Nasib Yazid di Bukit Mongkrang Masih Jadi Misteri, SAR Sisir Tebing di Pos 3, Wanadri Terapkan Play Camp
Operasi pencarian hari ke-11 terhadap Yazid Ahmad Firdaus (26), pemuda asal Colomadu yang dilaporkan hilang di Bukit Mongkrang, Karanganyar, berakhir tanpa hasil pada Kamis (29/1/2026).
Tim SAR memfokuskan pencarian dengan menyisir area tebing di sekitar Pos 3 menggunakan teknik rappelling.
Langkah ini dilakukan berdasarkan indikasi aroma yang sebelumnya terdeteksi anjing pelacak K-9.
Hingga akhir operasi hari ke-11, keberadaan korban masih belum ditemukan sehingga upaya dilanjutkan di hari ke-12 pada Jumat, (30/1/2026).
SAR Sudah Cek Tebing di Pos 3
Pada operasi hari ke-11, Tim SAR telah berupaya menuruni area tebing di sekitar Pos 3 dengan metode vertical rescue untuk menjangkau medan yang tidak bisa diakses melalui jalur pendakian biasa.
Pencarian difokuskan pada titik yang sebelumnya terdeteksi sebagai sumber aroma oleh anjing pelacak.
Kasubsi Operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Tipe B Surakarta, Basuki, mengatakan indikasi awal memang mengarah ke sekitar Pos 3.
“Hasil K9 ada indikasi diduga sekira pos 3 dan hasil analisa sempat tercium aroma dan posisi di tebing jadi nggak bisa dijangkau,” kata Basuki, Kamis (29/1/2026).
Setelah dilakukan penurunan ke area tebing untuk memastikan sumber bau, hasilnya masih nihil.
“Sudah kami cek di sana, namun sumber bau berkurang,” kata dia.
Hingga penutupan operasi hari ke-11, pencarian tetap dilanjutkan dengan evaluasi metode serta pemantauan kondisi cuaca di kawasan Bukit Mongkrang.
Alasan Anjing Pelacak Tidak Diturunkan
Pada hari ke-11, tim SAR tidak lagi melibatkan anjing pelacak dalam proses pencarian. Keputusan ini diambil karena kendala teknis di lapangan.
Basuki menjelaskan, sumber aroma berada di lokasi vertikal berupa tebing jurang yang tidak dapat dijangkau anjing pelacak.
“Anjing pelacak tidak bisa menjangkau area sumber bau berasal, sehingga kami tak melibatkan anjing pelacak hari ini,” ujar Basuki.
Menurut dia, unit K-9 untuk sementara dikembalikan ke markas.
“Sehingga, saat ini anjing pelacak di sudah berada homebase mereka yaitu di Mapolda dan Mapolres Wonogiri,” kata Basuki.
Relawan Wanadri Perkuat Pencarian
Operasi pencarian juga diperkuat berbagai unsur relawan. Komunitas rescue hutan dan gunung asal Bandung, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri), ikut terlibat langsung dalam operasi di kawasan perbukitan sekitar Gunung Lawu.
Ketua Tim Opsar Wanadri, Badawi (55), mengatakan pihaknya mengerahkan satu tim berisi delapan personel untuk membantu pencarian.
“Kami dari Wanadri dari Bandung, ditugaskan membantu Suvivor Yazid yang diduga hilang dan melakukan penguatan terhadap institusi Barsarnas di Bukit Mongkrang,” kata Badawi, Kamis (29/1/2026) malam.
Ia menjelaskan, tim yang diterjunkan memiliki kemampuan vertical rescue dan mountain rescue serta dilengkapi peralatan standar operasi gunung-hutan.
“Kita sudah melakukan analisa peta bahwa bukit ini sangat khas, banyak sekali patahan-patahan dan kalau pelajari kronologi, diduga terjatuh dari titik tertentu,” ungkap Badawi.
Wanadri baru bergabung dalam operasi sejak Selasa (27/1/2026). Keterlambatan tersebut, menurut Badawi, karena organisasi tengah menjalankan agenda internal berskala besar.
“Kita baru hajat besar, sehingga kita belum bisa bergabung pada awal kejadian, kita baru operasi dua hari yang lalu,” kata dia.
Ilustrasi: Gapura selamat datang di Pendakian Bukit Mongkrang, Rabu (28/1/2026).
Wanadri Terapkan Metode Play Camp
Dalam pencarian, Wanadri menerapkan metode play camp, yakni teknik berkemah di titik-titik tertentu selama beberapa hari untuk memaksimalkan jangkauan pencarian.
“Jadi gini ada metode exploring rescue, menyikapi waktu dan cuaca yang ada sebaiknya unit yang ada melakukan play camp, Jadi kita bisa ontime mulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore dalam pencarian dan kelebihan ini kita menempatkan diri di daerah dicurigai, sehingga Wanadri dan teman dari tim yang lain ada yang sudah menggunakan metode ini,” ujar Badawi.
Metode tersebut dinilai efektif untuk operasi exploring rescue di medan pegunungan yang luas dan sulit dijangkau.
Badawi menambahkan, Wanadri yang berdiri sejak 1964 memang berfokus pada misi kemanusiaan di alam bebas.
“Jadi Wanadri, tugasnya kemanusiaan, yang salah satu tekatnya membantu menolong orang terutama yang terjadi di alam bebas. Kalau sudah berangkat sudah pasti keluarga, teman-teman dan organisasi, sebenarnnya ini penugasan sukarela,” pungkas dia.
Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul "SAR Sisir Tebing di Pos 3 Bukit Mongkrang Karanganyar, Nasib Yazid Ahmad Firdaus Masih Misteri" dan "Cari Pendaki Hilang di Mongkrang Karanganyar, Tim Rescue Gunung dari Bandung Pakai Metode Play Camp".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang