Tren Baru Pengobatan Diabetes dan Obesitas, dari Suntik Beralih ke Pil
Kasus diabetes dan obesitas di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pola hidup kurang aktif, konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, hingga minimnya aktivitas fisik menjadi faktor utama yang memicu kondisi tersebut. Diabetes dan obesitas kini bahkan tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga mulai banyak ditemukan pada usia produktif.
Dalam dunia medis, diabetes dan obesitas memiliki keterkaitan erat. Obesitas dapat meningkatkan risiko resistensi insulin yang kemudian memicu diabetes tipe 2. Karena itu, penanganan kedua kondisi ini umumnya dilakukan secara bersamaan melalui perubahan gaya hidup, pengaturan pola makan, olahraga, hingga penggunaan obat-obatan tertentu. Scroll lebih lanjut yuk!
Selama beberapa tahun terakhir, pengobatan berbasis GLP-1 menjadi salah satu terapi yang paling banyak dibicarakan. Obat ini dikenal mampu membantu mengontrol kadar gula darah sekaligus menekan nafsu makan sehingga efektif mendukung penurunan berat badan. Sebelumnya, terapi GLP-1 lebih banyak tersedia dalam bentuk suntikan mingguan. Namun kini, tren baru mulai muncul dengan hadirnya formulasi oral atau pil.
Perubahan tersebut terlihat jelas setelah peluncuran pil Wegovy di Amerika Serikat pada Januari 2026. Kehadiran obat dalam bentuk pil disebut membuat akses pengobatan menjadi lebih mudah dan menarik minat lebih banyak pasien.
Penyedia layanan telemedisin LifeMD bahkan mengaku mengalami lonjakan pasien secara drastis setelah pil tersebut hadir di pasar.
“Kami mengalami peningkatan jumlah pasien baru dari 300 hingga 400 pasien per hari menjadi 600 hingga 1.000 pasien per hari,” kata CEO Justin Schreiber, dalam keterangan resminya.
Ia mengaku sudah memperkirakan tingginya permintaan, namun tetap terkejut dengan besarnya minat masyarakat.
“Tidak diragukan lagi bahwa peluncuran obat oral Novo Nordisk telah meningkatkan akses,” kata Schreiber.
Dalam empat bulan sejak diluncurkan di Amerika Serikat, puluhan ribu orang dilaporkan mulai menggunakan pil Wegovy. Sebagian besar di antaranya merupakan pengguna baru terapi GLP-1 yang sebelumnya belum pernah menjalani pengobatan serupa.
Pil Wegovy sendiri menggunakan bahan aktif yang sama dengan versi suntiknya, yakni semaglutide. Obat ini bekerja dengan meniru hormon alami tubuh yang membantu mengontrol gula darah, memperlambat pengosongan lambung, serta memberikan rasa kenyang lebih lama. Faktor inilah yang membuat terapi GLP-1 dinilai efektif untuk membantu pengelolaan diabetes sekaligus obesitas.
Ketertarikan masyarakat terhadap terapi oral juga dipicu oleh faktor kenyamanan. Banyak pasien yang sebelumnya enggan menjalani pengobatan karena takut jarum suntik kini mulai mempertimbangkan terapi berbentuk pil. Selain itu, harga pil dinilai lebih mudah dijangkau dibandingkan beberapa terapi suntik yang beredar sebelumnya.
Meski sempat muncul keraguan mengenai efektivitasnya dibandingkan versi suntik, hasil uji coba menunjukkan performa yang cukup menjanjikan. Pada salah satu penelitian, pil tersebut dilaporkan mampu membantu penurunan berat badan rata-rata sekitar 12 persen. Bahkan, semaglutide oral dalam uji coba terpisah disebut menghasilkan penurunan berat badan hampir 17 persen.
CEO Novo Nordisk, Mike Doustdar, juga menilai antusiasme masyarakat terhadap obat ini sangat tinggi.
“Orang-orang sangat tertarik karena ini adalah pil GLP-1 yang paling ampuh saat ini di pasaran," katanya dalam wawancara dengan CNBC pada Maret lalu.
Di sisi lain, meningkatnya permintaan juga menjadi tantangan tersendiri bagi industri farmasi. Produksi formulasi oral disebut membutuhkan lebih banyak bahan peptida dibandingkan versi suntik.
Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan global, Novo Nordisk bahkan mengumumkan investasi manufaktur sebesar 500 juta dolar AS di Irlandia guna mendukung produksi produk oral mereka di masa mendatang.
Kehadiran pil GLP-1 diperkirakan akan menjadi babak baru dalam pengobatan diabetes dan obesitas. Dengan akses yang lebih mudah dan metode konsumsi yang lebih praktis, terapi ini dinilai berpotensi menjangkau lebih banyak pasien yang selama ini kesulitan menjalani pengobatan rutin.