Hari ke-12 Konflik Thailand-Kamboja di Perbatasan, 52 Tewas dari Kedua Pihak

Militer Thailand mengevakuasi warga korban serangan Kamboja di perbatasan
Militer Thailand mengevakuasi warga korban serangan Kamboja di perbatasan

 Bentrokan bersenjata di perbatasan Thailand–Kamboja terus memakan korban jiwa. Sejak konflik dimulai 12 hari lalu, sedikitnya 55 orang dilaporkan tewas di kedua belah pihak.

Militer Thailand mengonfirmasi empat kematian terbaru di pihak militernya, sehingga total tentara Thailand yang tewas sejak konflik kembali memanas mencapai 21 orang dan 16 warga sipil Thailand tewas.

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Kamboja menyebutkan 18 warga sipil Kamboja tewas dan 78 lainnya luka-luka. Kamboja tidak melaporkan secara spesifik personel militernya yang tewas.

Dalam pernyataan resminya, Tentara Kerajaan Thailand pada Kamis, 18 Desember 2025, menyebut empat prajurit gugur dalam pertempuran yang terjadi di sejumlah titik perbatasan sejak 16 hingga 17 Desember 2025.

Keempat prajurit tersebut adalah Sersan Mayor Samroeng Khlangprakhon dan Prajurit Phanupat Saorsa dari Batalyon Infanteri ke-3, Resimen Infanteri ke-23, yang gugur dalam pertempuran di Bukit 350, Prasat Takwai, pada 16 Desember 2025. Selain itu, Sersan Mayor Pornsak Iamsa-ad dari Batalyon Infanteri ke-1, Resimen Infanteri ke-2 (Pengawal Kerajaan) tewas dalam pertempuran di Ban Nong Chan pada 17 Desember 2025. Prajurit Wasan Khanhuathon dari Batalyon Infanteri ke-3, Resimen Infanteri ke-13, juga dilaporkan gugur di Sam Tae pada hari yang sama.

Militer Thailand menyatakan duka mendalam atas gugurnya para prajurit tersebut dan menyampaikan komitmen untuk memberikan dukungan serta jaminan kesejahteraan bagi keluarga korban.

Di pihak lain, pemerintah Kamboja melaporkan meningkatnya korban sipil akibat konflik yang masih berlangsung. Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Kamboja, Touch Sokhak, mengatakan hingga Rabu pukul 18.00 waktu setempat, jumlah warga sipil Kamboja yang tewas telah mencapai 18 orang, dengan 78 orang lainnya mengalami luka-luka.

Selain korban jiwa, konflik ini juga memicu krisis kemanusiaan. Pemerintah Kamboja mencatat sebanyak 144.066 keluarga atau 476.179 orang mengungsi dari wilayah terdampak, termasuk lebih dari 240.000 perempuan dan 130.000 anak-anak.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Letnan Jenderal Maly Socheata, menuding pasukan Thailand terus melancarkan serangan ke sejumlah posisi di wilayah Kamboja sejak tengah malam hingga Kamis pagi.

Konflik perbatasan antara Kamboja dan Thailand kembali memanas sejak 7 Desember 2025. Kedua negara saling menuduh sebagai pihak yang memulai serangan, sementara upaya diplomatik regional dan internasional terus didorong untuk menghentikan eskalasi dan mencegah bertambahnya korban.