Perjalanan Terakhir Linmas Klaten, Tragedi Bus Cahaya Trans di Tol Krapyak

kecelakaan bus, Perjalanan Terakhir Linmas Klaten, Tragedi Bus Cahaya Trans di Tol Krapyak, Kades Cek Langsung ke Rumah Korban, Tangis Pecah Saat Pemakaman, Berangkat Bersama Istri ke Jakarta, Empat Korban Tewas Asal Klaten, Kondisi Bus dan Kronologi Kecelakaan, 16 Penumpang Tewas, Sopir Diamankan Polisi

Suasana duka menyelimuti Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, setelah salah satu warganya dipastikan menjadi korban meninggal dunia dalam kecelakaan maut bus PO Cahaya Trans di Tol Krapyak, Kota Semarang.

Kepala Desa Pundungan, Danang Setiawan, mengaku sempat tidak percaya saat pertama kali menerima kabar bahwa korban tewas dalam kecelakaan bus Cahaya Trans merupakan warganya.

“Awalnya saya tidak percaya waktu dikabari. Maksudnya, orangnya ada di rumah,” ujar Danang Setiawan, Senin (22/12/2025).

Kecelakaan bus Cahaya Trans tersebut terjadi di Simpang Susun Krapyak, ruas Tol Kota Semarang, pada Senin (22/12/2025) sekitar pukul 00.45 WIB. Bus yang melaju dari Bogor menuju Yogyakarta itu mengalami kecelakaan tunggal di tikungan KM 420A.

Kades Cek Langsung ke Rumah Korban

Karena ragu dengan informasi yang diterima, Danang Setiawan langsung mendatangi rumah korban untuk memastikan kebenaran kabar tersebut. Namun, setibanya di lokasi, rumah korban diketahui dalam keadaan kosong.

“Setelah dipastikan, ternyata rumahnya memang kosong,” ucap Danang.

Setelah seluruh informasi dinyatakan benar, pihak desa kemudian menginformasikan kabar duka tersebut kepada warga setempat. Aparat desa dan masyarakat sekitar pun langsung bergerak membantu persiapan penyambutan jenazah hingga proses pemakaman.

Korban tewas asal Desa Pundungan tersebut bernama Srihono (53). Almarhum dikenal sebagai anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) Desa Pundungan.

“Beliau petugas Linmas,” kata Danang, seperti dikutip dari TribunSolo.com.

Selain aktif sebagai anggota Linmas selama sekitar tiga tahun terakhir, Srihono dikenal sebagai pribadi yang ramah dan ringan tangan.

“Orangnya entengan, sering membantu. Dia juga aktif sebagai Linmas,” ujar Danang.

Bahkan, sebelum kejadian nahas itu, Srihono sempat membantu sebagai tukang dalam pembangunan di sekitar kediaman kepala desa.

“Sosoknya juga ramah,” imbuh Danang.

Begitu kabar duka tersebut dipastikan, pihak desa bersama warga langsung menyiapkan seluruh keperluan pemakaman.

“Begitu mendengar kabar itu, kami langsung mempersiapkan segala keperluan pemakaman,” pungkas Danang.

Tangis Pecah Saat Pemakaman

Srihono tercatat sebagai satu dari 16 korban meninggal dunia dalam kecelakaan bus Cahaya Trans di Tol Krapyak Semarang. Jenazah almarhum tiba di rumah duka sekitar pukul 14.30 WIB dan langsung dimakamkan tidak lama kemudian.

Saat jenazah diberangkatkan menuju tempat pemakaman umum yang berjarak sekitar 150 meter dari rumah duka, suasana haru tak terbendung. Tangis keluarga pecah, termasuk istri almarhum, Rujiyanti (54).

Ekspresi duka mendalam tampak jelas di wajah Rujiyanti saat melepas kepergian suaminya. Rujiyanti sendiri diketahui menjadi salah satu korban selamat dalam kecelakaan maut bus Cahaya Trans tersebut.

Keluarga juga memberikan penghormatan terakhir dengan melakukan tradisi brobosan, yakni prosesi adat Jawa di mana keluarga almarhum berjalan menerobos atau merunduk di bawah keranda jenazah sebanyak tiga atau tujuh kali sebelum dimakamkan.

Tradisi brobosan dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir, pelepasan emosional, serta harapan agar sifat baik dan keteladanan almarhum dapat menurun kepada keluarga yang ditinggalkan.

Berangkat Bersama Istri ke Jakarta

Adik almarhum, Susanto, mengungkapkan bahwa Srihono berangkat ke Jakarta bersama istrinya untuk menjenguk keluarga.

“Mereka berangkat bersama untuk menengok keluarga yang habis melahirkan di Cikarang,” kata Susanto, Senin (22/12/2025).

Menurut Susanto, keberangkatan Srihono dan istrinya dilakukan bersama rombongan keluarga dari Boyolali.

“Berangkatnya rombongan, bersama keluarga dari Boyolali,” ujarnya.

Adapun keluarga dari Boyolali yang ikut dalam perjalanan tersebut antara lain Ngatiyem (48), Anis Munandar (36), dan Sugimo (62).

Susanto menambahkan, kabar duka pertama kali diterima keluarga melalui Kepala Desa Pundungan.

“Keluarga di sini tahu setelah dikabari Pak Kepala Desa,” ucapnya.

Empat Korban Tewas Asal Klaten

Selain Srihono, terdapat tiga korban meninggal dunia lainnya yang berasal dari Kabupaten Klaten dalam kecelakaan bus Cahaya Trans di Tol Krapyak Semarang. Keempat korban tersebut adalah:

  • Sadimin (57), warga Bantengan RT 01 RW 14, Kelurahan Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten
  • Srihono (53), warga Gatak RT 03 RW 03, Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten
  • Listiana (44), warga Dosaran RT 18 RW 05, Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten
  • Yanto (47), warga Dosaran RT 18 RW 05, Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten

Kondisi Bus dan Kronologi Kecelakaan

Bus PO Cahaya Trans yang terlibat kecelakaan maut tersebut tampak ringsek parah usai dievakuasi dari lokasi kejadian. Bus berwarna kuning itu kini diparkir di depan Gerbang Tol Muktiharjo, Kota Semarang, untuk kepentingan penyelidikan.

Dari pantauan, sisi kanan bus mengalami kerusakan berat mulai dari bagian depan hingga belakang. Kaca depan bagian atas terlepas, sementara seluruh kaca di sisi kanan pecah berhamburan.

Kursi-kursi penumpang di sisi kanan bus juga tampak rusak parah, menggambarkan dahsyatnya benturan yang terjadi.

Berdasarkan penelusuran awal, bus diduga kehilangan kendali saat melintasi tikungan KM 420A. Kendaraan kemudian miring ke kanan, terguling, terseret, dan menghantam pembatas jalan di sisi kanan.

Di lokasi kejadian, pembatas jalan berupa konstruksi cor tampak roboh dan rusak parah akibat benturan.

16 Penumpang Tewas, Sopir Diamankan Polisi

Dampak kecelakaan bus Cahaya Trans tersebut sangat fatal. Sebanyak 16 penumpang meninggal dunia, terdiri dari 15 korban yang tewas di lokasi kejadian dan satu korban meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Tugurejo, Semarang.

Selain itu, 17 penumpang lainnya mengalami luka-luka, dengan sembilan korban dirawat intensif di RSUD dr. Adhyatma MPH (Tugurejo), Kota Semarang.

Fakta lain yang terungkap, sopir bus diketahui masih tergolong baru mengemudikan rute Bogor–Yogyakarta.

Pengemudi tersebut baru dua kali melakukan perjalanan pulang-pergi pada rute tersebut dan kini telah diamankan pihak kepolisian untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dalam peristiwa ini, sopir hanya mengalami luka ringan.

Sementara itu, kernet bus Robi Sugianto (51), warga Bumiayu, Kabupaten Brebes, juga menjadi korban selamat dengan kondisi patah tulang kaki kanan dan luka di bagian kepala.

Ia mengaku berada di bagian depan bus dan merasakan kendaraan tiba-tiba miring ke kanan sebelum akhirnya terguling dan menghantam pembatas jalan.

Polda Jawa Tengah memastikan seluruh korban kecelakaan bus Cahaya Trans di Tol Krapyak Semarang mendapatkan penanganan medis secara maksimal.

Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses penyelidikan dengan melibatkan pemeriksaan kendaraan, kondisi jalan, serta faktor pengemudi.

Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Sosok Srihono Korban Tewas Kecelakaan Bus di Tol Krapyak Semarang: Linmas Desa Pundungan

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang