Sulit Tidur hingga Mudah Marah, Ini Tanda Trauma Setelah Bencana

trauma setelah bencana, tekanan mental, Sulit Tidur hingga Mudah Marah, Ini Tanda Trauma Setelah Bencana, Tanda fisik yang sering muncul, Perubahan emosi setelah bencana, Gangguan pada pikiran dan konsentrasi, Perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, Penting mengenali tanda-tanda trauma

Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat memicu tekanan mental pada orang yang mengalaminya.

Psikolog menyebut trauma setelah bencana sering muncul dalam bentuk gangguan fisik, emosi, hingga perubahan perilaku yang tidak selalu disadari.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan trauma tidak selalu terlihat dari seseorang yang menangis atau terlihat sangat sedih. Menurut dia, tekanan psikologis setelah bencana dapat muncul dalam berbagai tanda yang lebih halus.

“Trauma tidak selalu terlihat dari tangisan,” kata Danti saat dihubungi Minggu (8/3/2026).

Karena itu, penting untuk mengenali berbagai tanda tekanan mental yang bisa muncul setelah seseorang mengalami atau hidup di wilayah yang sering dilanda bencana.

Tanda fisik yang sering muncul

Tekanan mental setelah bencana sering kali muncul dalam bentuk keluhan fisik. Kondisi ini bisa terjadi meskipun seseorang tidak memiliki penyakit tertentu.

Menurut Danti, beberapa tanda fisik yang perlu diperhatikan antara lain gangguan tidur atau insomnia, sakit kepala yang muncul berulang, serta gangguan pencernaan tanpa sebab medis yang jelas.

Gejala tersebut dapat muncul karena tubuh terus berada dalam kondisi siaga setelah mengalami peristiwa yang menegangkan.

Perubahan emosi setelah bencana

trauma setelah bencana, tekanan mental, Sulit Tidur hingga Mudah Marah, Ini Tanda Trauma Setelah Bencana, Tanda fisik yang sering muncul, Perubahan emosi setelah bencana, Gangguan pada pikiran dan konsentrasi, Perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, Penting mengenali tanda-tanda trauma

Ilustrasi marah. Psikolog menjelaskan trauma setelah bencana tidak selalu terlihat jelas, tetapi dapat muncul melalui gangguan tidur, perubahan emosi, hingga kesulitan berkonsentrasi.

Selain gejala fisik, tekanan mental juga dapat terlihat dari perubahan emosi seseorang.

Danti menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami trauma bisa menjadi lebih mudah marah atau merasa sangat sensitif terhadap hal-hal kecil.

Dalam beberapa kasus, seseorang juga dapat mengalami mati rasa secara emosional atau merasa bersalah karena selamat dari bencana yang menimpa orang lain.

Perasaan tersebut dikenal sebagai survivor’s guilt, yaitu rasa bersalah yang muncul karena seseorang merasa tidak pantas selamat ketika orang lain mengalami kerugian atau kehilangan.

Gangguan pada pikiran dan konsentrasi

Trauma juga dapat memengaruhi cara seseorang berpikir. Kondisi ini biasanya muncul dalam bentuk kesulitan berkonsentrasi atau pikiran yang sering melayang.

Menurut Danti, orang yang mengalami tekanan mental setelah bencana juga bisa terus memikirkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.

Pikiran seperti ini dikenal sebagai intrusive thoughts, yaitu pikiran yang muncul berulang tanpa bisa dikendalikan.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa sulit fokus pada aktivitas sehari-hari.

Perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari

Selain perubahan fisik, emosi, dan pikiran, trauma juga dapat terlihat dari perubahan perilaku.

Beberapa orang mungkin mulai menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka menjadi lebih jarang berinteraksi dengan orang lain.

Di sisi lain, ada juga orang yang justru menjadi sangat protektif terhadap anggota keluarga karena takut kehilangan orang yang mereka sayangi.

Perubahan perilaku tersebut merupakan salah satu cara tubuh dan pikiran berusaha melindungi diri setelah mengalami pengalaman yang menegangkan.

Penting mengenali tanda-tanda trauma

Danti menekankan bahwa memahami tanda tekanan mental setelah bencana merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan psikologis.

tanda tersebut dikenali sejak awal, seseorang dapat mencari dukungan dari keluarga, lingkungan, atau tenaga profesional.

Pemahaman ini juga membantu masyarakat menyadari bahwa reaksi emosional setelah bencana adalah hal yang wajar dan dapat dialami oleh siapa saja.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang