Momen Penuh Emosional dalam Pemakaman Massal 165 Siswi Iran yang Tewas dalam Serangan Israel-AS

Prosesi pemakaman masal 165 siswi Iran
Prosesi pemakaman masal 165 siswi Iran

Iran menggelar upacara pemakaman massal untuk 165 siswi dan staf sekolah yang tewas pada Sabtu 28 Februari lalu dalam insiden serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap sebuah sekolah perempuan di kota Minab, Iran Selatan.

Televisi pemerintah Iran pada Selasa menayangkan ribuan warga memadati sebuah alun-alun di Minab. Para pria mengibarkan bendera Republik Islam Iran, sementara para perempuan yang mengenakan cadar hitam berdiri terpisah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dari atas panggung, seorang perempuan yang mengaku sebagai ibu dari Atena mengangkat selembar poster berisi foto-foto korban yang ia sebut sebagai bukti kejahatan Amerika.  

“Mereka wafat dalam keadaan syahid,” kata dia dikutip dari laman Al Jazeerah, Selasa 3 Maret 2026.

Massa kemudian meneriakkan slogan mengecam kebijakan Amerika Serikat dan Israel serta berseru, “Tidak akan menyerah.”

Sebagai informasi, Sabtu 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan bersama dan menyasar Iran. Peristiwa tersebut disebut sebagai insiden paling mematikan sejauh ini dalam konflik melawan Teheran, dengan warga sipil menjadi sasaran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Senin menuduh Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas kematian para siswi tersebut.

“Ini adalah liang kubur yang digali untuk lebih dari 160 gadis muda tak berdosa yang tewas dalam pengeboman sekolah dasar oleh Amerika dan Israel. Tubuh mereka hancur berkeping-keping. Inilah kenyataan dari ‘penyelamatan’ yang dijanjikan oleh Trump. Dari Gaza hingga Minab, orang-orang tak bersalah dibunuh dengan kejam,” tulis Araghchi di platform X, disertai foto deretan kuburan yang baru digali.

Pemerintah Teheran menyerukan tindakan dan solidaritas internasional setelah sejumlah rumah sakit dan sekolah terdampak serangan udara Amerika Serikat dan Israel, di tengah berlanjutnya peluncuran rudal dan drone oleh Iran ke berbagai wilayah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin mengatakan bahwa kedua negara tersebut terus menyerang kawasan permukiman tanpa pandang bulu, tidak mengindahkan rumah sakit, sekolah, fasilitas Bulan Sabit Merah, maupun situs budaya.

AS bantah tahu soal serangan

Insiden penyerangan terhadap sekolah perempuan di Iran ini menuai kecaman dari badan pendidikan dan kebudayaan PBB, UNESCO, serta aktivis pendidikan peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB mendesak dilakukan penyelidikan yang cepat, independen, dan menyeluruh atas обстоятельan serangan tersebut. Juru bicara HAM PBB, Ravina Shamdasani, mengatakan bahwa kantor Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, belum memiliki cukup informasi untuk memastikan apakah serangan itu termasuk kejahatan perang.

“Ini benar-benar mengerikan,” ujar Shamdasani.

Ia menambahkan, gambar-gambar yang beredar di media sosial menangkap gambaran nyata kehancuran, keputusasaan, serta kebrutalan dan ketidakmasukakalan konflik ini.

Dalam hukum humaniter internasional, menyerang secara sengaja institusi pendidikan, rumah sakit, atau bangunan sipil lainnya merupakan kejahatan perang.

“Saya akan menyerahkan pertanyaan itu kepada Departemen Pertahanan jika memang itu serangan kami, karena mereka yang akan menyelidikinya,” kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, kepada wartawan pada Senin saat ditanya mengenai insiden tersebut.

Rubio mengklaim Amerika Serikat tidak akan dengan sengaja menargetkan sekolah dalam serangan tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada akhir pekan lalu, Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan kepada sejumlah media bahwa mereka sedang meninjau laporan mengenai korban sipil akibat operasi militer yang sedang berlangsung.

Sementara itu, wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk urusan pembangunan perdamaian, Rosemary DiCarlo, pada Senin mengatakan bahwa ia mengetahui laporan dari Iran terkait korban jiwa dalam serangan tersebut, dan mencatat bahwa pejabat Amerika Serikat juga menyatakan tengah menelaah laporan itu.