Sejarah Takbiran dan Dalilnya, Tradisi Idul Fitri yang Berakar dari Kisah Nabi Ibrahim

takbiran, Sejarah Takbiran dan Dalilnya, Tradisi Idul Fitri yang Berakar dari Kisah Nabi Ibrahim

Takbiran menjadi amalan yang umum dilakukan umat Islam pada malam Hari Raya Idul Fitri. 

Berdasarkan perhitungan Muhammadiyah, 1 Syawal 1447 Hijriah akan jatuh pada besok Jumat (20/3/2026). Dengan demikian, hari ini Kamis (19/3/2026) sudah masuk malam takbiran.

Sementara pemerintah akan menetapkan 1 Syawal setelah menggelar sidang isbat pada petang nanti. 

Umat Islam mengumandangkan kalimat takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan. 

Tradisi ini juga berkembang luas di Indonesia, mulai dari takbir di masjid hingga pawai keliling.

Di balik praktik tersebut, takbiran memiliki dasar yang kuat dalam Al-Quran dan hadis.

Dalil takbiran dalam Al-Quran

Perintah bertakbir setelah Ramadan tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 yang berbunyi: 

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur." (QS Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menjadi dasar anjuran mengumandangkan takbir setelah menyelesaikan ibadah puasa.

Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dartim menjelaskan, ayat tersebut menjadi landasan pelaksanaan takbiran menjelang Idul Fitri.

"Jadi setelah selesai atau menyempurnakan hitungan bulan Ramadan atau berpuasa di bulan Ramadan, maka hari berikutnya mulailah untuk kumandangkan takbir," ujarnya, dikutip dari laman resmi UMS, Rabu (11/3/2026). 

Dalil takbiran dalam hadis

Selain Al-Qur’an, praktik takbiran juga didasarkan pada hadis.

Dalam riwayat disebutkan bahwa sahabat Nabi, Ibnu Umar, mengumandangkan takbir saat berangkat menuju tempat salat Id dan terus melakukannya hingga pelaksanaan salat dimulai.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia mengumandangkan takbir ketika berangkat menuju tempat salat Id hingga tiba di lokasi salat, dan terus bertakbir hingga imam datang.

Riwayat tersebut menyebutkan:

"Ia bertakbir dengan mengeraskan suaranya hingga sampai ke tempat salat, kemudian terus bertakbir sampai imam duduk." (HR asy-Syafi’i)

Hadis ini menunjukkan bahwa takbiran telah dilakukan sejak masa Rasulullah SAW dan para sahabat sebagai bagian dari syiar Idul Fitri.

Sejarah dan perkembangan takbiran

Dilansir dari , (27/3/2023), sejarah takbiran kerap dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, yang menjadi bagian penting dalam tradisi Islam.

Dalam kisah tersebut, Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk mengorbankan putranya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. 

Saat peristiwa itu berlangsung, Malaikat Jibril mengucapkan kalimat takbir yang kemudian diikuti oleh Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim.

Saat peristiwa itu berlangsung, Malaikat Jibril mengucapkan, "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar."

Ucapan tersebut kemudian disambut oleh Nabi Ismail, "Laa ilaaha illallah wallahu akbar."

Selanjutnya, Nabi Ibrahim menimpali, "Allahu Akbar walillahil hamd."

Rangkaian ucapan tersebut diyakini menjadi asal-usul lafal takbir yang dikenal umat Islam hingga kini.

Seiring perkembangan Islam, tradisi takbiran kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Indonesia sejak masuknya Islam ke Nusantara. 

Pada masa awal, takbiran dilakukan di masjid dan ruang-ruang publik seperti alun-alun.

Dalam perkembangannya, masyarakat mulai merayakan takbiran dengan berbagai cara, seperti pawai obor, arak-arakan, hingga penggunaan pengeras suara dan media digital.

Meskipun bentuknya beragam, esensi takbiran tetap merujuk pada anjuran untuk mengagungkan Allah sebagai bentuk rasa syukur setelah Ramadan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang