Sara Wijayanto Ungkap Makna Mendalam Film Cerita Lila

Sara Wijayanto
Sara Wijayanto

 Film Cerita Lila menjadi salah satu proyek paling personal bagi Sara Wijayanto. Bukan hanya karena kisahnya berangkat dari pengalaman spiritual yang pernah ia alami, tetapi juga karena sosok Lila menyimpan makna emosional yang dalam. Menurut Sara, film ini tidak sekadar menawarkan ketegangan khas horor, melainkan mengajak penonton berkaca pada realitas hidup, luka batin, dan kekuatan manusia dalam menghadapi cobaan.

Sara menggambarkan Lila sebagai sosok anak kecil yang harus menjalani hidup di luar kewajaran usianya. Dalam pandangannya, Lila adalah simbol ketegaran yang sering kali luput disadari orang dewasa. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya. 

Sara Wijayanto

“Lila itu sosok anak kecil yang karena situasinya jadi dipaksa dewasa walaupun dia masih kecil, tapi dia punya tanggung jawab yang besar untuk menjaga keluarganya,” 

Ungkap Sara Wijayanto saat konferensi pers di Jakarta pada Senin, 26 Januari 2026. 

Menurut Sara, hal inilah yang membuat sosok Lila begitu membekas. Seorang anak yang seharusnya bermain dan menikmati masa kecil, justru harus memikul beban besar tanpa pernah mengeluh.

“Cuman anak ini gak ngeluh Tidak pernah mengeluh dia terus menjalankan hidupnya aja,” ungkapnya lagi. 

Sara bahkan menyebut Lila sebagai “kacamata” untuk melihat diri sendiri. Ia merasa banyak orang dewasa yang mudah mengeluh, padahal ada anak seusia Lila yang menghadapi hidup jauh lebih berat.

“Buat aku, Lila ini seperti kacamata ya, maksudnya untuk kita bisa berkaca ke diri kita… Anak seumur ini aja tuh nggak pernah mengeluh,” kata Sara. 

Pertemuan pertama Sara dengan sosok Lila terjadi secara tidak disengaja saat proses penelusuran lokasi syuting. Dari situlah terungkap kisah tragis Lila, yang kemudian menjadi fondasi cerita film ini.

“Jadi dia itu dibunuh sama ibunya… dia mencari adeknya,” katanya lagi menjelaskan. 

Lila diketahui berusia sekitar delapan tahun dan memiliki saudara dengan kebutuhan khusus. Kisah keduanya meninggalkan luka mendalam, bukan hanya karena kekerasan yang dialami, tetapi juga karena cinta seorang anak kepada ibunya yang tak pernah benar-benar hilang.

“Walaupun ibunya melakukan hal itu tapi cintanya itu kan cinta seorang anak ke ibu nggak hilang gitu sedih kan jadinya,” jelasnya lagi. 

Dari cerita Lila, Sara kemudian mengembangkan narasi yang lebih luas melalui sudut pandang sang ibu, Rahma. Ia menilai bahwa film Cerita Lila juga menjadi ruang refleksi tentang kesehatan mental dan bagaimana trauma yang tak terolah dapat membawa seseorang pada keputusan kelam.

“Ini juga kalau menurut aku ya ada hubungannya sama kesehatan mental,” terang Sara.

Melalui film ini, Sara ingin menyampaikan pesan bahwa tidak semua orang harus selalu terlihat kuat. Ia menekankan pentingnya memberi ruang pada diri sendiri untuk rapuh dan merasakan emosi.

Bagi Sara, Cerita Lila bukan hanya hiburan, melainkan suara bagi mereka yang kisahnya belum sempat tersampaikan. Ia berharap film ini bisa menyentuh penonton secara emosional dan menjadi pengingat agar manusia tidak “kalah” dalam menghadapi hidup.

“Film ini tuh kayak suaranya dia yang belum sempet tersampaikan,” tandasnya.