Vino G Bastian Jadi Fotografer yang Dihantui Rasa Bersalah di Film Shutter
Setelah sukses dengan Kang Solah From Kang Mak X Nenek Gayung, Falcon Pictures kembali memperkuat semesta horor Indonesia. Kali ini, mereka merilis film terbaru berjudul Shutter, sebuah karya yang tidak hanya menjanjikan ketegangan seram, tetapi juga menyajikan kritik sosial yang relevan dengan realitas masa kini.
Film Shutter merupakan remake dari film horor legendaris Thailand karya Banjong Pisanthanakun. Sutradara Herwin Novianto memimpin versi Indonesia ini, menggabungkan elemen teror psikologis, supranatural, dan isu sosial. Hasilnya, Shutter menjadi lebih dari sekadar tontonan horor, melainkan medium refleksi tentang keadilan dan trauma. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!
Kisah Shutter berpusat pada Darwin (diperankan oleh Vino G. Bastian), seorang fotografer muda. Kehidupan Darwin berubah drastis setelah ia dan kekasihnya, Pia (Anya Geraldine), terlibat dalam kecelakaan tragis di jalan sepi. Mereka menabrak seorang wanita misterius. Peristiwa kelam itu menjadi awal dari mimpi buruk tak berujung.

Tak lama setelah kejadian tersebut, Darwin mulai melihat bayangan aneh di setiap hasil fotonya. Sosok perempuan yang sama terus-menerus muncul, menatap tajam dari balik kegelapan. Penasaran, Pia akhirnya menemukan fakta mencengangkan: sosok tersebut bukan sekadar roh penasaran, melainkan korban dari kejahatan masa lalu, khususnya penyalahgunaan kekuasaan di lingkungan kampus.
Penelusuran Pia membongkar rahasia kelam yang selama ini Darwin sembunyikan. Rahasia itu mencakup isu pelecehan seksual di kampus, ketidaksetaraan gender, hingga lemahnya mekanisme pelaporan yang sering kali membuat korban memilih bungkam. Teror yang mereka hadapi, ternyata, tidak hanya datang dari dunia gaib, tetapi juga dari rasa bersalah dan ketidakadilan yang belum terselesaikan.
Shutter tidak hanya menghadirkan kengerian visual dan emosional, tetapi juga membawa pesan penting agar kampus menjadi tempat yang aman bagi seluruh sivitas akademika. Film ini melancarkan kampanye #SafespaceForAll, sebuah upaya untuk mengingatkan publik bahwa pelecehan seksual merupakan masalah sistemik yang perlu diatasi bersama.
Frederica, Produser Falcon Pictures, menegaskan bahwa Shutter menawarkan dua lapisan pengalaman bagi penonton.
“Di permukaannya ini adalah film horor mencekam. Tapi di balik itu, Shutter menyimpan pesan tentang keadilan dan keberanian untuk bersuara. Kami ingin penonton bukan hanya takut, tapi juga tersentuh dan berpikir,” ujar Frederica.
Sutradara Herwin Novianto menambahkan, ia ingin menciptakan film horor yang memiliki soul atau jiwa.
“Rasa takut dalam Shutter bukan hanya datang dari hantu, tapi dari kenyataan pahit yang sering diabaikan. Bayangan dalam film ini adalah metafora bagi trauma dan kebenaran yang ditekan,” jelas Herwin.
Vino G Bastian mengaku peran Darwin sangat mengguncang dirinya secara emosional.
“Darwin ini karakter yang hidup dalam kebohongan. Ketika rahasia masa lalunya terungkap, penonton akan sadar bahwa teror terbesar justru datang dari rasa bersalah. Main di film ini seperti masuk ke dunia gelap yang juga merefleksikan banyak realitas sosial kita,” ungkap Vino.
Sementara itu, Anya Geraldine menceritakan tentang karakternya, Pia, yang ia anggap berani.
“Pia adalah karakter yang berani. Dia mewakili suara perempuan yang tidak tinggal diam saat menghadapi ketidakadilan. Di film ini, aku merasa Pia bukan hanya kekasih Darwin, tapi juga simbol kekuatan dan empati. Buat aku pribadi, pesan film ini penting banget tentang bagaimana kampus, atau ruang mana pun, seharusnya aman buat semua orang. #SafespaceForAll,” terangnya.
Atmosfer mencekam Shutter semakin kuat dengan lagu tema berjudul “Di Batas Malam” yang dinyanyikan oleh Danilla Riyadi dan diciptakan oleh Mondo Gascaro. Lagu ini berfungsi sebagai elemen emosional yang mengikat kisah, menghadirkan keindahan di balik kengerian.
Film Shutter dibintangi oleh jajaran aktor papan atas, termasuk Vino G Bastian, Anya Geraldine, Niken Anjani, Rangga Nattra, Dewi Gita, Michelle Tahalea, Angie Ang, dan Nugie. Film horor dengan keyword kuat pelecehan seksual dan Falcon Pictures ini siap menebar teror di seluruh bioskop Indonesia mulai 30 Oktober 2025.