Bali Fashion Tren 2025: dari Batik hingga Kerajinan Kulit Jadi Ikon

Bali Fashion Tren 2025
Bali Fashion Tren 2025

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bersama Indonesia Fashion Chamber (IFC) lewat Melalui program Beyond Beauty,   menghadirkan karya fesyen hasil kolaborasi desainer ternama dengan warga binaan dari 24 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia Agus Andrianto menegaskan bahwa program Beyond Beauty mencerminkan perubahan paradigma pemasyarakatan di Indonesia. Menurutnya, pemasyarakatan kini diarahkan sebagai ruang pembinaan yang memberi kesempatan kedua dan mempersiapkan warga binaan kembali berperan produktif di masyarakat.

“Kolaborasi ini bukan hanya tentang fashion atau produk. Ini tentang manusia, tentang harapan, dan tentang masa depan yang lebih baik bagi warga binaan pemasyarakatan,” ujar Agus saat membuka rangkaian kegiatan Bali Fashion Trend 2026, Onyx Park Resort, Ubud, Gianyar, Jumat 19 Desember 2025.

Fokus utama kolaborasi ini terletak pada pengembangan karya Nusantara agar mampu menjadi ikon fesyen masa kini. Batik tradisional, misalnya, tidak lagi tampil dalam pakem klasik semata, tetapi dipadukan dengan desain urban modern bergaya street wear. 

Sentuhan potongan kontemporer, permainan siluet, serta eksplorasi motif menjadikan batik relevan bagi generasi muda tanpa kehilangan identitas budaya.

Selain batik, anyaman, bordir, dan kerajinan kulit juga dikembangkan menjadi produk fesyen bernilai estetika tinggi dan memiliki daya saing komersial. 

Bersama para desainer Sofie, Lisa Fitria, dan Irmasari, warga binaan dilibatkan sebagai co-creator dalam proses kreatif industri fashion profesional. Karya-karya tersebut berasal dari berbagai lapas di antaranya Jambi, Bengkulu, Manado, Malang, Semarang, Pontianak, Sumenep, hingga Madiun.

Agus menilai, proses kolaboratif tersebut tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan identitas positif warga binaan. 

“Ketika karya mereka diapresiasi publik dan pasar, di situlah proses pemulihan harga diri dan kepercayaan diri benar-benar terjadi,” kata Agus.

Potensi karya Nusantara sebagai ikon fesyen kekinian juga tercermin dari respons pasar. Salah satu desainer, Sofie, mengungkapkan adanya permintaan awal dari buyer asal Prancis dan Malaysia. Minat ini menjadi sinyal positif bahwa produk berbasis kearifan lokal, jika dikemas secara modern dan berkualitas, mampu menembus pasar internasional.

Ke depan, kolaborasi lintas sektor ini diharapkan terus berkembang dan menjadi model berkelanjutan. Dengan penguatan akses pasar serta pendampingan desain dan kualitas, karya batik, anyaman, hingga kerajinan kulit Nusantara tidak hanya tampil sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai fesyen ikonik yang merepresentasikan kreativitas, inklusivitas, dan semangat transformasi Indonesia.