Mengenal Seruit, Sambal Khas Lampung yang Menyimbolkan Kesetaraan

Seruit, Lampung, Mengenal Seruit, Sambal Khas Lampung yang Menyimbolkan Kesetaraan

Seruit merupakan makanan khas Lampung yang telah menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat setempat sejak lama.

Hidangan ini berbahan dasar ikan sungai atau ikan laut yang digoreng atau dibakar, kemudian dicampur sambal terasi, tempoyak (durian fermentasi), atau mangga muda.

Seruit tidak hanya dikenal sebagai makanan sehari-hari, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan identitas budaya masyarakat Lampung.

Lalu, bagaimana sejarah makanan khas yang satu ini?

Sejarah seruit

Dilansir dari laman Disparekraf Lampung, seruit adalah olahan sambal hasil perpaduan antara tempoyak durian, sambal terasi, dan pindang ikan yang ditambah sedikit air jeruk.

Masyarakat menyebutnya dengan sebutan "nyruit", yang memiliki arti makan bersama-sama teman, saudara, atau keluarga.

Filosofi dari kata-kata nyruit itu berarti suatu ajakan yang memiliki nilai kebersamaan yang kuat antarteman dan keluarga.

Budaya nyruit diturunkan dari nenek moyang, dan hingga kini, sampai ke generasi Z, budaya itu masih tetap melekat pada masyarakat setempat.

Secara historis, seruit berkembang dari kebiasaan masyarakat Lampung yang suka memanfaatkan hasil alam di sekitarnya dengan maksimal.

Wilayah Lampung yang memiliki sungai dan termasuk kawasan pesisir membuat ikan menjadi sumber protein utama. Pengolahan ikan dengan cara dibakar atau digoreng dipilih karena praktis dan sesuai dengan pola hidup masyarakat agraris dan pesisir.

Untuk mengolah seruit sendiri, dapur tradisional Lampung biasa menggunakan ikan sungai seperti baung, belida, atau patin. 

Sedangkan dilansir dari (12/12/2022), latar belakang seruit dikisahkan sebagai kebiasaan masyarakat Way Kanan yang selalu mencari bahan makanan yang memunculkan rasa segar dan pedas.

Karena itulah, dari hasil meramu bumbu-bumbu dan hasil tangkapan ikan, lahirlah seruit yang menggugah selera.

Dicukil dari laman Indonesia Travel, seruit biasanya disantap secara bersama-sama dalam satu wadah besar.

Tradisi makan seruit ini mencerminkan nilai gotong royong, persaudaraan, dan kesetaraan yang kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Lampung. 

Bahan dan cara memasak seruit

Seruit, Lampung, Mengenal Seruit, Sambal Khas Lampung yang Menyimbolkan Kesetaraan

Seruit adalah salah satu sambal khas Lampung yang jarang dikenal publik.

Bahan-bahan untuk membuat seruit adalah sambal terasi yang sudah jadi, tempoyak durian, pindang ikan, dan sedikit air.

Proses pembuatannya pun sangat mudah dan cepat.

Diawali dengan menyiapkan sebuah mangkuk besar, memasukkan tiga hingga empat sendok makan sambal terasi yang sudah jadi, dua sendok makan tempoyak durian, daging pindang ikan, dan sedikit air.

Kalau ingin rasa lebih segar, maka kucurilah dengan air jeruk.

Semua bahan diaduk-aduk dengan tangan sampai tercampur rata.

Rasa seruit memang sedikit rasa aneh bagi yang baru mencobanya. Ada rasa asin, pedas dan asam-asam segar, juga rasa gurih dari pindang ikan.

Seruit lebih cocok dimakan dengan lalapan, baik mentah ataupun matang, seperti daun singkong yang telah direbus, labu yang telah direbus, jengkol, terong bulat kecil, petai, julang-jaling, dan daun mangga muda.

Seruit yang sudah jadi biasanya dimakan dengan nasi panas atau hangat, sehingga lebih menggugah selera.

Tradisi nyruit kerap dilakukan dalam berbagai acara adat, syukuran, hingga pertemuan keluarga dan masyarakat.

Hingga kini seruit tetap lestari dan terus diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan kuliner nusantara.

Pemerintah daerah bersama Kemenparekraf juga aktif mempromosikan seruit sebagai warisan gastronomi Lampung yang sarat nilai budaya dan kebersamaan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang