Kapan Puncak Musim Kemarau 2026? Ini Jadwal dan Wilayahnya Menurut BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau 2026 di Indonesia tidak terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah.
Waktu terjadinya puncak kemarau akan berbeda-beda bergantung pada karakteristik masing-masing zona musim.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan, fase awal musim kemarau diprediksi mulai berlangsung pada April 2026 di sejumlah wilayah.
"Awal musim kemarau bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau pada April di 114 zona musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen dari keseluruhan zona musim di Indonesia sejumlah 699," jelas Faisal dikutip dari kanal YouTube BMKG, Selasa (4/3/2026).
Ia menjelaskan, wilayah yang pertama kali memasuki musim kemarau adalah Nusa Tenggara.
Selanjutnya, kondisi kering tersebut akan bergerak ke arah barat secara bertahap hingga menjangkau wilayah lain di Indonesia.
Kapan Puncak Musim Kemarau 2026 di Indonesia?
BMKG memprakirakan puncak musim kemarau mulai terjadi pada Juli 2026 di sejumlah daerah lalu berlanjut ke wilayah lain pada bulan-bulan berikutnya.
Simak daftar wilayah yang mengalami puncak musim kemarau 2026 berikut ini:
Juli 2026 (12,6 persen ZOM):
- Sebagian Sumatera
- Kalimantan bagian tengah dan utara
- Sebagian kecil Jawa
- Sebagian kecil Nusa Tenggara Barat
- Sebagian kecil Nusa Tenggara Timur
- Wilayah utara Sulawesi Barat
- Wilayah barat Sulawesi Tengah
- Wilayah barat Sulawesi Utara
- Sebagian kecil Maluku
- Papua Barat bagian tengah
- Papua bagian timur.
Agustus 2026 (61,4 persen):
- Sumatera bagian tengah dan selatan
- Jawa bagian tengah hingga timur
- Sebagian besar Kalimantan
- Sebagian besar Sulawesi
- Bali dan Nusa Tenggara
- Sebagian Maluku
- Maluku Utara
- Pulau Papua.
September 2026 (14, persen):
- Sebagian Lampung
- Sebagian kecil Jawa
- Sebagian besar Nusa Tenggara Timur
- Sulawesi bagian utara dan timur
- Sebagian besar Maluku Utara
- Sebagian Maluku
- Sebagian kecil Pulau Papua.
Sifat Musim Kemarau 2026
Faisal menjelaskan, dibanding dengan normalnya, awal musim kemarau 2026 diprediksi maju atau datang lebih awal di 325 ZOM (46,5 persen).
Sementara itu, sebanyak 173 ZOM atau sekitar 24,7 persen mengalami musim kemarau sama dan 72 ZOM atau sekitar 10,3 persen wilayah mundur atau lebih lambat dari kondisi normal.
BMKG juga memprediksi, sebanyak 451 ZOM atau sekitar 64,5 persen ZOM mengalami sifat musim kemarau di bawah normal dan 245 ZOM atau sekitar 35,1 persen dalam kondisi normal.
Ada pula wilayah yang mengalami puncak musim kemarau di atas normal atau lebih basah sebanyak 3 ZOM atau sekitar 0,4 persen.
"Kami berharap informasi prediksi musim kemarau 2026 dapat menjadi panduan umum dalam penetapan perencanaan, langkah mitigasi, dan antisipasi serta kebijakan jangka panjang bagi berbagai sektor yang terdampak iklim," pungkas Faisal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang