Enam Tahun Arteta di Arsenal: Dari Penonton di Goodison Park hingga Kandidat Juara Liga Inggris

Manajer Arsenal, Mikel Arteta
Manajer Arsenal, Mikel Arteta

 Enam tahun lalu, Mikel Arteta hanya duduk diam di tribun Goodison Park. Baru sehari ditunjuk sebagai pelatih Arsenal, pria asal Spanyol itu belum bisa berbuat banyak selain menyaksikan The Gunners bermain imbang tanpa gol melawan Everton.

Hasil tersebut membuat Arsenal terpuruk di posisi ke-11 klasemen Premier League. Tugas besar langsung menanti Arteta: membangun ulang tim dan mengubah arah klub yang kala itu kehilangan identitas.

Di bangku penonton, Arteta duduk berdampingan dengan Vinai Venkatesham dan Raul Sanllehi—dua figur penting yang kini sudah tak lagi berada di Emirates Stadium. Dari skuad yang bertandang ke Goodison Park saat itu, hanya Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli yang masih bertahan di Arsenal hingga kini.

Enam tahun berlalu, perubahan di tubuh Arsenal terasa begitu drastis. Jika saat itu clean sheet menjadi barang langka—hanya tiga kali dalam 18 laga—kini Arsenal mampu mencapainya hanya dalam empat pertandingan di awal musim.

Perbedaan paling mencolok terlihat pada kedalaman skuad. Meski harus kehilangan Gabriel, Cristhian Mosquera, dan Ben White akibat cedera, Arsenal masih sanggup menurunkan lini belakang solid berisi Jurrien Timber, William Saliba, Piero Hincapie, dan Riccardo Calafiori.

Bandingkan dengan enam tahun lalu, ketika Arteta harus mengandalkan Konstantinos Mavropanos dan Shkodran Mustafi sebagai pelapis David Luiz dan Calum Chambers. Kontras tersebut menjelaskan mengapa ekspektasi terhadap Arteta kini berada di titik tertinggi sepanjang masa kepelatihannya di Arsenal.

Legenda klub Thierry Henry bahkan secara terbuka menyebut Arsenal “harus” menjuarai Premier League musim ini. Ketika komentar itu ditanyakan langsung kepadanya, Arteta merespons dengan tenang.

“Itu tidak masalah. Kami akan melakukan yang terbaik, dengan seluruh kemampuan yang kami miliki, untuk mencapai target itu. Saya jamin,” kata Arteta.

Perburuan gelar berlanjut dengan kembalinya Arsenal ke markas Everton—stadion yang menyimpan banyak kenangan bagi Arteta, baik sebagai pemain maupun pelatih. Selama enam tahun membela Everton, Arteta jarang menikmati kepulangan yang manis ke Goodison Park.

Sebagai pelatih Arsenal, ia hanya mencatat satu kemenangan dari lima kunjungan, yakni kemenangan tipis 1-0 pada 2023 lewat gol Leandro Trossard.

Kini, Everton telah meninggalkan Goodison Park dan pindah ke Hill Dickinson Stadium. Arteta pun berharap lembaran baru stadion tersebut membawa peruntungan berbeda bagi Arsenal.

Tanda-tanda awal cukup menjanjikan. Tottenham menang 3-0 di sana, Newcastle pesta gol 4-1, sementara West Ham dan Aston Villa mampu mencuri poin.

“Kami harus melihat langsung bagaimana atmosfernya nanti. Jelas akan berbeda, tetapi saya rasa akan ada hal-hal positif juga,” ujar Arteta.

Namun, performa kurang meyakinkan saat menghadapi Wolves pekan lalu menjadi alarm peringatan. Apalagi Arsenal hanya unggul dua poin dari Manchester City yang terus mengintai.

Ketika ditanya apa keinginan Natalnya tahun ini, Arteta menjawab singkat namun tegas: “Menang, menang, menang.”

Jika Arsenal mampu mengalahkan Everton, mereka akan duduk di puncak klasemen saat Hari Natal—sesuatu yang enam tahun lalu mungkin terdengar mustahil, bahkan bagi Arteta yang paling optimistis.