Iran Rayakan Idul Fitri Sabtu Besok, Macron Serukan Gencatan Senjata
Iran mengumumkan hari terakhir bulan suci Ramadhan akan jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026, dan hari raya Idul Fitri dimulai pada hari berikutnya, demikian dilaporkan televisi pemerintah.
Tahun ini, hari terakhir Ramadhan bertepatan dengan Nowruz, tahun baru Persia yang dirayakan di Iran pada ekuinoks musim semi.
Kantor pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengatakan bahwa, setelah pengamatan bulan, "besok (red-hari ini), Jumat, akan menjadi hari ke-30 bulan suci Ramadhan," diikuti oleh hari raya Idul Fitri yang menandai berakhirnya masa puasa.
Pengumuman tersebut juga digaungkan di Irak, yang juga memiliki mayoritas Syiah, oleh ulama Syiah terkemuka negara itu, Ayatollah Ali Al-Sistani.
Khamenei diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran bulan ini untuk menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dibunuh dalam serangan udara pada awal perang AS-Israel melawan republik Islam tersebut, yang oleh Iran disebut sebagai "perang Ramadan."
Waktu pelaksanaan hari raya Idul Fitri ditentukan berdasarkan penampakan bulan sabit, sesuai dengan kalender lunar Muslim. Sementara Idul Fitri di sebagian negara Teluk jatuh pada Jumat 19 Maret 2026, seperti Arab Saudi, UEA dan Qatar.
Tahun ini, hari raya tersebut datang di tengah perang Iran. Negara-negara di seluruh Timur Tengah telah terpengaruh oleh konflik tersebut, diserang dan tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya.
Serukan Gencatan Senjata
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan gencatan senjata di Timur Tengah selama hari raya keagamaan, sebagai upaya baru untuk menyelesaikan konflik Iran melalui negosiasi.
"Saat kawasan ini memasuki musim hari raya keagamaan, saya pikir semua orang harus tenang dan operasi militer harus dihentikan setidaknya selama beberapa hari untuk memberikan kesempatan lain untuk negosiasi," kata Macron menjelang KTT para pemimpin Uni Eropa.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, menyebabkan kerusakan dan korban sipil serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Awalnya, AS dan Israel mengklaim serangan "preemptif" mereka diperlukan untuk melawan ancaman yang dirasakan dari program nuklir Iran, tetapi mereka segera memperjelas bahwa mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.