AS-Iran Setuju Gencatan Senjata, Selat Hormuz Akhirnya Dibuka Kembali

Donald Trump dan Mojtaba Khamenei
Donald Trump dan Mojtaba Khamenei

Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk melakukan gencatan senjata bersyarat selama dua minggu. Kesepakatan ini terjadi setelah adanya intervensi diplomatik mendadak yang dipimpin oleh Pakistan. Kesepakatan ini membatalkan ultimatum dari Donald Trump yang sebelumnya menuntut Iran untuk menyerah atau menghadapi kehancuran besar-besaran.

Pengumuman Trump soal gencatan senjata ini disampaikan kurang dari dua jam sebelum batas waktu yang ia tetapkan sendiri, yakni pukul 8 malam waktu AS, untuk melancarkan serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Rencana serangan tersebut sebelumnya telah diperingatkan oleh para ahli hukum internasional, sejumlah pejabat dari berbagai negara, hingga Paus, sebagai tindakan yang berpotensi masuk kategori kejahatan perang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Beberapa jam sebelumnya, Trump sempat menulis di Truth Social bahwa peradaban Iran akan hancur dalam semalam jika tidak terjadi kesepakatan.

 “Sebuah peradaban akan musnah malam ini, dan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Saya tidak ingin itu terjadi, tapi kemungkinan besar akan terjadi,” tulis dia dikutip dari laman The Guardian, Rabu 8 April 2026.

Bahkan, pesawat pengebom B-52 dilaporkan sudah dalam perjalanan menuju Iran sebelum akhirnya kesepakatan gencatan senjata diumumkan.

Namun pada Selasa malam, Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut berhasil dimediasi oleh Pakistan. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, disebut meminta masa damai selama dua minggu agar proses diplomasi bisa berjalan dengan semestinya.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa ia bersedia menghentikan serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Iran membuka Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman.

Selama dua minggu tersebut, Trump menyatakan keyakinannya bahwa AS dan Iran dapat merundingkan proposal 10 poin yang diajukan Teheran, yang nantinya bisa mengarah pada kesepakatan damai yang benar-benar tuntas.

“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah! Alasannya, kami sudah mencapai bahkan melampaui semua target militer, dan kini sudah sangat dekat dengan kesepakatan final terkait perdamaian jangka panjang dengan Iran, serta perdamaian di Timur Tengah,” tulis Trump.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tak lama kemudian mengonfirmasi bahwa Iran menyetujui gencatan senjata tersebut.

Ia menyatakan bahwa selama dua minggu, jalur aman di Selat Hormuz akan dibuka dengan koordinasi bersama angkatan bersenjata Iran.

Perubahan sikap yang mendadak ini memberi ruang bagi Trump untuk mundur dari konflik, setelah perang antara AS dan Iran berlangsung selama lima minggu tanpa tanda-tanda bahwa Teheran akan menyerah atau melepaskan kendalinya atas Selat Hormuz, jalur penting yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi dunia, yang saat ini lalu lintasnya hampir terhenti.

Israel juga dilaporkan akan menyetujui gencatan senjata dua minggu tersebut, menurut laporan Axios yang mengutip pejabat Israel. Gencatan senjata akan mulai berlaku begitu blokade di Selat Hormuz dihentikan.

Sebelumnya, Trump sempat menolak proposal 10 poin itu dengan menyebutnya tidak cukup baik. Namun selama lima minggu konflik, ia beberapa kali menetapkan tenggat waktu yang kemudian dibiarkan lewat begitu saja. Meski begitu, pada Selasa ia tetap menegaskan bahwa beberapa jam ke depan bisa menjadi salah satu momen paling penting dalam sejarah dunia yang panjang dan rumit, kecuali jika terjadi perubahan luar biasa dari kepemimpinan Iran yang lebih moderat.

Perwakilan Iran di PBB, Amir-Saeid Iravani, menyebut ancaman Trump sebagai hasutan menuju kejahatan perang bahkan berpotensi genosida.

Dalam sidang Dewan Keamanan PBB terkait Selat Hormuz, Iravani menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam menghadapi apa yang ia sebut sebagai kejahatan perang yang serius, dan akan menggunakan haknya untuk membela diri serta mengambil tindakan balasan yang seimbang.

Melalui juru bicaranya, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres juga mengingatkan bahwa menyerang infrastruktur sipil dilarang oleh hukum internasional. Namun Trump menyatakan pada hari yang sama bahwa ia tidak terlalu peduli jika disebut sebagai pelaku kejahatan perang.

Menjelang tenggat waktu Trump, Israel juga melancarkan serangan terhadap infrastruktur Iran. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa sebuah jembatan rel di kota Kashan menjadi salah satu target pertama yang dibom pada Selasa, dengan dua korban jiwa. Militer Israel menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari gelombang serangan besar yang menargetkan puluhan lokasi infrastruktur.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jembatan di atas jalur kereta dekat Karaj, barat laut Teheran, juga dilaporkan terkena serangan. Selain itu, pemadaman listrik terjadi di kota tersebut setelah gardu listrik dan jalur transmisi dibombardir. Jembatan di dekat Qom dan Tabriz juga dilaporkan ikut menjadi sasaran.

Di sisi lain, AS menyerang 50 target militer di Pulau Kharg, lokasi terminal utama ekspor minyak Iran. Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang kompleks petrokimia di Jubail, Arab Saudi, sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas petrokimia Iran pada malam sebelumnya.