Kisah Jorginho Hilang Kebahagiaan di Arsenal, Taktik Arteta bak PR
Jorginho menyebut sempat kehilangan kebahagiaan sebagai pemain sepak bola saat dilatih oleh Mikel Arteta di Arsenal.
Atas alasan tersebut, Jorginho hengkang dari Arsenal di bursa transfer musim panas 2025 dan bergabung ke klub Liga Brasil, Flamengo.
Dalam beberapa bulan terakhir sebelum hengkang dari Arsenal, Jorginho berujar bahwa dirinya mulai kehilangan menit bermain.
Taktik Arteta yang dinilai Jorginho cenderung kaku membuatnya kehilangan tempat di tim utama.
Jorginho Kehilangan Motivasi di Arsenal
Padahal, sebelum kemudian hengkang ke Arsenal di bursa transfer musim panas 2023, Jorginho adalah andalan Chelsea.
Tampil sebagai metronom di lini tengah, Jorginho membawa The Blues meraih berbagai macam gelar, seperti Liga Champions 2020-2021, Liga Europa 2018-2019, hingga FIFA Club World Cup 2021.
Hengkang ke Arsenal justru menjadi penurunan karier bagi Jorginho. Setelah sebelumnya menjadi bintang di Chelsea, ia turun kelas menjadi pelapis.
Kondisi ini membuat Jorginho jengah dan memutuskan untuk hengkang dengan status bebas transfer dari Arsenal pada musim panas 2025.
“Saya ingin merasa hidup dan penting bagi tim,” jelas Jorginho dilansir dari Goal.
“Ketika seorang pemain tidak berada di lapangan, sulit untuk tetap termotivasi. Saya merasa perlu pergi ke suatu tempat di mana saya bisa bermain dengan gembira," imbuh Jorginho.
Selama bermain di Arsenal eks pemain Timnas Italia itu mencatatkan 79 penampilan, meskipun hanya 27 di antaranya sebagai starter.
Manajer Arsenal asal Spanyol, Mikel Arteta, bereaksi pada laga Liga Champions, fase liga hari ke-7, antara Inter Milan dan Arsenal di stadion San Siro di Milan, Italia utara, pada 20 Januari 2026.
Taktik Arteta Buat Pemain Jadi seperti Anak Sekolah
Selain soal kurangnya menit bermain, Jorginho kemudian berbicara soal taktik yang diterapkan Arteta di Arsenal.
Arsenal belakangan terkenal dengan taktik set-piece efektif yang memungkinkan mereka memuncaki klasemen sementara Liga Inggris 2025-2026.
Jorginho menyamakan taktik Arteta dengan pekerjaan rumah anak sekolah yang memiliki nilai pasti.
“Memang terasa seperti pekerjaan rumah, itulah kenyataannya. Tapi ketika Anda mengerjakan pekerjaan rumah dan kemudian menghadapi ujian, Anda mendapatkan hasil yang baik,” kata Jorginho.
“Saya pikir orang-orang sekarang menyadari pentingnya bola mati. Mengapa menjadi masalah untuk fokus dan lebih banyak berlatih pada hal itu, ketika Anda mendapatkan hasil yang membuat semua orang senang?” tanyanya.
Menurut Jorginho, kegemaran Arteta dengan taktik bola mati kemudian membuat Arsenal kehilangan identitas sebagai tim yang kerap memainkan sepak bola menyerang yang indah.
Jorginho mengingatkan bahwa terlalu fokus dengan data dapat mengurangi sisi indah dari sepak bola di tengah rasa lapar pendukung Arsenal soal gelar juara Liga Inggris.
"Tapi intinya, jika Anda hanya fokus pada hal ini, dan kemudian melupakan sisi sepak bola, tentu saja Anda tidak akan memiliki sepak bola yang indah," ungkapnya.
"Jadi saya pikir ini semua tentang keseimbangan. Mungkin, karena ketika Anda terlalu fokus pada hasil dan terlalu terfokus pada satu hal, yaitu bola mati sekarang, maka mungkin bagian lainnya, sepak bola, sedikit terlupakan, katakanlah."
"Tapi sepak bola selalu berevolusi,"imbuh Jorginho.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang