Mengapa Tak Semua Orang Mimpi Buruk Setelah Nonton Film Horor
Sebagian besar orang takut menonton film horor atau pun menghindari tempat yang dianggap "angker". Namun, ada juga kelompok orang yang suka menjerit masuk ke wahana rumah hantu dan menonton film penuh teror dan sama sekali tak terganggu tidurnya.
Dua kelompok orang yang sangat berlawanan ini ternyata punya alasan psikologis yang kuat.
Menurut psikolog Pamela Rutledge, direktur Media Psychology Research Center di Newport Beach, California, bagaimana kita bereaksi terhadap teror mungkin tergantung pada bagaimana kita berinteraksi dengan dunia.
"Seseorang yang mencari sensasi sering menikmati horor karena memberikan sensasi aman dan kebaruan,” kata Rutledge yang juga penulis buku "Exploring Positive Psychology: The Science of Happiness and Well-Being."
Setelah nonton film horor bikin mimpi buruk
Orang yang empatik cenderung menyerap perasaan, sehingga mereka kemungkinan merasakan tekanan emosional dari karakter-karakter di film horor.
Ini agak berbeda dengan seseorang yang rentan mengalami kecemasan, yang akan bereaksi terhadap stres lebih daripada emosi ketakutan atau kegelisahan.
”Tekanan seperti ini dapat memengaruhi tidur, bahkan sampai menimbulkan mimpi buruk", kata spesialis tidur Jennifer Mundt, seorang profesor asosiasi klinis di bidang kedokteran keluarga.
Ia menjelaskan, otak kita memproses emosi dan memori saat kita bermimpi. Setelah kita melihat gambar-gambar seram atau menakutkan pada hari itu, otak akan mencoba memprosesnya saat kita tidur. Meskipun itu tidak selalu menyebabkan mimpi buruk, hal itu tentunya bisa terjadi.
Bukan hanya film, mendengarkan cerita menakutkan, membaca buku yang mengganggu, atau mengunjungi rumah berhantu saat Halloween bisa memengaruhi tidur, terutama pada orang-orang yang pernah mengalami trauma atau yang memiliki imajinasi yang kuat.
Mereka adalah tipe orang yang ketika sedang membaca atau mendengar sebuah cerita benar-benar membayangkannya dengan sangat jelas dalam pikiran mereka.
Tom Kaulitz dan Heidi Klum menghadiri Pesta Halloween Tahunan ke-24 milik Heidi Klum yang dipersembahkan oleh Butterfinger dan Huluween di Disney+, bertempat di Hard Rock Hotel New York pada 31 Oktober 2025 di New York City. Mike Coppola/Getty Images untuk Heidi Klum Halloween/AFP (Foto oleh Mike Coppola / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images melalui AFP)
"“Meskipun mereka tahu itu hanyalah cerita atau rumah berhantu, itu tetap sangat intens. Peristiwa menakutkan juga dapat memperburuk parasomnia yaitu perilaku tidur abnormal seperti berjalan dalam tidur, berbicara dalam tidur, atau kelumpuhan tidur,"katanya.
“Parasomnia cenderung diperburuk oleh stres. Terutama jika kita pernah mengalaminya sebelumnya, mungkin pernah merasa melihat hantu dan sebagainya, maka itu bisa memicu parasomnia setelah menonton film horor," katanya.
Menurut pakar komunikasi dan seni media, Michael Grabowski, unsur kejutan adalah hal yang membuatnya sangat intens.
“Film horor punya banyak elemen kejutan seperti pada rasa takut. Aliens adalah contoh sempurna dari film yang mengejutkan penonton, Anda datang mengharapkan film sci-fi, lalu dihadapkan pada adegan alien yang merobek perut dan ludah makhluk yang jatuh seperti hujan,” katanya.
Penyebab susah tidur setelah nonton film horor
Ketika kita terkejut oleh adegan-adegan yang menegangkan, kita cenderung tetap waspada mencari bahaya. Dan kemampuan untuk tetap waspada, tentu saja membuat kita sulit terpejam untuk tidur.
"Agar bisa tertidur, kita butuh merasa berada di tempat yang aman sehingga bisa menurunkan pertahanan dan tidur," kata Grabowski.
"Namun, mungkin ada sebagian bagian dari otak kita yang mengingatkan film itu sangat menyenangkan dan merupakan hiburan, tetapi bagian lain dari otak masih bersemangat akibat persepsi ketakutan."
Kepribadian yang mudah ketakutan
Kepribadian yang empatik menjadi lebih mudah takut. Mereka cenderung ikut terhanyut dalam karakter pada alur cerita dramatis.
Ini didasarkan pada insting bertahan kuno yang oleh psikolog disebut “simulasi terkandung” saat menonton orang lain, otak kita secara naluriah meniru perilaku mereka untuk memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.“ Apakah orang yang mendekat ini akan menyerang saya?"
"Film horor benar-benar memanfaatkan kemampuan kita yang telah berevolusi untuk memahami dan memprediksi tindakan orang lain,” kata Grabowski.
Jutaan orang, tentu saja, tidak masalah tidur setelah mendapatkan ketakutan yang hebat, bahkan mereka menikmatinya. Ada alasan ilmiah mengapa hal itu terjadi.
Film menakutkan memicu adrenalin dan kortisol yang membuat tubuh tetap waspada. Akhir dari film dapat terasa memuaskan ketika sistem saraf parasimpatik aktif, detak jantung melambat, dan melepaskan dopamin serta endorfin, menciptakan 'rush' pasca-horor yang klasik.
“Mengalami dan pulih dari rasa takut dapat mengurangi stres dan memperkuat mekanisme koping,” kata Rutledge.
Film menakutkan juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan perasaan kontrol karena kita telah selamat dari ancaman eksistensial sehingga menonton horor bersama orang lain dapat mempererat ikatan dan kegembiraan bersama.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.