetes melitus di Indonesia.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat angka prevalensi diabetes menembus 11,7 persen atau membebani sekitar 30 juta penderita.

"Konsumsi minuman manis yang melebihi dari batas di Indonesia itu terus-menerus meningkat," ungkap Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Untuk menekan laju pertumbuhan penyakit kronis tersebut, pemerintah merancang sistem peringatan visual, yakni label Nutri-Level, pada produk pangan agar masyarakat lebih mawas diri.

Langkah baru untuk menekan konsumsi gula

Membaca arti warna label

diabetes, minuman manis, minuman tinggi gula, Cek Label Nutri-Level Kemenkes Sebelum Beli Minuman Manis, Bantu Cegah Adiksi Gula

Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Pemerintah mengklasifikasikan kandungan nutrisi dalam empat tingkatan abjad, yakni A, B, C, dan D.

Selain huruf, sistem pelabelan ini juga memanfaatkan psikologi warna seperti lampu lalu lintas agar mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat.

Level A dan B ditandai dengan warna hijau tua dan hijau muda untuk produk yang tergolong aman. Sementara itu, warna oranye untuk level C dan merah untuk level D menandakan produk tersebut tinggi gula, sehingga konsumsinya harus sangat dibatasi atau dihentikan sama sekali.

"Satu kasih warna, dua kasih persentase. Jadi di dalam satu minuman Anda, misalnya 12 persen gulanya," kata dr. Nadia.

Masyarakat selama ini terbiasa membeli produk tanpa memeriksa ulang tabel informasi nilai gizi yang tertera pada bagian belakang.

Menurut dr. Nadia, edukasi visual di bagian depan kemasan ini diharapkan mampu memantik kesadaran konsumen sebelum mereka memutuskan untuk menelan asupan berkalori tinggi.

Bahaya tersembunyi adiksi dopamin dari minuman tinggi gula

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM mengungkapkan, saat ini adiksi tidak hanya merujuk pada arkoba dan rokok, tetapi juga minuman manis.

"Sore-sore (minum) kopi ya, semuanya nenteng kopi karena apa? Mindset-nya kalau tangannya enggak megang botol kopi, merasa ada yang aneh," tutur Prof. Yunir.

Ketergantungan pada minuman manis tidak hanya berdampak pada lonjakan lingkar perut, tetapi juga mempengaruhi sistem saraf pusat.

diabetes, minuman manis, minuman tinggi gula, Cek Label Nutri-Level Kemenkes Sebelum Beli Minuman Manis, Bantu Cegah Adiksi Gula

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM, dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jumat (17/4/2026).

Pola konsumsi berlebih menciptakan ikatan candu yang membuat seseorang sulit lepas dari rutinitas membeli minuman kekinian setiap harinya. Fenomena jajan minuman manis kini bahkan telah bergeser menjadi simbol gaya hidup kaum urban.

Banyak pekerja maupun mahasiswa yang merasa gelisah atau tidak fokus jika belum menggenggam gelas kopi susu di tangannya, seperti yang disebutkan sebelumnya.

Kondisi psikologis tersebut menurut Prof. Yunir merupakan bentuk respons tubuh terhadap stimulus rasa nikmat yang sengaja dicari secara berulang-ulang.

"Itu ada ilmunya karena dopaminnya berubah di otaknya. Terstimulasi terus kalau dia megang ini (kopi), dopaminnya keluar menimbulkan rasa nyaman," terang dia.

Kesiapan industri dalam menerapkan label Nutri-Level

Penerapan kebijakan pelabelan ini akan difokuskan terlebih dahulu pada produk pangan siap saji yang dijajakan di gerai-gerai ritel besar.

Dokter Nadia mengungkap, penyesuaian aturan untuk produk dalam kemasan pabrik masih terus dimatangkan bersama lembaga terkait sebelum diwajibkan secara nasional.

"Kami utamakan gula dulu, minuman pangan siap saji, karena kalau kemasan itu Badan POM aturannya masih dibahas," kata dia.

Pemerintah tidak langsung menjatuhkan sanksi, melainkan memberikan waktu adaptasi bagi para pelaku usaha makanan dan minuman.

Hal tersebut bertujuan agar industri memiliki cukup waktu untuk melakukan uji laboratorium mandiri sekaligus memformulasi ulang takaran resep mereka menjadi lebih sehat.

"Jadi benar-benar kami kasih kesempatan industri pelan-pelan," pungkas dr. Nadia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang