AS Buka-bukaan Soal Operasi Absolute Resolve dalam Penangkapan Maduro
Militer Amerika Serikat mengungkap rincian operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang berlangsung pada awal Januari 2026.
Operasi tersebut, diberi nama Operasi Absolute Resolve, diklaim telah dipersiapkan dan dilatih selama berbulan-bulan.
Ketua Kepala Staf Gabungan Militer AS menyebut operasi dilakukan secara rahasia dengan pengerahan kekuatan besar dari udara.
Dilansir dari Antara, pernyataan ini disampaikan di tengah sorotan global atas tindakan AS di Venezuela.
Operasi Absolute Resolve Disiapkan Berbulan-bulan
Ketua Kepala Staf Gabungan Militer AS Dan Caine mengatakan operasi Amerika Serikat di Venezuela telah direncanakan dan dilatih selama berbulan-bulan sebelum dieksekusi.
"Operasi ini, yang dikenal sebagai Operasi Absolute Resolve, dilakukan secara diam-diam, tepat sasaran, dan dilaksanakan pada saat-saat paling gelap pada 2 Januari," kata Caine dalam sebuah pengarahan.
"Ini merupakan puncak dari perencanaan dan latihan selama berbulan-bulan; sebuah operasi yang terus terang hanya dapat dilakukan oleh militer AS," imbuhnya.
Caine menambahkan bahwa selalu ada kemungkinan pasukan Amerika Serikat akan kembali ditugaskan untuk menjalankan misi serupa di masa mendatang.
Lebih dari 150 Pesawat AS Dikerahkan
Dalam penjelasan terpisah, Caine mengungkapkan bahwa operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro melibatkan pengerahan besar-besaran armada udara.
"Sepanjang malam, pesawat mulai lepas landas dari 20 pangkalan berbeda di darat dan laut di seluruh belahan bumi bagian barat," kata Caine kepada wartawan.
"Secara total, lebih dari 150 pesawat, termasuk pesawat pengebom, pesawat tempur, pesawat intelijen, pesawat pengintai, pesawat pengawasan, dan helikopter, berada di wilayah udara."
Ia menambahkan, personel yang terlibat dalam misi tersebut berasal dari berbagai usia, dengan anggota kru termuda berusia 20 tahun dan tertua berusia 49 tahun.
Trump Akui Semua Opsi Dipertimbangkan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington sempat mempertimbangkan berbagai kemungkinan dalam operasi penangkapan Maduro, termasuk opsi paling keras.
“Itu bisa saja terjadi,” kata Trump kepada wartawan, Sabtu, ketika ditanya apakah opsi mematikan turut dipertimbangkan dalam operasi tersebut.
Trump juga mengatakan Maduro sempat berupaya melarikan diri ke lokasi yang dianggap aman selama operasi berlangsung, namun gagal.
Foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan penutup mata saat diangkut di kapal USS Iwo Jima menuju New York, diunggah Presiden Amerika Serikat Donald Trump di platform Truth Social pada Sabtu (3/1/2026), setelah serangan di Caracas.
Maduro dan Istri Ditahan Militer AS
Dalam pernyataan yang dikutip media, Caine menyebut Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang menurut AS telah didakwa, akhirnya menyerah.
Keduanya kemudian ditahan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat dengan dukungan militer AS.
Operasi tersebut, kata Caine, dijalankan dengan “profesionalisme dan presisi” serta tidak menimbulkan korban jiwa di pihak Amerika Serikat.
Laporan Ledakan di Caracas
Pada Sabtu, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan menangkap Maduro beserta istrinya untuk kemudian dibawa ke luar negeri.
Sejumlah media melaporkan adanya ledakan di Caracas dan mengklaim operasi dilakukan oleh unit elite Delta Force.
Hingga kini, otoritas Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim tersebut.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang