Perang Iran Buat Ekspor Mobil Cina Melonjak, EV Jadi Pilihan
Cina menjadi salah satu negara yang merasakan buah manis dari konflik Timur Tengah. Terutama saat harga minyak mentah dan BBM melambung.
Kemudian di beberapa negara sudah mengalami kelangkaan BBM. Membuat masyarakat harus mencari alternatif guna memenuhi kebutuhan mobilitas mereka.
Salah satunya dengan menggunakan mobil listrik dalam kegiatan sehari-hari. Sebab dinilai lebih relevan serta terjangkau.
Di tengah situasi yang ada, ekspor mobil Cina meningkat pesat. Mengutip ABC News, Minggu (12/04), kenaikan terjadi pada periode Maret 2026.

Pada bulan ketiga 2026, Tiongkok mengirimkan 748 ribu unit kendaraan roda empat. Diklaim meningkat dari Februari yang hanya 586 ribu unit.
Sementara ekspor mobil listrik maupun hybrid dari Cina disebut melonjak 140 persen pada Maret 2026, sebab di Februari hanya 363 ribu unit saja.
“Dampak konflik Iran belum sepenuhnya terlihat dalam data bulan Maret 2026, tetapi hal itu dapat bertindak sebagai pemicu,” ungkap Chris Liu, Analis Senior Omdia.
Liu menjelaskan bahwa BYD serta Geely berkontribusi cukup besar, dalam kenaikan ekspor mobil Cina di bulan lalu.
Apalagi mereka baru saja memperluas fasilitas produksi di luar Tiongkok. Membuat produk yang ditawarkan lebih beragam serta terjangkau.
“Kenaikan tajam harga bahan bakar mengubah hal itu (adopsi EV),” ia melanjutkan.
Selain itu sentimen positif juga tercermin di pasar modal, di mana saham BYD di Hong Kong menguat sekitar 3,1 persen pada Jumat (10/04) lalu.
Selanjutnya diikuti oleh Geely maupun Chery yang ikut bergerak naik. Menunjukkan mereka memiliki kinerja cukup positif pada Maret 2026.
Hal tidak jauh berbeda turut dilontarkan oleh Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal PCA. Ia menilai lonjakan harga BBM mendorong konsumen mencari alternatif lain.
Bahkan fenomena itu tampak pada peningkatan aktivitas di diler mobil baru di berbagai negara Asia beberapa waktu belakangan.
“Produsen mobil Cina dapat dengan cepat meningkatkan jangkauan global mereka selama krisis Selat Hormuz,” tutur Dongshu.
Berbanding Terbalik di Pasar Domestik
Kendati demikian, kondisi 180 derajat berbeda terjadi di Cina. Penjualan mobil listrik serta hybrid pada Maret hanya 848 ribu unit atau turun 14 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya.

Tekanan ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah Negeri Tirai Bambu yang mulai mengurangi dukungan, terkhusus pada program subsidi tukar tambah kendaraan.
Dampaknya terasa pada segmen mobil penumpang seperti sedan dan hatchback yang penjualannya, menyusut hingga seperempat dibanding sebelumnya.
Sekadar mengingatkan, harga minyak mentah dunia bergejolak setelah perang Iran, Israel dan Amerika Serikat pecah sejak akhir Februari 2026.