Demo Besar-besaran di Iran Picu Kerusuhan, 7 Orang Tewas Puluhan Ditangkap
Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas di Iran seiring meningkatnya kekerasan dalam gelombang baru protes anti-pemerintah akibat krisis ekonomi Iran yang memasuki hari kelima pada Kamis, 1 Januari 2026. Bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan terjadi di sejumlah wilayah, memicu kekhawatiran atas eskalasi situasi keamanan.
Kantor Berita semi resmi, Fars melaporkan tiga orang yang disebut sebagai "perusuh" tewas saat mencoba menyerbu sebuah kantor polisi di provinsi Lorestan. Dalam insiden tersebut, 17 orang lainnya dilaporkan terluka.
Rekaman video yang beredar di media sosial — yang belum dapat diverifikasi secara independen — menunjukkan individu bertopeng membakar kendaraan dan melemparkan batu di sekitar lokasi kejadian di kota Azna, dengan suara tembakan terdengar di latar belakang.
Insiden di Azna menambah daftar korban tewas akibat bentrokan yang terus meningkat, sehingga jumlah kematian terkait protes mencapai setidaknya tujuh orang.
Media pemerintah melaporkan puluhan orang telah ditangkap terkait aksi demonstrasi tersebut. Pasukan keamanan dikerahkan dalam jumlah besar di kota-kota utama, sementara saksi mata menyebut penindakan lebih keras terjadi di wilayah pedesaan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Massoud Pezeshkian berupaya meredam situasi dengan melakukan dialog saat mengunjungi salah satu provinsi yang terdampak protes.
Kerusuhan dilaporkan meluas ke sejumlah wilayah lain. Kelompok hak asasi manusia Hengaw yang berbasis di Norwegia menyebut sedikitnya dua demonstran tewas di kota Lordegan, Iran bagian barat.
Fars juga mengonfirmasi dua kematian dalam bentrokan di kota tersebut, seraya menyebut para demonstran membakar ban dan menyerang petugas kepolisian.
Seorang pria lainnya dilaporkan tewas akibat tembakan di provinsi Isfahan, menurut para aktivis.
Radio pemerintah Iran melaporkan seorang anggota pasukan paramiliter Basij berusia 21 tahun tewas di kota Kuhdasht, Lorestan. Kepala kehakiman provinsi menegaskan para pelaku akan ditindak berdasarkan kebijakan "toleransi nol".
Namun, Hengaw membantah laporan resmi tersebut dan menyatakan korban bukan anggota Basij, melainkan warga sipil yang ditembak oleh pasukan keamanan.
Para aktivis, mengutip sumber yang mereka anggap terpercaya, menyebut korban tewas akibat tembakan di kepala dari jarak dekat, meski klaim ini tidak dapat diverifikasi secara independen.
Krisis Ekonomi Melilit Iran
Aktivis juga melaporkan kerusuhan serius di provinsi Fars, Chaharmahal dan Bakhtiari, serta Kermanshah. Di kota Marvdasht, massa turun ke jalan dengan membunyikan klakson kendaraan, sementara unit paramiliter menghadapi demonstran menggunakan kendaraan lapis baja dan sepeda motor.
Hingga kini, jumlah pasti peserta protes di seluruh Iran belum diketahui. Negara tersebut berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa.
Gelombang protes ini dipicu oleh krisis ekonomi, khususnya penurunan tajam nilai mata uang Iran pada Minggu lalu. Aksi awal bermula dari kalangan pedagang di Teheran, sebelum menyebar ke wilayah lain dan melibatkan berbagai kelompok sosial.
Organisasi mahasiswa, yang sebelumnya berperan besar dalam gerakan protes, juga menyerukan aksi demonstrasi. Ketidakpuasan publik telah terakumulasi selama bertahun-tahun akibat krisis ekonomi, terbatasnya prospek ekonomi, meningkatnya biaya hidup, dan pengetatan ruang politik.
Dalam kunjungannya ke provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, Presiden Pezeshkian memperingatkan bahaya perpecahan politik dan mengakui adanya kesalahan dalam kebijakan pemerintahannya.
Ia mengumumkan rencana menghapus subsidi bagi importir yang selama ini diuntungkan oleh nilai tukar bersubsidi, dan menyatakan dana tersebut seharusnya langsung disalurkan kepada masyarakat.
Dalam pernyataan yang dinilai tidak biasa, Pezeshkian menyebut negara dan sektor perbankan turut bertanggung jawab atas tingginya inflasi, yang menurutnya telah "menguras kantong masyarakat kurang mampu" dan melemahkan daya beli rakyat.
"Jika kita tidak menyelesaikan persoalan mata pencaharian rakyat, tempat kita adalah neraka," kata Pezeshkian, dikutip media Iran.