Mengapa Lebih Mudah Marah ke Orang Terdekat daripada ke Orang Asing?
Apakah pasangan atau anggota keluargamu sering jadi “tempat pembuangan emosi”? Jika kamu merasa lebih sering bersikap tidak sabar atau mudah marah kepada orang terdekat. Sementara kepada orang asing justru bisa lebih ramah, penyebabnya ternyata lebih berkaitan dengan cara kerja otak daripada sekadar soal sikap.
Membahas dilema ini dan alasan mengapa kita sering lebih toleran pada orang asing seperti rekan kerja, coach relationship Kyle Cox, yang kerap membagikan wawasan soal masalah relasi, pada postingan 25 Agustus mengungkap tiga alasan mengapa hal ini bisa terjadi seperti dilansir dari laman Hindustantimes, Selasa 30 September 2025.
1. Uji Rasa Aman secara Emosional
Cara otak kita bekerja berbeda tergantung dengan siapa kita berinteraksi. Kyle menjelaskan bahwa otak akan lebih santai bersama orang yang kita percayai.
“Otakmu tahu orang-orang ini tidak akan meninggalkanmu, jadi ia menurunkan ‘topeng sosial’-nya. Dengan orang asing, korteks prefrontal tetap waspada penuh, menyaring setiap hal. Dengan orang terdekat, otakmu rileks, emosi mentah pun keluar. Kamu bukan jahat, kamu hanya ‘tanpa filter’,” kata dia.
Rasa percaya ini begitu dalam hingga kamu tahu ucapanmu tidak akan membuat mereka menjauh. Sebaliknya, dengan orang asing, otak tetap berada di zona aman yaitu mode sopan. Pikiran pun tersaring sebagai bentuk perlindungan diri dari penilaian orang lain.
2. Penumpukan Pemicu karena Kedekatan
Kyle juga menyinggung konsep yang ia sebut proximity trigger accumulation atau penumpukan pemicu karena kedekatan. Ini seperti perpustakaan kecil yang disimpan otak.
“Setiap gangguan kecil dari seseorang yang kamu temui setiap hari tersimpan di amigdala. Otakmu membangun perpustakaan berisi ribuan kejengkelan kecil, itulah mengapa suara kunyahan pasangan bisa membuatmu naik darah, tapi suara kunyahan orang asing tidak. Otakmu sudah menumpuk ribuan momen serupa, menciptakan ‘bunga majemuk’ emosi,” kata dia.
Karena lebih sering bersama orang terdekat, otak menyimpan detail kecil berulang kali. Maka, hal sepele yang dilakukan pasangan bisa lebih cepat memicu kemarahan dibandingkan jika dilakukan orang asing yang baru sekali bertemu.
3. Kadang Bukan Soal Marah
Jika kamu merasa bersalah karena lebih sering meluapkan emosi kepada orang terdekat, Kyle mengungkap bahwa otak sebenarnya menjadikan mereka sebagai tempat aman untuk melepas stres.
Ia mengatakan, bertengkar dengan seseorang yang aman rasanya lebih lega daripada memendam kekacauan di dalam.
”Kamu tidak benar-benar marah pada mereka, kamu menggunakan mereka sebagai penyalur emosi. Itulah sebabnya setelah bertengkar kamu merasa lebih dekat, karena sistem sarafmu menggunakan mereka untuk menenangkan diri, lalu menghadiahi kalian dengan bahan kimia pengikat,” ungkap dia.
Dengan kata lain, pertengkaran justru bisa menjadi cara otak melepaskan tekanan dalam ruang yang aman. Setelah semua emosi keluar, biasanya muncul rasa tenang sekaligus kedekatan yang lebih erat dengan orang yang kita cintai.
Lebih mudah marah pada pasangan atau keluarga bukan berarti kamu buruk, melainkan cara otak merespons rasa aman, kedekatan, dan kebutuhan untuk melepaskan stres. Menyadari hal ini bisa membantu kita lebih bijak dalam mengelola emosi agar hubungan tetap sehat.