Pejabat AS: Iran Diduga Mulai Tebar Ranjau Laut di Selat Hormuz

Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran
Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran

Iran diduga tengah bersiap mengerahkan ranjau laut di Selat Hormuz untuk semakin mengganggu jalur pelayaran penting di wilayah itu. Hal ini disampaikan sejumlah pejabat Amerika Serikat kepada CBS News.

Para pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya itu mengatakan kepada CBS News bahwa Iran menggunakan kapal-kapal kecil yang masing-masing mampu membawa dua hingga tiga ranjau untuk menebarkannya di selat itu. Jumlah pasti stok ranjau laut Iran tidak diketahui secara terbuka, namun berbagai perkiraan selama bertahun-tahun menyebut angkanya berkisar antara 2.000 hingga 6.000 unit. Ranjau tersebut sebagian besar diproduksi oleh Iran, China, atau Rusia.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, melalui akun media sosialnya Truth Social, Presiden AS Donald Trump pada Selasa sore waktu setempat mengingatkan Iran untuk menyingkirkan ranjau laut tersebut.

“Jika Iran telah menebar ranjau di Selat Hormuz meskipun kami belum menerima laporan mengenai hal itu kami ingin ranjau tersebut segera disingkirkan, SEGERA!,” tulis dia.

Ia juga mengancam akan membalas Iran lebih kejam dari sebelumnya jika negara tersebut mengerahkan ranjau laut di selat Hormuz.

“Jika karena alasan apa pun ranjau benar-benar dipasang dan tidak segera disingkirkan, konsekuensi militer bagi Iran akan berada pada tingkat yang belum pernah terlihat sebelumnya. Sebaliknya, jika mereka mencabut apa pun yang mungkin sudah dipasang, itu akan menjadi langkah besar ke arah yang benar,” kata dia.

Tiga belas menit kemudian melalui media sosialnya Trump mengklaim telah menyerang dan menghancurkan 10 kapal penebar ranjau yang tidak aktif. Operasi ini pun kata dia akan terus berlanjut.

 “Saya dengan senang hati melaporkan bahwa dalam beberapa jam terakhir kami telah menyerang dan sepenuhnya menghancurkan 10 kapal atau perahu penebar ranjau yang tidak aktif, dan operasi akan terus berlanjut,”tulis Trump.

Sementara itu, CNN pada Selasa melaporkan bahwa Iran telah mulai menebar ranjau di selat tersebut.

Sehari sebelumnya, Trump juga telah memperingatkan Iran mengenai konsekuensi jika negara itu menghentikan arus pelayaran komersial di Selat Hormuz.

“Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras dari serangan yang sudah mereka terima sejauh ini,” tulis dia.

Dalam konferensi pers di Pentagon pada Selasa pagi, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine mengatakan U.S. Central Command yang mengawasi operasi militer terhadap Iran terus memburu dan menyerang kapal penebar ranjau serta fasilitas penyimpanan ranjau Iran.

Sebagai informasi, terletak di pintu masuk Teluk Persia, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Kapal tanker yang mengangkut minyak mentah dari negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab harus melewati jalur laut sempit ini untuk mencapai pasar global.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi selat tersebut, menjadikannya sangat vital bagi kelancaran distribusi energi global. Gangguan kecil sekalipun di jalur ini bisa berdampak luas terhadap harga minyak dan perekonomian dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada masa yang dikenal sebagai Perang Tanker bagian dari Perang Iran–Irak pada 1980-an Iran kerap menebar ranjau laut di sepanjang jalur pelayaran utama yang digunakan kapal tanker minyak. Tahun lalu, Reuters melaporkan bahwa militer Iran memuat ranjau laut ke sejumlah kapal di Teluk Persia, yang meningkatkan ketegangan antara Washington dan Teheran setelah operasi udara Israel terhadap Iran dalam Perang 12 Hari antara Israel dengan Iran.

Seiring konflik yang terus berlangsung, sejumlah perusahaan asuransi maritim besar mulai menarik diri. Perusahaan seperti NorthStandard, London P&I Club, dan American Club memperingatkan akan menangguhkan perlindungan asuransi bagi kapal yang beroperasi di perairan Iran dan sebagian wilayah Teluk, karena meningkatnya risiko kapal-kapal terseret dalam konflik tersebut, menurut laporan CBS News pekan lalu.