Mengintip Proses Produksi Film Buto Ijo, Ekstrem dan Mencekam!
Sosok Buto Ijo yang tampil mengerikan dalam film Penunggu Rumah: Buto Ijo ternyata lahir dari proses produksi yang tidak kalah ekstrem. Di balik visual horor yang terasa nyata di layar, tim film harus menghadapi tantangan teknis, fisik, hingga keselamatan aktor demi menghadirkan Buto Ijo versi live action yang hidup dan meyakinkan.
Untuk mewujudkan karakter legendaris tersebut, tim produksi menggandeng tim prostetik berpengalaman yang sebelumnya terlibat dalam berbagai film horor Indonesia. Mereka merancang kostum Buto Ijo full body dengan lapisan prostetik di hampir seluruh tubuh aktor. Pendekatan ini memang menghasilkan tampilan yang sangat realistis dan menyeramkan, namun juga menuntut pengorbanan besar dari pemerannya. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!
Kostum Buto Ijo memiliki bobot yang berat, bersifat lengket, dan hampir tidak memiliki sirkulasi udara. Pratito Wibowo, aktor yang memerankan Buto Ijo, kerap mengalami kesulitan bernapas saat mengenakannya. Dalam satu sesi pengambilan gambar, kostum tersebut hanya bisa digunakan selama satu hingga dua take sebelum harus dilepas agar aktor bisa beristirahat dan menurunkan suhu tubuh.
Meski proses syuting berlangsung di studio berpendingin udara, panas tetap terperangkap di dalam kostum. Akibatnya, tubuh aktor kerap basah kuyup oleh keringat.
“Kami benar-benar harus ekstra hati-hati. Keselamatan aktor jadi prioritas. Kalau dipaksakan, apalagi di lokasi outdoor atau ruangan tanpa AC, risikonya terlalu besar,” ungkap Gandhi Fernando selaku aktor, produser, dan penulis film ini, dalam keterangannya, dikutip Selasa 13 Januari 2026.
Tantangan tidak hanya datang dari sisi teknis, tetapi juga dari desain karakter. Selama ini, Buto Ijo dikenal luas sebagai sosok folklor yang sering digambarkan secara kartunis. Tim kreatif film harus mencari formula yang tepat agar karakter tersebut tetap terasa seram tanpa kehilangan identitas dongeng yang sudah melekat di benak penonton.
“Kita cari titik tengah. Harus tetap seram, tapi penonton masih merasa: ini Buto Ijo yang mereka kenal,” jelas Gandhi.
Pendekatan tersebut membuat tim produksi memilih mengandalkan practical effect ketimbang CGI. Seluruh tampilan fisik Buto Ijo hadir secara nyata di lokasi syuting, sementara efek digital hanya digunakan secara terbatas, khususnya pada bagian mata.
Justru di sinilah tantangan lain muncul. Warna merah pada mata Buto Ijo harus terlihat hidup dan mengintimidasi, namun tidak berlebihan hingga menyerupai karakter tokusatsu. Tim visual efek harus menyeimbangkan detail tersebut agar tetap selaras dengan nuansa horor yang membumi.
Dengan pendekatan praktikal yang serius dan desain kostum yang ekstrem, Penunggu Rumah: Buto Ijo berupaya menghadirkan pengalaman horor yang lebih dekat dan terasa nyata. Film ini sekaligus membuka peluang lahirnya representasi baru sosok horor Indonesia yang lebih beragam dan berakar pada folklor lokal.
Penunggu Rumah: Buto Ijo dijadwalkan tayang di bioskop-bioskop pilihan mulai 15 Januari 2026 mendatang.