Film Penunggu Rumah: Buto Ijo Hadirkan Tafsir Kelam Legenda Timun Mas

Gandhi Fernando.
Gandhi Fernando.

  Film horor Penunggu Rumah: Buto Ijo siap menyapa penonton Indonesia pada awal 2026 dengan pendekatan cerita yang berbeda dari horor lokal kebanyakan. Terinspirasi dari legenda Timun Mas, film ini menawarkan interpretasi baru yang lebih gelap dan modern, di tengah dominasi film horor bertema spiritual dan klenik yang selama ini mendominasi layar lebar.

Diproduksi oleh Creator Media bersama Maxstream Studios, Seru Juga Film Studio, dan Vibe, film ini dijadwalkan tayang serentak di jaringan bioskop Indonesia mulai 15 Januari 2026. Sebelum rilis resmi, tim produksi juga menyiapkan pemutaran spesial pada 10 dan 11 Januari 2026 di sejumlah kota. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

Gandhi Fernando, yang terlibat sebagai produser, penulis, sekaligus pemain, menegaskan bahwa sejak awal ia ingin menghadirkan warna baru dalam horor Indonesia. Ia melihat legenda Timun Mas dan sosok Buto Ijo sebagai cerita yang sangat lekat dengan ingatan kolektif masyarakat.

“Kita semua pasti tau kisah Timun Mas dan Buto Ijo yang legend sekali. Waktu kecil kita membaca atau sekadar didongengkan. Nah film ini mengemas cerita tersebut dalam versi horor modern yang lebih mencekam dan kelam, tapi tetap ruh cerita Timun Mas-nya tidak menghilang. Tentu ini belum pernah diangkat di film-film Indonesia sebelumnya,” jelas Gandhi, dalam keterangannya, dikutip Senin 12 Januari 2026. 

Melalui pendekatan tersebut, Penunggu Rumah: Buto Ijo tidak sekadar menghadirkan nostalgia, tetapi juga memperluas makna folklor Jawa ke dalam konteks horor yang relevan dengan penonton masa kini.

Disutradarai oleh Achmad Romie, film ini memadukan teror supranatural dengan konflik emosional dalam lingkup keluarga. Cerita berfokus pada Srini (Celine Evangelista), seorang janda yang hidup bersama anak perempuannya. Kehidupan Srini mulai terusik ketika teror misterius muncul menjelang ulang tahun ke-6 sang anak.

Rangkaian gangguan tersebut mendorong Srini untuk kembali menghubungi Ali (Gandhi Fernando), mantan kekasihnya yang kini dikenal sebagai konten kreator horor uji nyali. Bersama adiknya, Lana (Valerie Thomas), Ali awalnya menganggap kejadian yang mereka hadapi sebagai materi konten. Namun situasi berubah drastis ketika sosok Buto Ijo mulai menampakkan diri dan menghadirkan ancaman nyata.

Seiring cerita berkembang, teror dalam film ini tidak hanya hadir secara fisik. Lapisan demi lapisan rahasia kelam yang tersembunyi di dalam rumah perlahan terbuka. Sosok Buto Ijo tampil bukan semata sebagai makhluk menyeramkan, melainkan juga simbol dari pilihan, janji, dan konsekuensi yang sering diabaikan manusia.

Dalam tradisi folklor Jawa, Buto Ijo dikenal sebagai penjaga yang selalu membawa konsekuensi atas kesepakatan yang dibuat. Makna tersebut menjadi fondasi utama eksplorasi cerita dalam film ini.

“Dalam film ini, kami mencoba melihat Buto Ijo bukan hanya sebagai sosok menakutkan, tetapi sebagai simbol dari kesepakatan, janji, dan konsekuensi yang sering diabaikan manusia. Horornya kami bangun dari situasi yang terasa dekat, sehingga penonton bisa ikut merasakan emosi dan ketakutan para karakternya,” ujar Gandhi Fernando.

Ia juga menekankan pentingnya drama keluarga sebagai elemen utama. Menurutnya, teror yang paling membekas justru kerap berangkat dari konflik personal, rahasia masa lalu, serta keputusan hidup yang meninggalkan dampak panjang.

Film Penunggu Rumah: Buto Ijo dibintangi oleh Gandhi Fernando sebagai Ali, Celine Evangelista sebagai Srini, Valerie Thomas sebagai Lana, Meryem Hasanah sebagai Tisya, Adnan Djani sebagai Indra, Pratito Wibowo sebagai Buto Ijo, serta Arie Dwi Andhika sebagai Riza.