Ini Tiga Sosok Makhluk Halus yang Paling Membekas di Hati Sara Wijayanto

Sara Wijayanto
Sara Wijayanto

 Nama Sara Wijayanto sudah lama identik dengan kisah-kisah dunia lain. Namun bagi Sara, berhadapan dengan makhluk halus bukan sekadar urusan mistis atau menakutkan. Ia justru melihat banyak dari mereka sebagai sosok yang menyimpan luka, cerita hidup, dan pesan yang belum sempat tersampaikan.

Sara secara terbuka menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan sejumlah makhluk halus, bahkan mengungkap ada tiga sosok yang memiliki tempat khusus di hatinya dan ada juga yang tinggal di rumahnya. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya. 

Sara Wijayanto

Salah satu sosok yang paling membekas adalah Lila. Sara menggambarkan Lila sebagai anak kecil yang dipaksa dewasa oleh keadaan hidup yang tidak adil.

“Lila itu sosok anak kecil yang dipaksa dewasa. Dipaksa dewasa sebelum waktunya. Ini adalah anak kecil yang seharusnya bermain, tapi harus menjaga keluarganya,” ujar Sara sata konferensi pers Film Cerita Lila pada Senin, 26 Januari 2026. 

Menurutnya, Lila menjadi cermin bagi banyak orang dewasa yang kerap mengeluh, padahal anak seusia Lila justru menjalani hidup tanpa keluhan.

“Buat aku, Lila ini seperti kacamata. Untuk kita bisa berkaca ke diri kita sendiri. Anak seumur ini aja gak pernah mengeluh,” katanya.

Selain Lila, Sara juga menyebut sosok Rahma, yang kisahnya begitu kompleks dan penuh trauma. Rahma digambarkan sebagai seorang ibu yang kalah oleh tekanan hidup dan luka batin yang tidak pernah terolah dengan baik.

“Orang-orang seperti Rahma mungkin tidak terbiasa untuk mengolah rasanya. Akhirnya di perjalanan hidupnya, mentalnya diuji dan dia kalah,” ucap Sara.

Namun yang paling menarik perhatian publik adalah ketika Sara mengungkap tiga sosok makhluk halus yang kini dekat dengannya dan kerap berada di rumah atau kantornya.

“Selain Lila ada Rahma tentu saja. Ada Gadis Tante Kun. Terus ada satu lagi Ningsih,” ungkap Sara.

Gadis Tante Kun menjadi salah satu sosok yang akhirnya diizinkan tinggal di rumah Sara. Menurutnya, Gadis adalah makhluk yang menyesali pilihan hidupnya.

“Akhirnya aku izinkan dia tinggal di rumah,” ujar Sara..

Sementara Ningsih menjadi sosok yang memberinya pelajaran besar tentang empati dan penilaian.

“Selama bertahun-tahun aku bersimpati sama Ningsih. Ternyata dia bukan korban, dia dalang,” kata Sara.

Pengalaman-pengalaman ini membuat Sara semakin yakin bahwa kisah horor sering kali berakar dari trauma manusia.

“Kadang rumah yang harusnya paling aman bisa menjadi tempat yang mengerikan,” ucapnya.

Bagi Sara Wijayanto, kisah-kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menjadi pengingat bahwa empati, pengolahan emosi, dan kesehatan mental adalah hal yang penting, baik bagi yang hidup, maupun yang sudah tiada.