Dedi Mulyadi Rogoh Kocek Pribadi Rp 50 Juta Usai Sidak Masjid Ikon Puncak Bogor Terlihat Kumuh
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali melakukan inspeksi dadakan atau sidak, kali ini menyasar Masjid At-Taawun yang berada di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.
Masjid yang selama ini dikenal sebagai ikon religi dan salah satu tujuan wisata favorit di jalur Puncak tersebut justru dinilai tidak terawat dengan baik.
Kunjungan Dedi Mulyadi ke Masjid At-Taawun ini dibagikan melalui tayangan di kanal YouTube pribadinya, Rabu (28/1/2026).
Dalam video tersebut, Dedi secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi masjid, terutama di area luar seperti lahan parkir dan lingkungan sekitar yang terlihat kumuh dan kurang terkelola.
Apa yang Disoroti Dedi Mulyadi Saat Sidak?
Saat tiba di lokasi, Dedi Mulyadi langsung meninjau kondisi fisik masjid beserta area penunjangnya.
Ia menilai kondisi luar masjid tidak mencerminkan status Masjid At-Taawun sebagai aset Pemerintah Provinsi Jawa Barat sekaligus simbol religi di kawasan wisata Puncak.
Dedi menyoroti kondisi area parkir yang terlihat kotor dan tidak tertata rapi. Padahal, menurutnya, potensi pendapatan dari tiket parkir cukup besar.
Dari informasi yang diperolehnya di lapangan, pendapatan parkir Masjid At-Taawun mencapai sekitar Rp 900.000 per hari dan bahkan bisa menembus lebih dari Rp1 juta per hari saat akhir pekan.
“Rp 900.000 per hari, kalau minggu lebih ramai, tapi tempat parkirnya enggak diurus, dananya masuk ke mana?” tanya Dedi Mulyadi di hadapan pengelola masjid.
Ke Mana Aliran Dana Parkir Masjid?
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh pengurus masjid yang mendampingi Dedi. Mereka menyebutkan bahwa pengelolaan dana parkir disalurkan kepada pihak ketiga, yakni PT Perkebunan Nusantara (PTPN).
Meski mendapat penjelasan tersebut, Dedi Mulyadi tetap menyayangkan kondisi fisik masjid yang tidak terawat. Ia mengaku merasa malu karena Masjid At-Taawun merupakan aset milik Provinsi Jawa Barat.
“Aduh pak, ngerakeun pak. Gubernur Jawa Barat bukan begini tipenya,” ujar Dedi Mulyadi dengan nada kecewa.
Ia menilai kondisi tersebut tidak sebanding dengan predikat Masjid At-Taawun sebagai ikon religi di kawasan Puncak, bahkan jauh dari harapannya menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata religi kelas dunia.
Bagian Mana yang Dinilai Masih Terawat?
Di tengah kritik kerasnya, Dedi Mulyadi tetap mengapresiasi sejumlah bagian masjid yang masih terjaga kebersihannya.
Ia memuji kondisi area dalam masjid serta fasilitas toilet yang dinilai masih cukup bersih dan layak digunakan oleh jamaah.
Namun, ia menegaskan bahwa wajah luar masjid merupakan hal pertama yang dilihat pengunjung. Karena itu, area parkir dan lingkungan sekitar harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan kesan kumuh.
Dedi Mulyadi Rogoh Dana Pribadi Rp50 Juta
Sebagai bentuk kepedulian, Dedi Mulyadi menyatakan kesediaannya mengucurkan dana pribadi sebesar Rp50 juta untuk perbaikan awal Masjid At-Taawun.
Dana tersebut diminta untuk segera dimanfaatkan dalam pengecatan dan pembenahan fasilitas yang terlihat rusak.
Ia juga mendorong adanya koordinasi yang lebih solid antara pihak pengelola masjid, PTPN, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta dinas terkait agar pengelolaan masjid ke depan lebih transparan dan profesional.
Di akhir kunjungannya, Dedi Mulyadi menyampaikan permintaan maaf kepada pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) atas nada keras yang ia lontarkan.
Ia menegaskan bahwa kemarahannya semata-mata demi menjaga kebersihan, kenyamanan, dan martabat tempat ibadah.
“Apa yang saya sampaikan ini untuk kebaikan masjid, bukan untuk menyudutkan siapa pun,” kata Dedi.
Apa Rencana Penataan Kawasan Puncak ke Depan?
Dalam kesempatan yang sama, Dedi Mulyadi juga memaparkan rencana besar penataan kawasan Puncak yang berbasis restorasi ekologis.
Prinsip utamanya adalah pembangunan tidak boleh membuka lahan baru atau mengubah fungsi hutan dan perkebunan teh yang ada.
Fokus restorasi ekologis tersebut meliputi:
- Mengembalikan fungsi lingkungan dan menghijaukan area yang selama ini terlihat kumuh.
- Menata ulang pedagang kaki lima (PKL) agar tidak semrawut di pinggir jalan.
- Memindahkan PKL ke rest area atau kantong-kantong khusus.
Selain itu, Dedi juga mengungkap rencana pembangunan jalur pedestrian, gedung parkir terpusat, serta skywalk.
Fasilitas tersebut dirancang agar wisatawan tidak perlu menyeberang jalan utama yang rawan kecelakaan.
Tak hanya itu, Dedi Mulyadi turut mengkritik keberadaan papan reklame atau billboard yang dinilai tidak estetik dan menutupi keindahan alam Puncak.
Ia meminta agar ke depan bangunan di kawasan tersebut tidak lagi menggunakan atap beton yang berat dan tidak selaras dengan karakter lingkungan pegunungan.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Dedi Mulyadi Prihatin Masjid At-Taawun Puncak Bogor Tak Terawat, Kucurkan Dana Perbaikan Rp 50 Juta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang