Mengenal Dede Sukriya, Relawan Lingkungan di Bogor yang Nyaris 1 Dekade Bersihkan Sampah Sendirian

Dede Sukriya, lingkungan, kebersihan lingkungan, Bogor, sampah, Mengenal Dede Sukriya, Relawan Lingkungan di Bogor yang Nyaris 1 Dekade Bersihkan Sampah Sendirian

Di bawah terik matahari pagi di kawasan Cikaret, Bogor Selatan, seorang pria tampak sibuk di dalam selokan. Mengenakan kaus oranye dan sepatu bot karet kuning, tangannya cekatan mengayunkan golok, mengais lumpur yang bercampur dengan sampah plastik, popok, hingga limbah rumah tangga.

Pria itu adalah Dede Sukriya (37). Hampir setiap hari, ia turun ke aliran air yang kotor sendirian, tanpa ada yang menyuruh.

Sementara di atasnya, kendaraan roda dua dan roda empat lalu lalang, sebagian menyapa dengan klakson, sebagian lagi berlalu tanpa menoleh.

Dede bukanlah petugas kebersihan resmi atau anggota organisasi lingkungan. Namun, selama hampir satu dekade, ia telah melakoni peran sebagai penjaga kebersihan lingkungan di wilayah Kota Bogor secara sukarela.

Bergerak Sendiri Sejak 2015

Aksi nyata Dede membersihkan selokan ini bermula dari keresahannya melihat kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang kerap tergenang air akibat penumpukan sampah. Sejak tahun 2015, ia memutuskan untuk turun tangan tanpa menunggu bantuan pemerintah.

“Saya sudah hampir 10 tahun, dari tahun 2015 itu sendiri memang,” ujar Dede saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (6/1/2026).

Dahulu, Dede harus membiayai aktivitasnya sendiri. Mulai dari membeli karung, cangkul, hingga mengisi bensin motor pribadinya untuk mengangkut puluhan karung sampah ke tempat pembuangan.

“Kalau dulu, misalkan 40 karung, saya dari ujung sana sampai ke depan bawa motor saya sendiri. Pokoknya bersih-bersih masuk karungan, langsung angkut sampai pulang ke rumah jam 6 sore,” ungkapnya.

Bahkan, ia tak jarang merogoh kocek pribadi untuk operasional. "Bahkan saya tuh pakai motor saya sendiri, karena pakai uang bensin kan, pakai uang saya sendiri," tambahnya.

Pernah Kelaparan dan Tertimpa Sampah

Dede Sukriya, lingkungan, kebersihan lingkungan, Bogor, sampah, Mengenal Dede Sukriya, Relawan Lingkungan di Bogor yang Nyaris 1 Dekade Bersihkan Sampah Sendirian

Dede Sukriya (37) saat membabat rumput di selokan di Cikaret, Bogor Selatan (6/1/2026).

Perjuangan Dede bukan tanpa risiko. Berada di dalam selokan membuatnya rentan terkena benda tajam hingga perilaku buruk oknum warga yang masih membuang sampah sembarangan.

Dede menceritakan pengalamannya saat sedang bekerja di bawah jembatan dan tiba-tiba tertimpa bungkusan sampah dari atas.

“Sering lagi bersihin terus ada yang lempar saja gitu, bahkan waktu itu saya ketimpa plastik sampah dari atas,” kata Dede.

Selain itu, ia juga pernah mengalami kondisi fisik yang menurun akibat kelelahan dan keterbatasan biaya.

“Saya pernah mengalami sehari enggak makan, enggak minum. Waktu itu mau pulang rumah jauh. Uang buat beli bensin jatuh. Saya bersihin di bawah matahari sampai mata saya sudah berkunang-kunang,” tuturnya.

Diangkat Menjadi Relawan Lingkungan Kota Bogor

Konsistensi Dede selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Kiprahnya mulai dipantau oleh aparatur wilayah setempat hingga terdengar ke telinga Wali Kota Bogor.

Lurah Cikaret, Riki Riswan Deris, mengakui bahwa kontribusi Dede sangat membantu wilayahnya dalam mencegah banjir di Bogor.

“Dede Sukria itu pemerhati lingkungan yang memang sudah lebih 10 tahunan. Dia melakukan aksi sosial sendiri, dan itu memang saya rasakan, sangat terbantu,” ujar Riki.

Kini, status Dede telah diangkat menjadi relawan lingkungan tingkat kota di bawah arahan mantan Wali Kota Dedie Rachim.

Meski bukan berstatus pegawai dinas dengan gaji resmi, Dede kini mendapatkan dukungan logistik dan bantuan pribadi dari pimpinan kota.

“Bukan gaji sih, yang saya tahu itu langsung masuk dari kantongnya Pak Wali pribadi. Ada beberapa teman-teman relawan timnya Pak Wali di luar dinas yang memang salah satunya Dede itu masuk ke dalam bagian itu,” jelas Riki.

Bagi Dede, pekerjaan menguras tenaga ini adalah bentuk ibadah. Ia mengaku tak pernah merasa bosan meski seringkali harus berhadapan dengan air keruh dan bau menyengat. Harapannya hanya satu: masyarakat lebih peduli pada kebersihan selokan.

“Harapannya, hargai lingkungan, lebih sadar diri jangan buang sampah sembarangan. Karena belum tentu banjir di sini, tapi efek banjirnya di tempat orang-orang di sana,” pungkasnya.

Artikel Ini Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang