Ayah Baru Mudah Marah Setelah Anak Lahir? Bisa Jadi Gejala Depresi Pascapersalinan

depresi pascapersalinan, Ayah Baru Mudah Marah Setelah Anak Lahir? Bisa Jadi Gejala Depresi Pascapersalinan, Gejala yang patut diwaspadai, Mengapa pria bisa megalami depresi pascapersalinan?, Faktor pendorong non-hormonal, Cara penanganan yang tepat

Masyarakat umumnya mengaitkan sindrom baby blues dan depresi pascapersalinan pada perempuan. Padahal, ayah baru juga memiliki risiko.

Bahkan, depresi pascapersalinan paternal ini sangat umum terjadi. Riset di Journal of the American Medical Association mencatat bahwa sekitar 10 persen ayah menderita depresi sebelum atau sesaat setelah anaknya lahir.

Depresi pascapersalinan pada ayah

Gejala yang patut diwaspadai

Pria penderita kondisi kesehatan mental ini sering terlihat pemarah, gampang tersinggung, atau agresif. Hal ini kerap mengejutkan karena gejala depresi selalu identik dengan kesedihan maupun tangisan.

"Pria dengan depresi dapat disalahartikan sebagai pemarah, mudah tersinggung, atau 'rewel'. Ekspektasi dari banyak orang adalah bahwa depresi muncul sebagai kesedihan. Dan meskipun bisa, tidak selalu begitu," terang psikolog Adam Borland, PsyD, dilansir dari Cleveland Clinic, Rabu (18/3/2026).

Gejala lainnya terkait depresi pascapersalinan pada ayah meliputi perasaan frustasi, putus asa, sinis, hilangnya minat pada hobi dan pekerjaan, bekerja terlalu lama, serta menjauhi keluarga.

Penderita juga kerap merasa sedih, kewalahan, kekurangan energi, kelelahan, dan sulit fokus.

Depresi parah bisa memicu niat melukai diri sendiri.

Mengapa pria bisa megalami depresi pascapersalinan?

Penyebab utamanya sebagian bersifat biologis dan sebagian lagi akibat perubahan dinamika hubungan usai kelahiran.

Borland mengatakan, kondisi ini bukanlah indikasi bahwa kamu tidak mencintai bayi, pasangan, maupun kehidupan barumu. Ini murni reaksi tubuh dan pikiran terhadap situasi kacau serta penuh tekanan di bulan-bulan awal merawat bayi.

"Ketika menjadi orangtua, hidupmu berubah dalam sekejap. Bahkan, orangtua yang paling berbakti pun mengalami depresi pascapersalinan. Ini bukan cerminan dirimu sebagai orangtua atau seseorang. Ini tidak berarti kamu adalah 'ayah yang buruk'. Dan itu tidak berarti kamu akan merasa seperti ini selamanya," jelas Borland.

Kehadiran bayi memicu penurunan testosteron pria pascapersalinan. Peneliti menduga, ini adalah bentuk evolusi agar ayah terikat dan merawat bayinya. Sayangnya, testosteron rendah memiliki kesamaan gejala dengan depresi.

"Kita tahu banyak tentang bagaimana hormon wanita berubah selama dan setelah kehamilan. Tetapi pria juga mengalami perubahan kadar hormon mereka setelah seorang anak lahir," lanjut Borland.

Faktor pendorong non-hormonal

depresi pascapersalinan, Ayah Baru Mudah Marah Setelah Anak Lahir? Bisa Jadi Gejala Depresi Pascapersalinan, Gejala yang patut diwaspadai, Mengapa pria bisa megalami depresi pascapersalinan?, Faktor pendorong non-hormonal, Cara penanganan yang tepat

Gejala depresi pada laki-laki.

Memiliki bayi mengubah segalanya, sehingga dapat memicu kecemasan hingga depresi. Ada beberapa penyebab potensial non-hormonal. Pertama adalah merasa tersisih.

Ibu umumnya cepat terikat dengan bayi, sedangkan ayah butuh waktu. Hal wajar ini kerap memicu keraguan peran. Kedua adalah tekanan mencari nafkah yang memicu stres finansial.

Ketiga adalah rasa bersalah akibat ekspektasi budaya, bahwa ayah baru wajib sangat gembira. Jika belum merasakannya, tak masalah, tetapi sering memicu perasaan bersalah.

Keempat adalah kurang tidur kronis karena selalu terjaga di malam hari, dan kelima, riwayat medis depresi sebelumnya atau memiliki pasangan dengan gejala depresi pascapersalinan.

Cara penanganan yang tepat

Depresi pascapersalinan pada pria dapat pulih lewat obat-obatan, terapi, dan perawatan diri. Namun, jika ada keinginan untuk melukai diri, segera cari bantuan profesional. Untuk gejala ringan, kamu juga bisa melakukan langkah serupa.

"Pria sering diajarkan bahwa mencari dukungan untuk kesehatan mental mereka adalah tanda kelemahan, tapi itu tidak benar," tegas Borland.

"Dan jika kamu hidup dengan depresi pascapersalinan, itu adalah langkah terbaik yang bisa kau ambil untuk merawat diri sendiri dan keluargamu dengan sebaik-baiknya," sambung dia.

Untuk menjaga suasana hati, Borland menyarankan perawatan diri dasar di sela mengurus bayi, seperti makan sehat, berolahraga, dan beristirahat. Meski sulit, tidur siang sesaat bisa mengubah perasaan menjadi lebih baik.

Kemudian, jauhi minuman keras, perjudian, dan perilaku berisiko. Bicarakan juga perasaanmu dengan pasangan, keluarga, kawan, atau siapapun yang akan mendengarkan tanpa penghakiman.

Borland menerangkan, adaptasi butuh waktu. Jadi, wajar jika emosi bergejolak. Namun, carilah bantuan bila gejalanya bertahan lebih dari tiga minggu.

"Tidak ada yang memalukan atau menganggapnya sebagai aib tentang depresi pascapersalinan pria. Menjadi ayah adalah pekerjaan baru yang sangat besar, dengan jam kerja yang panjang dan tanpa bayaran, dan kamu berhak mendapatkan dukungan," ucap dia.

"Meminta bantuan tidak berarti kamu tidak berdaya. Itu berarti kamu melakukan apa yang perlu kamu lakukan, sehingga kamu dapat menjadi pria terbaik, dan ayah terbaik, yang kamu bisa," pungkas Borland.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang