Filipina Bantah Pelaku Penembakan di Pantai Bondi Ikut Kamp Teroris Davao

Pelaku penembakan di Pantai Bondi, Sydney teridentifikasi ayah dan anak
Pelaku penembakan di Pantai Bondi, Sydney teridentifikasi ayah dan anak

 Pasangan ayah dan anak yang diduga terlibat dalam penembakan massal di Pantai Bondi, Australia, dilaporkan sempat bersembunyi di sebuah hotel di Filipina selama beberapa pekan sebelum insiden berdarah tersebut terjadi.

Sajid Akram dan putranya, Naveed, yang diduga menewaskan 15 orang di Sydney, tercatat menginap di Hotel GV, Davao, sejak 1 November. Selama berada di hotel, keduanya disebut jarang berinteraksi dan hanya meninggalkan kamar sekitar satu jam setiap hari, menurut keterangan staf hotel kepada AFP, Kamis (18 Desember).

"Keduanya tidak mudah didekati. Tamu asing lain biasanya mengobrol, tetapi mereka tidak,” ujar Angelica Ytang (20), manajer resepsionis malam hotel tersebut dilansir CNA, Kamis. Ia mengatakan interaksi hanya terjadi dengan Naveed, sementara Sajid cenderung menunduk dan menghindari kontak mata.

Pejabat imigrasi Filipina sebelumnya mengonfirmasi bahwa kedua pria itu masuk ke Filipina pada 1 November dengan Davao sebagai tujuan akhir. Mereka menempati kamar nomor 315 dengan tarif 930 peso atau sekitar US$16 per malam.

Warga berdoa dan memberikan penghormatan kepada korban penembakan di Sydney

Menurut Ytang, pasangan tersebut biasanya keluar hotel pada pagi hari, namun tidak lama berada di luar. “Waktu terlama yang kami amati sekitar satu jam,” katanya. Selama menginap, mereka tidak pernah menjelaskan tujuan perjalanan maupun rencana aktivitas mereka.

Salah satu percakapan singkat yang sempat terjadi adalah ketika keduanya menanyakan lokasi penjual durian, buah khas Asia Tenggara. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil.

Ytang juga mengaku tidak pernah melihat mereka bertemu dengan orang lain atau menggunakan kendaraan selama berada di hotel. “Mereka hanya berjalan-jalan,” ujarnya.

Para staf hotel baru menyadari identitas pasangan tersebut setelah melihat laporan pemberitaan internasional terkait penembakan massal di Sydney. Dua karyawan hotel lainnya turut mengonfirmasi bahwa Sajid dan Naveed memang menginap di lokasi tersebut.

Bantahan Filipina

Sementara itu, otoritas Australia tengah menyelidiki kemungkinan kedua pria tersebut sempat berlatih dengan kelompok ekstremis selama berada di wilayah selatan Filipina, khususnya Davao, Mindanao, yang memiliki sejarah panjang konflik bersenjata dan dikenal sebagai pusat pemberontakan ekstremis.

Namun pemerintah Filipina menegaskan hingga kini tidak ditemukan bukti bahwa wilayahnya digunakan sebagai tempat pelatihan teroris. 

"(Presiden Ferdinand Marcos) dengan tegas menolak pernyataan yang menyapu bersih dan karakterisasi yang menyesatkan tentang Filipina sebagai pusat pelatihan ISIS," kata juru bicara presiden Claire Castro dalam konferensi pers.

"Tidak ada bukti yang diajukan untuk mendukung klaim bahwa negara itu digunakan untuk pelatihan teroris," tambahnya, membacakan pernyataan dari Dewan Keamanan Nasional.

"Tidak ada laporan atau konfirmasi yang tervalidasi bahwa individu yang terlibat dalam insiden Pantai Bondi menerima pelatihan dalam bentuk apa pun di Filipina."