3 Rahasia Parenting ala Rasulullah SAW Masih Relevan sampai Sekarang

Ilustrasi Anak Sukses
Ilustrasi Anak Sukses

 Menjadi orang tua bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga bagaimana Anda membentuk karakter dan kepribadian mereka sejak dini. Di tengah maraknya tren parenting modern, Islam sebenarnya telah lama memberikan pedoman pengasuhan anak yang penuh kasih, lembut, dan sarat hikmah melalui teladan Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW merupakan pemimpin umat muslim sekaligus sosok ayah yang luar biasa bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Pola pengasuhan yang Rasulullah SAW terapkan ternyata masih relevan hingga saat ini tetapi justru diabaikan oleh orang tua. 

Dikutip dari kanal YouTube NU Online, Ustadzah Imaz Fatimatuz Zahra atau yang populer disapa Ning Imaz, menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki tiga prinsip utama dalam mendidik anak.  Ketiganya bukan hanya relevan di masa lalu, tapi juga sangat kontekstual bagi orang tua masa kini yang ingin membesarkan anak dengan penuh cinta, tanpa kekerasan dan tekanan berlebihan.

Berikut tiga bentuk parenting ala Rasulullah SAW yang bisa Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Tidak Meninggikan Suara pada Anak

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang penuh kelembutan. Beliau tidak pernah meninggikan suara kepada siapa pun, termasuk kepada anak-anaknya. Dalam setiap interaksi, tutur katanya selalu lembut dan menenangkan. Ning Imaz menegaskan bahwa ada hikmah besar di balik sikap ini.

“Tindak lampah Nabi (sunnah) di sini sangat luar biasa sekali hikmahnya. Jadi hanya sekadar meninggikan suara saja, itu mampu memberikan efek buruk kepada anak. Makanya Nabi di sini mencontohkan beliau tidak pernah meninggikan suara kepada anak,” ujarnya.

Penelitian modern juga menunjukkan hal yang sejalan. Suara keras orang tua dapat merusak koneksi saraf di otak anak dan berdampak pada perkembangan kognitifnya. Artinya, kemarahan yang dilampiaskan dengan teriakan bukan hanya melukai hati anak, tetapi juga bisa menghambat kecerdasan emosional dan akademiknya.

Dengan berbicara lembut, Anda tidak hanya membangun kedekatan emosional, tetapi juga membantu anak tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri.

2. Memilih Waktu yang Tepat untuk Memberikan Nasihat

Rasulullah SAW dikenal bijak dalam menyampaikan nasihat. Beliau tidak menegur atau menasihati sahabatnya setiap saat, melainkan memilih waktu yang tepat agar pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik.

Prinsip ini juga sangat relevan dalam pola asuh modern, yaitu orang tua sering kali memberi nasihat kapan pun mereka merasa perlu, tanpa memikirkan kondisi emosional anak. Cara ini bisa membuat anak merasa jenuh dan bahkan menolak nasihat yang diberikan.

“Yang jelas tidak terlalu sering, tidak terus meneruskan dan tidak dilakukan dengan cara yang deskriptif yakni dengan cara-cara yang mungkin bisa menghancurkan harga diri seorang anak. Misalnya, memarahinya di depan orang banyak atau mengatakan hal yang tidak-tidak terhadap anak sendiri," ujar Ning Imaz.

Dalam pandangan Imam Ghazali, anak yang terlalu sering dinasihati justru bisa “kebal” terhadap petuah itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk tahu kapan anak siap menerima nasihat, misalnya ketika suasana hatinya tenang atau setelah ia melakukan refleksi diri.

Dengan memilih momen yang tepat, nasihat Anda akan lebih bermakna dan mudah diterima. Anak pun akan belajar memahami pesan tersebut tanpa merasa diserang atau direndahkan.

3. Memanggil Anak dengan Sebutan yang Baik

Salah satu kebiasaan Rasulullah SAW yang patut diteladani adalah cara beliau memanggil anak-anaknya. Beliau menyapa Sayyidina Hasan dan Husen dengan panggilan penuh penghargaan: “pemimpin para pemuda di surga.” Ucapan itu bukan sekadar sapaan, tetapi doa dan afirmasi positif yang membentuk konsep diri anak sejak dini.

“Terbukti oleh ilmu psikologi sekarang bahwa salah satu penunjang kesuksesan seorang anak adalah harapan orang tuanya. Ketika dunia ini meragukannya tapi orang tuanya yakin bahwa dirinya bisa, maka anak itu akan yakin bahwa dia bisa. Maka penting sekali untuk memanggil dengan sebutan yang baik," jelas Ning Imaz.

Dalam konteks ini, kata-kata yang Anda ucapkan kepada anak memiliki kekuatan luar biasa. Sebutan seperti pintar, baik hati, atau pemimpin masa depan dapat memperkuat kepercayaan diri anak dan membentuk persepsi positif terhadap dirinya sendiri.

Sebaliknya, panggilan negatif seperti nakal atau bandel bisa menanamkan label buruk yang memengaruhi perilakunya. Dengan memanggil anak secara positif, Anda sedang menanamkan nilai-nilai optimisme dan keyakinan dalam dirinya.

Teladan Rasulullah SAW dalam mendidik anak membuktikan bahwa kelembutan adalah kunci utama dalam parenting yang efektif. Beliau mengajarkan bahwa anak tidak perlu dibentuk dengan teriakan, tekanan, atau ancaman, melainkan dengan kasih sayang, waktu yang tepat, dan kata-kata yang menumbuhkan semangat.

Di era modern yang serba cepat dan penuh tekanan, meneladani tiga prinsip ini bisa menjadi jalan untuk membesarkan anak yang bahagia, berakhlak mulia, dan percaya diri. Menjadi orang tua memang tidak mudah, tetapi dengan mencontoh cara Rasulullah SAW, Anda tidak hanya membimbing anak menuju kebaikan, tetapi juga menanamkan nilai cinta dan kelembutan yang akan mereka bawa sepanjang hidupnya.