Epilepsi Tak Melulu Ditandai dengan Kejang, Ini 4 Gejala Lain yang Sering Dirasakan
Epilepsi masih sering disalahpahami oleh masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap epilepsi sebagai penyakit menular, gangguan kejiwaan, atau kondisi yang tidak bisa ditangani. Padahal, secara medis, epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf yang dapat dikontrol dengan penanganan yang tepat.
Dokter Spesialis Bedah Saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Wienorman Gunawan, Sp.BS, menjelaskan, epilepsi terjadi akibat adanya gangguan aktivitas listrik di otak. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
“Otak manusia bekerja menggunakan sinyal listrik. Pada penderita epilepsi, terjadi lonjakan sinyal listrik yang tidak normal dan berulang, sehingga memicu kejang atau gangguan kesadaran,” jelas dr Wienorman dalam keterangannya, dikutip Rabu 21 Januari 2026.
Epilepsi Bukan Penyakit Menular
Salah satu mitos yang paling sering ditemui adalah anggapan bahwa epilepsi bisa menular. Dr. Wienorman menegaskan bahwa hal ini tidak benar. Epilepsi bukan disebabkan oleh infeksi yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.
“Epilepsi juga bukan gangguan kejiwaan. Ini adalah kondisi medis yang berhubungan langsung dengan fungsi otak. Sederhananya, ini bukan soal mistis, tapi soal navigasi listrik di kepala kita,” tambahnya.
Epilepsi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti riwayat cedera kepala, gangguan bawaan, infeksi otak, stroke, tumor otak, atau gangguan struktur otak lainnya. Namun, pada sebagian pasien, penyebab epilepsi tidak selalu dapat ditemukan secara pasti.
Gejala Epilepsi Bisa Beragam
Tidak semua epilepsi ditandai dengan kejang hebat. Pada beberapa orang, epilepsi dapat muncul sebagai tatapan kosong tiba-tiba, melamun sesaat, gerakan kecil berulang, atau kehilangan kesadaran singkat. Karena gejalanya beragam, epilepsi sering kali tidak disadari sejak awal.
“Jika muncul episode 'blank' yang sering atau kejang tanpa demam, jangan abai. Itu adalah cara otak memberi sinyal bahwa ada yang perlu diperiksa,” ujar dr. Wienorman.
Penanganan Pertama Saat Epilepsi Terjadi
Saat menyaksikan seseorang mengalami kejang epilepsi, langkah pertama adalah tetap tenang. Beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain:
- Posisikan pasien miring ke samping untuk menjaga jalan nafas tetap terbuka
- Singkirkan benda-benda keras atau tajam di sekitar pasien
- Longgarkan pakaian di sekitar leher
- Catat durasi kejang bila memungkinkan
Hal yang tidak boleh dilakukan adalah memasukkan benda apa pun ke dalam mulut pasien atau menahan gerakan kejang secara paksa. Setelah kejang berhenti, biarkan pasien beristirahat hingga kesadaran pulih.
Bagi penderita, kejang mungkin merampas kendali tubuh selama beberapa menit, tapi jangan biarkan ia merampas martabat dan kualitas hidup Anda. Penanganan di tempat yang tepat, seperti Klinik Saraf dan Bedah Saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong, bukan hanya soal memberi obat anti-kejang, tapi memastikan Anda kembali menjadi 'nakhoda' bagi hidup Anda sendiri.
“Bethsaida Hospital Gading Serpong, di bawah naungan Bethsaida Healthcare, didukung oleh Klinik Saraf dan Bedah Saraf dengan dokter-dokter berpengalaman, fasilitas diagnostik yang lengkap, serta pendekatan multidisiplin untuk memastikan setiap pasien epilepsi mendapatkan penanganan yang tepat, aman, dan berorientasi pada kualitas hidup,” beber dr. Pitono, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong.