Arsenal Puncaki Klasemen Liga Inggris, Menang tapi Masih Menyisakan Banyak Tanda Tanya
Arsenal tengah berdiri di puncak klasemen Liga Inggris. Namun, kemenangan 2-1 atas Brighton & Hove Albion di Emirates Stadium, Sabtu waktu setempat, justru mempertegas satu hal penting: The Gunners masih berjalan di atas garis tipis antara kejayaan dan kegelisahan.
Tambahan tiga poin memang membuat pasukan Mikel Arteta unggul dua angka dari Manchester City. Akan tetapi, cara Arsenal meraihnya kembali memunculkan pertanyaan besar soal stabilitas mental dan ketenangan permainan mereka, terutama saat berada di bawah tekanan.
Arsenal sejatinya pantas memenangkan laga ini. Mereka menguasai jalannya pertandingan sejak menit awal, bahkan mencatatkan 15 tembakan di babak pertama sementara Brighton nihil percobaan. Namun, dominasi itu tak serta-merta berbanding lurus dengan rasa aman.
Gol pembuka datang dari kaki Martin Odegaard lewat sepakan jarak jauh khas sang kapten. Menariknya, gol tersebut menjadi yang pertama bagi Odegaard sejak 25 Mei lalu, sebuah catatan yang menunjukkan betapa Arsenal masih mencari konsistensi di lini serang.
Keunggulan tuan rumah bertambah di awal babak kedua ketika Georginio Rutter salah mengantisipasi bola sepak pojok Declan Rice dan justru mencetak gol bunuh diri. Skor 2-0 seharusnya cukup untuk menutup laga dengan nyaman. Namun, Arsenal kembali terjebak dalam skenario yang berulang.
Brighton perlahan bangkit. Yasin Ayari sempat membentur tiang, sebelum Diego Gómez memanfaatkan bola rebound dan mengubah skor menjadi 2-1. Stadion mendadak senyap. Rasa percaya diri Arsenal pun seolah menguap.
Dalam momen genting tersebut, David Raya tampil sebagai penyelamat. Kiper asal Spanyol itu melakukan penyelamatan krusial saat Yankuba Minteh melepaskan tembakan melengkung keras, menjaga Arsenal tetap unggul di saat tekanan memuncak.
Masuknya Gabriel Magalhães yang menjalani penampilan pertamanya sejak 8 November memang sedikit meredam situasi. Namun, peluang emas justru terbuang ketika Gabriel Martinelli gagal memaksimalkan umpan Bukayo Saka dari jarak dekat. Reaksi frustrasi Arteta di pinggir lapangan menggambarkan betul betapa tegangnya situasi.
Arsenal akhirnya bertahan hingga peluit panjang berbunyi. Pengumuman stadion menegaskan mereka kembali ke puncak klasemen. Tetapi, pertanyaan besar tetap menggantung: mengapa setiap kemenangan harus terasa begitu melelahkan?
Statistik memperlihatkan pola yang mengkhawatirkan. Arsenal kembali menang dengan selisih satu gol, menyusul laga-laga ketat sebelumnya melawan Wolves dan Everton, serta kemenangan lewat adu penalti kontra Crystal Palace setelah kebobolan di menit akhir. Ini menjadi pertandingan kandang ketiga beruntun yang diakhiri dengan ketegangan tak perlu.
Lebih jauh, Arsenal juga diuntungkan oleh empat gol bunuh diri dalam empat laga terakhir di semua kompetisi. Hasilnya memang konsisten, tetapi performanya belum sepenuhnya mencerminkan otoritas calon juara.
Tekanan itu terasa pula dari tribun. Arteta tak menampik adanya ketegangan di sekitar timnya.
“Ketika Anda baru saja kebobolan di menit akhir pada pertandingan sebelumnya, lalu kembali mengalami hal serupa, itu wajar,” kata Arteta dikutip ESPN.
“Kami harus melalui momen-momen seperti ini dengan normalitas, dengan ketenangan. Jika tidak efisien di area lawan, maka Anda harus sangat kuat di area sendiri,” sambungnya.
Masalah Arsenal semakin kompleks dengan krisis cedera yang belum reda. Jurrien Timber absen mendadak sebelum laga, sementara Riccardo Calafiori harus ditarik keluar saat pemanasan. Kondisi ini memaksa Declan Rice bermain sebagai bek kanan dadakan, dengan Myles Lewis-Skelly mengisi sisi sebaliknya.
Arteta memuji sikap anak asuhnya dalam situasi darurat tersebut.
Arteta memuji sikap profesional Declan Rice yang tanpa ragu menerima keputusan untuk bermain sebagai bek kanan dadakan dan menyatakan kesiapannya menghadapi tantangan tersebut, sesuatu yang menurutnya sangat luar biasa untuk disaksikan.
Dengan setengah musim masih tersisa, Arsenal dihadapkan pada dilema besar. Jika skuad utama pulih dan ketajaman di lini depan kembali optimal, Manchester City bisa berada dalam posisi sulit. Namun jika pola permainan penuh tekanan ini terus berlanjut, lima bulan ke depan bisa menjadi perjalanan yang sangat menguras emosi.
Arteta menegaskan bahwa kemenangan selalu membawa pelajaran penting bagi timnya untuk terus melangkah ke depan, seraya menyebut dampak berkelanjutan dari hasil positif sangat kuat bagi perkembangan tim.
Ujian berikutnya sudah menanti. Aston Villa akan bertandang ke Emirates Stadium, tim yang awal bulan ini mencuri kemenangan lewat gol menit ke-95. Sebuah pengingat bahwa bagi Arsenal, margin tipis dan drama di menit akhir masih menjadi cerita yang terus berulang.