Panduan Lengkap Sunah Idul Fitri: Dari Adab Berpakaian hingga Rute Perjalanan

Panduan Lengkap Sunah Idul Fitri: Dari Adab Berpakaian hingga Rute Perjalanan

Menjelang satu Syawal, pusat perbelanjaan biasanya berubah menjadi lautan manusia.

Fenomena ini didorong oleh "tradisi tak tertulis" yang seolah mewajibkan setiap orang untuk mengenakan baju baru saat hari raya Idul Fitri.

Namun, jika menilik lebih dalam khasanah sunah dan literatur Islam, esensi Idul Fitri bukanlah tentang seberapa mahal label harga pakaian, melainkan tentang penghormatan terhadap hari kemenangan itu sendiri.

Islam memang menganjurkan umatnya untuk berpenampilan rapi, bersih, dan harum saat menghadiri shalat Id sebagai bentuk syukur dan pengagungan terhadap syiar Allah.

Nabi Muhammad SAW pun memberikan teladan dalam berpakaian yang elok namun tetap bersahaja.

Makna "Pakaian Terbaik" dalam Hadis

Berdasarkan riwayat hadis, Rasulullah SAW selalu memilih pakaian yang bagus secara estetika pada hari raya. Hal ini tercantum dalam riwayat Imam asy-Syafi'i:

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ يَلْبَسُ بُرْدَ حِبَرَةٍ فِيْ كُلِّ عِيْدٍ

“Dari Ja‘far Ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya (dilaporkan) bahwa Nabi SAW selalu memakai wool (burdah) bercorak [buatan Yaman] pada setiap Id.” (HR. asy-Syafi‘i, No. 441).

Perlu digarisbawahi bahwa burdah bercorak dari Yaman pada masa itu adalah pakaian yang indah dan rapi, namun tetap dalam batas kewajaran. Kesalahpahaman yang sering muncul di masyarakat adalah menyamakan kata “terbaik” dengan “terbaru”.

Cucu Rasulullah SAW, Al-Hasan, menyampaikan perintah kakeknya mengenai persiapan hari raya:

عَنِ اْلحَسَنِ السِّبْطِ قَالَ: أَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْ العِيْدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ ماَ نَجِدُ وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ ماَ نَجِدُ… وَأَنْ نُظْهِرَ التَّكْبِيْرَ وَالسَّكِيْنَةَ وَاْلوٍقَارَ

“Diriwayatkan dari al-Hasan cucu Rasulullah SAW, ia mengatakan: Kami diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk pada dua hari raya [Idul Fitri dan Idul Adha] memakai pakaian kami terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada… dan supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan.” (HR. Al-Hakim).

Redaksi "terbaik yang ada" (ajwada ma najidu) mengandung makna kelenturan. Jika pakaian terbaik yang dimiliki adalah baju lama yang masih bersih dan layak, maka hal itu sudah memenuhi sunnah tanpa harus memaksakan diri membeli baju baru demi pamer kemewahan.

Adab Keberangkatan dan Rute Perjalanan

Selain penampilan, Islam juga mengatur adab perjalanan menuju tempat salat Id. Umat Islam dianjurkan untuk berjalan kaki, sesuai dengan keterangan Ali bin Abi Thalib:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَأَنْ تَأْكُلَ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ

“Diriwayatkan dari Ali Ibnu Abi Thalib ia berkata: Merupakan sunnah bahwa engkau keluar untuk shalat Id dengan berjalan kaki dan makan sesuatu sebelum keluar.” (HR. at-Tirmidzi).

Tak hanya itu, Rasulullah SAW juga mencontohkan untuk mengambil rute perjalanan yang berbeda saat berangkat dan pulang. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْعِيدِ رَجَعَ فِي غَيْرِ الطَّرِيقِ الَّذِي أَخَذَ فِيهِ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW apabila keluar pergi shalat Id, beliau kembali dengan melalui jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi.” (HR. Ibnu Majah).

Perubahan rute ini bertujuan untuk memperluas jangkauan silaturahmi agar jamaah dapat bertegur sapa dengan lebih banyak orang, sekaligus menyebarkan keberkahan hari raya ke berbagai sudut wilayah.

Aturan Makan: Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha

Salah satu poin krusial yang membedakan Idul Fitri dengan Idul Adha adalah anjuran makan. Pada Idul Fitri, seorang muslim dituntunkan untuk makan pagi terlebih dahulu sebelum berangkat salat sebagai simbol bahwa masa puasa Ramadan telah berakhir.

Dalam riwayat Anas bin Malik disebutkan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ … وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

“Diriwayatkan dari Anas Ibnu Malik bahwa ia berkata: Adalah Rasulullah SAW tidak pergi ke salat Idulfitri sebelum beliau makan beberapa kurma… dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.” (HR. al-Bukhari).

Sebaliknya, pada Idul Adha, umat Islam disunnahkan untuk menunda makan hingga salat selesai dilaksanakan. Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat Abdullah bin Buraidah:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلاَ يَطْعَمُ يَوْمَ اْلأَضHَى حَتَّى يُصَلِّيَ

“Diriwayatkan dari ‘Abdullah Ibnu Buraidah dari ayahnya ia berkata: Rasulullah SAW pada hari Idul Fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul Adha tidak makan sampai shalat lebih dahulu.” (HR. at-Tirmidzi).

Secara teologis, makan sebelum salat Idul Fitri adalah penegasan hukum bahwa berpuasa pada hari tersebut adalah haram.

Esensi Idul Fitri adalah pernyataan syukur (tasyakkur) dan pengagungan asma Allah (takbir). Kerapian, pakaian terbaik, dan wangi-wangian yang dikenakan hanyalah "bungkus" luar yang mencerminkan kebersihan kalbu setelah ditempa selama Ramadan.

Anjuran tampil elok harus tetap dibarengi dengan ketenangan (sakinah) dan kekhidmatan (wiqar), bukan sebagai ajang pamer status sosial.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang