Niat Salat Idul Fitri untuk Imam dan Makmum, Lengkap dengan Tata Caranya

Salat Idul Fitri merupakan ibadah yang menjadi penanda kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Ibadah ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol kembalinya manusia kepada kesucian atau fitrah.
Berikut adalah panduan lengkap mengenai hukum, tata cara, hingga hikmah di balik pelaksanaan Shalat Idul Fitri yang dirangkum dari Lirboyo.net.
Hukum Salat Idul Fitri
Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum Salat Idul Fitri adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Namun, terdapat perbedaan pandangan di kalangan mazhab. Sebagian ulama, seperti dalam Mazhab Hanafi, bahkan menyatakan bahwa hukumnya adalah wajib bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat.
Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari mengenai kebiasaan Rasulullah ﷺ:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ
Artinya: “Rasulullah ﷺ biasa keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju tanah lapang. Hal pertama yang beliau lakukan adalah salat. Kemudian beliau selesai dan berdiri menghadap manusia, sementara orang-orang tetap duduk di saf-saf mereka.” (HR. Bukhari).
Waktu untuk memulai Salat Idul Fitri adalah sejak matahari terbit setinggi tombak, atau sekitar 15 menit setelah matahari terbit (waktu dhuha). Batas akhir pelaksanaannya adalah sebelum masuknya waktu dzuhur atau saat matahari berada di tengah langit.
Tata Cara dan Niat Salat Idul Fitri
Berbeda dengan salat fardu, Salat Idul Fitri terdiri dari dua rakaat dengan tambahan takbir di setiap rakaatnya.
1. Niat Salat Idul Fitri
Sebelum memulai, berikut adalah lafal niat yang dapat dibaca:
Lafadz Niat Imam:
نَوَيْتُ صَلَاةَ عِيدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى
(Nawaitu ṣalāta ‘Īdil-Fiṭri rak‘ataini imāman lillāhi ta‘ālā)
Artinya: “Aku niat melaksanakan salat Idulfitri dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta‘ala.”
Lafadz Niat Makmum:
نَوَيْتُ صَلَاةَ عِيدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
(Nawaitu ṣalāta ‘Īdil-Fiṭri rak‘ataini ma’mūman lillāhi ta‘ālā)
Artinya: “Aku niat melaksanakan salat Idulfitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta‘ala.”
2. Prosedur Rakaat Pertama dan Kedua
Rakaat Pertama: Diawali dengan takbiratul ihram dan doa iftitah. Kemudian melakukan takbir sebanyak 7 kali. Di sela-sela takbir, disunnahkan membaca tasbih:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
(Subḥānallāh wal-ḥamdu lillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar).
Setelah itu membaca Al-Fatihah dan disunnahkan membaca surat Al-A’la.
Rakaat Kedua: Setelah berdiri dari sujud, dilakukan takbir sebanyak 5 kali. Dilanjutkan membaca Al-Fatihah dan disunnahkan membaca surat Al-Ghasyiyah, lalu ruku' hingga salam.
Khutbah Idul Fitri
Berbeda dengan Shalat Jumat, khutbah pada hari raya dilaksanakan setelah shalat selesai. Hal ini merujuk pada keterangan dari Jundub RA:
عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ: سَمِعْتُ جُنْدَبًا قَالَ :شَهِدْتُ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى يَوْمَ عِيدٍ، ثُمَّ خَطَبَ
Artinya: “Dari al-Aswad bin Qais, ia berkata: Aku mendengar Jundub berkata: 'Aku menyaksikan Nabi ﷺ melaksanakan salat pada hari raya, kemudian beliau berkhutbah'.” (HR. Bukhari).
Hikmah dan Makna Kembali ke Fitrah
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Idul Fitri adalah simbol kembalinya manusia kepada kesucian. Hari raya ini merupakan:
- Hari pengampunan dosa.
- Hari kembali kepada fitrah manusia.
- Hari pembuka lembaran baru kehidupan.
Perintah untuk mengagungkan Allah di hari raya ini juga tertuang dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Ayat tersebut menegaskan pentingnya menyempurnakan ibadah puasa dan bertakbir mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya agar kita menjadi hamba yang bersyukur.
Melalui Shalat Idul Fitri, setiap Muslim diharapkan mampu mendeklarasikan kemenangan jiwanya setelah melewati "madrasah" Ramadhan, sehingga dapat memulai kehidupan yang lebih baik dengan hati yang tersucikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang