Sampah di Rumah Bisa Jadi Cuan, Disetor Nanti Dapat Voucher Belanja

Ilustrasi sampah.
Ilustrasi sampah.

 Kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup ramah lingkungan perlahan mulai berubah menjadi kebiasaan sehari-hari. Jika dulu memilah sampah masih dianggap merepotkan, kini semakin banyak orang mulai mencari cara praktis agar tetap bisa berkontribusi menjaga lingkungan tanpa harus mengubah rutinitas secara drastis.

Salah satu tren yang mulai berkembang adalah konsep pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan aktivitas harian masyarakat, termasuk saat berbelanja kebutuhan rumah tangga. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena membuat kebiasaan memilah sampah terasa lebih mudah dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena tersebut terlihat dari hadirnya berbagai titik pengumpulan sampah anorganik di area publik dan pusat perbelanjaan. Dengan akses yang semakin mudah, masyarakat kini bisa menyetorkan sampah plastik, kertas, maupun kemasan bekas tanpa harus datang ke fasilitas daur ulang khusus.

Ya, fasilitas Waste Station kini hadir di sejumlah gerai ritel di Jakarta, Bandung, dan Bali. Kehadiran fasilitas ini memungkinkan masyarakat membawa sampah anorganik yang sudah dipilah saat menjalankan aktivitas belanja sehari-hari.

Menariknya, sistem yang digunakan juga sudah terintegrasi secara digital. Pengguna cukup memindai QR code saat menyetorkan sampah, lalu poin yang terkumpul dapat ditukarkan menjadi voucher belanja. Konsep ini dinilai menjadi salah satu cara untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih konsisten memilah sampah dari rumah.

Koordinator Pokja Tata Laksana Produsen, Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Ujang Solihin Sidik, menilai kolaborasi lintas sektor seperti ini penting untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah di Indonesia.

“Kami mengapresiasi upaya Nestlé Indonesia bersama dengan Alfamart dalam menghadirkan fasilitas Waste Station yang semakin menjangkau masyarakat. Kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi kunci dalam mendorong pengelolaan sampah secara holistik dari hulu ke hilir, sekaligus meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya,” kata Ujang dalam keterangannya, dikutip Rabu 13 Mei 2026. 

Ia juga menekankan bahwa pengelolaan sampah nasional tidak lagi bisa hanya bergantung pada tempat pembuangan akhir.

“Diperlukan intervensi nyata dari hulu, termasuk peran aktif produsen dan akses fasilitas yang dekat dengan masyarakat. Inisiatif seperti ini perlu terus diperluas untuk mempercepat pencapaian target pengurangan sampah nasional dan implementasi ekonomi sirkular di Indonesia,” lanjutnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu sustainability memang semakin dekat dengan gaya hidup masyarakat urban. Mulai dari penggunaan tumbler, membawa tas belanja sendiri, hingga memilah sampah rumah tangga kini menjadi bagian dari kebiasaan baru yang semakin umum dijalani generasi muda.

Corporate Affairs Director Nestlé Indonesia, Fajar Dewantara, mengatakan perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu fokus penting dalam pengelolaan sampah pascakonsumsi.

“Kami berkomitmen untuk terus mendorong inovasi dalam pengembangan kemasan berkelanjutan dan juga pengelolaan sampah kemasan pasca konsumsi. Kami percaya dalam menghadapi tantangan persampahan yang semakin kompleks, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, Property and Development Director Alfamart, Hans Harischandra, menilai kebiasaan kecil seperti menyetorkan sampah saat berbelanja dapat menjadi langkah sederhana dengan dampak yang cukup besar bagi lingkungan.

“Melalui Waste Station yang terintegrasi dengan aktivitas belanja sehari-hari, kami ingin menghadirkan pengalaman baru bagi konsumen, di mana berbelanja tidak hanya memenuhi kebutuhan, tetapi juga memberikan kontribusi langsung bagi lingkungan,” ujarnya.