Siapa Henry Pribadi? Pendiri Napan Group yang Disorot Usai Cucu Meninggal

Henry Pribadi, Napan Group, Siapa Henry Pribadi? Pendiri Napan Group yang Disorot Usai Cucu Meninggal

Kabar meninggalnya Rylan Henry Pribadi, cucu konglomerat Henry Pribadi, membuat publik kembali menyoroti sosok pendiri Napan Group tersebut.

Rylan, remaja berusia 17 tahun, meninggal dunia akibat kecelakaan saat bermain ski di kawasan wisata Niseko, Hokkaido, Jepang, pada awal Januari 2026.

Peristiwa ini memicu perhatian luas, termasuk ucapan belasungkawa dari sejumlah tokoh nasional.

Rylan Henry Pribadi merupakan anak pengusaha Reza Pribadi dan cucu Henry Pribadi. Kabar duka tersebut disampaikan antara lain oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie melalui akun media sosial mereka.

"Saya dan Ibu Yanti menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ananda Rylan Henry Pribadi, putra dari sahabat kami, keluarga pengusaha nasional, Bapak Reza Pribadi dan cucu Bapak Henry Pribadi," tulis Airlangga Hartarto, dikutip dari BangkaPos Tribunnews, Sabtu (17/1/2026).

Di balik kabar duka tersebut, publik kembali menanyakan: siapa sebenarnya Henry Pribadi?

Jejak awal Henry Pribadi dan Napan Group

Henry Setiawan Pribadi, yang juga dikenal dengan nama Tionghoa Liem Oen Hauw, lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 1948.

Bersama dua saudaranya, Andry Pribadi dan Wilson Pribadi, ia mendirikan Napan Group pada Maret 1972 dari usaha dagang keluarga.

Napan Group berkembang pesat pada era 1980-an hingga 1990-an dan menjadi salah satu konglomerasi besar Indonesia.

Grup ini melakukan diversifikasi ke berbagai sektor strategis, mulai dari manufaktur, petrokimia, perkebunan, properti, perbankan, telekomunikasi, hingga media.

Pada puncak kejayaannya, Napan Group tercatat memiliki puluhan anak usaha. Pada 1996, pendapatan grup ini dilaporkan telah menembus lebih dari Rp 1 triliun.

Dalam laporan media asing pada pertengahan 1990-an, nama Henry Pribadi bahkan sempat melesat ke jajaran teratas daftar wajib pajak terbesar di Indonesia.

Pasalnya, Napan Group terlibat dalam proyek-proyek industri berskala besar, termasuk sektor petrokimia.

Dampak krisis dan restrukturisasi bisnis

Krisis moneter 1997–1998 menjadi titik balik besar bagi Napan Group yang mengubah wajah perusahaan.

Henry Pribadi dan perusahaannya tercatat sebagai salah satu obligor besar Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Tercatat kewajiban yang dilaporkan mencapai sekitar Rp 2,98 triliun.

Melalui proses restrukturisasi, pelepasan aset, dan negosiasi panjang, Napan Group mampu bertahan meski dengan skala usaha yang lebih kecil dibanding masa keemasannya. Sejumlah unit bisnis tetap beroperasi hingga kini.

Beberapa perusahaan yang masih tercatat terkait dengan Napan Group antara lain PT Argha Karya Prima Industry di sektor kemasan plastik, PT Lumbung Nasional Flour Mill di industri terigu, PT Sumatera Prima Fiberboard di sektor papan kayu, serta bisnis properti, komunikasi, dan perhotelan.

Keluarga dan estimasi kekayaan

Dalam kehidupan keluarga, Henry Pribadi diketahui memiliki anak. Salah satunya Reza Pribadi, yang aktif di dunia usaha dan terlibat dalam berbagai perusahaan swasta, termasuk sektor investasi dan pertambangan.

Meskipun tak lagi berada di masa keemasan seperti era 1990-an, Henry Pribadi masih disebut sebagai salah satu pengusaha papan atas Indonesia.

Pada 2019, kekayaannya diperkirakan mencapai sekitar 515 juta dollar AS atau setara Rp 7–8 triliun.

Jumlahekayaan tersebut berdasarkan estimasi kepemilikan saham, aset properti, dan investasi keluarga.

Sebagian artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul "Profil dan Jejak Bisnis Henry Pribadi, Konglomerat yang Cucunya Meninggal saat Main Ski di Jepang".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang