Apa Itu Hari Raya Siwaratri? Ini Makna dan Brata yang Dijalani Umat Hindu

Hari Raya Siwaratri, Apa Itu Hari Raya Siwaratri? Ini Makna dan Brata yang Dijalani Umat Hindu, Apa itu Hari Suci Siwaratri? , Apa makna dan tujuan Siwaratri bagi umat Hindu?, Apa itu Brata Siwaratri?, Tata pelaksanaan Hari Suci Siwaratri, Kisah Lubdaka dan makna pengampunan dosa

Umat Hindu Bali tengah memperingati Hari Raya Siwaratri yang jatuh pada hari ini, Sabtu (17/1/2026). 

Pada hari raya ini, para penganut Hindu Bali akan melakukan berbagai kegiatan seperti perenunagan diri, penyucian batin, dan pemujaan terhadap Dewa Siwa. 

Lantas, apa makna Hari Raya Siwaratri dan bagaimana pelaksanaannya? 

Apa itu Hari Suci Siwaratri? 

Dilansir dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Hari Suci Siwaratri merupakan hari raya yang diyakini sebagai waktu Hyang Siwa melakukan semedi. 

Oleh karena itu, hari ini dianggap sebagai waktu yang tepat untuk merenung, penyucian batin dan melakukan pemujaan kepada Siwa. 

Peringatan ini jatuh setiap hari ke-14 bulan ketujuh dalam kalender Bali. Sementara dalam perhitungan kalender Masehi, hari raya ini biasanya jatuh pada bulan Januari. 

Apa makna dan tujuan Siwaratri bagi umat Hindu?

Siwaratri sendiri berasal dari dua kata, yakni Siwa dan Ratri yang punya makna masing-masing. 

Jika diartikan, Siwa memiliki makna baik hati, pemaaf, dan memberikan harapan serta manifestasi Tuhan sebagai Dewa Siwa. 

Dalam kepercayaan Hindu, Dewa Siwa bertugas melebur dan membersihkan.

Kemudian, ratri berarti malam atau kegelapan. Jika digabung, Siwaratri adalah malam untuk melebur kegelapan menuju terang. 

Makna utama Siwaratri sendiri merupakan malam perenungan suci, ketika umat melakukan introspeksi aatas dosa-dosa mereka. 

Pada momen ini, umat Hindu memohon tuntunan kepada Dewa Siwa untuk memperbaiki diri dan menjalani kehidupan yang lebih baik. 

Apa itu Brata Siwaratri?

Karena Hari Suci Siwaratri dimaknai sebagai peleburan dosa, banyak umat melakukan semedi, puasa dan pemujaan. 

Dalam pelaksanannya, umat Hindu menjalankan Brata Siwaratri yang terdiri dari tiga pantangan.

Ketiga pantangan tersebut antara lain: 

  • Mona brata: tidak berbicara
  • Upawasa: tidak makan dan minum
  • Jagra: tidak tidur.

Pelaksanaan brata ini dibagi menjadi tiga tingkatan sesuai dengan kemampuan, berikut penjelasannya: 

1. Tingkatan Nista

Menjalankan jagra, tidak tidur semalaman sambil memusatkan perhatian kepada Tuhan. Umat melakukan kegiatan seperti membaca kitab suci, mediasi, berdoa, atau membersihkan diri secara lahir dan batin. 

Bukan sekadar begadang, jagra juga melatih kesadaran diri dan pikiran. 

2. Tingkatan Madya

Pada tingkatan ini, jagra dan upawasa dilakukan bersamaan. Upawasa sendiri bertujuan melatih diri agar tidak bergantung pada kenikmatan makanan.

Dengan melakukan upawasa, umat dapat mengendalikan indra dengan baik. 

3. Tingkatan Uttama

Berada pada tingkatan tertinggi, brata yang dilakukan meliputi jagra, upawasa, dan mona brata. 

Ketika melakukan ketiga brata ini, umat menahan diri dari berbicara untuk mengendalikan ucapan dan fokus dalam perenungan batin. 

Tata pelaksanaan Hari Suci Siwaratri

Adapun pelaksanaan Hari Suci Siwaratri diawali dengan mensucikan diri pada pagi hari. 

Kemudian menjelang malam, doa pembersihan pikiran dilakukan dan dilanjutkan sembahyang kepada Sang Hyang Surya, leluhur, dan Sang Hyang Siwa. 

Persembahyangan dilakukan tiga kali, yaitu menjelang malam, tengah malam, dan pagi hari berikutnya.

Selama rangkaian upacara, umat tetap menjalankan puasa dan tidak tidur sesuai kemampuan. 

Setelah selesai, rangkaian Siwaratri ditutup dengan Dana Punia, yaitu berbagi atau memberi dengan tulus sebagai wujud rasa syukur.

Kisah Lubdaka dan makna pengampunan dosa

Makna Hari Suci Siwaratri juga berkaitan dengan kisah Lubdaka, seorang pemburu yang hidupnya dipenuhi perbuatan dosa karena sering membunuh binatang.

Kisah ini ditulis oleh Empu Tanakung dan menjadi salah satu dasar pemaknaan Siwaratri.

Dalam cerita tersebut, Lubdaka tidak sengaja menjalani malam Siwaratri dengan penuh kesadaran dan perenungan. Ia terjaga semalaman sambil memusatkan pikiran kepada Sang Hyang Siwa. 

Meskipun hidupnya penuh kesalahan, ketulusan perenungan yang ia lakukan pada malam itu diyakini membuat dosa-dosanya dilebur.

Kisah Lubdaka mengajarkan bahwa Siwaratri bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang kesungguhan memperbaiki diri. 

Malam Siwaratri menjadi simbol kesempatan bagi setiap orang untuk merenungkan kesalahan, memohon pengampunan, dan berkomitmen menjalani hidup yang lebih baik.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang