Top 75+ Tahun Kelola Haji, Kemenag Abadikan Sejarah Haji dalam Tiga Jilid Buku

Penampakan tenda-tenda jemaah haji di Mina, Makkah, Arab Saudi, Rabu (21/5/2025)
Penampakan tenda-tenda jemaah haji di Mina, Makkah, Arab Saudi, Rabu (21/5/2025)

 Penyelenggaraan ibadah haji 2025 menjadi tonggak akhir pengelolaan haji oleh Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama. Mulai tahun depan, penyelenggaraan haji Indonesia resmi beralih dan ditangani oleh Kementerian Haji dan Umrah.

Sebagai penanda sekaligus dokumentasi memori kolektif selama 75 tahun penyelenggaraan haji di bawah Kementerian Agama, Ditjen PHU meluncurkan buku berjudul Haji Indonesia Era Kementerian Agama. Buku tersebut dirilis dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama di Tangerang Selatan, Banten, Selasa (16/12/2025).

Ditjen PHU rilis buku Haji Indonesia Era Kementerian Agama

Peluncuran ditandai dengan penyerahan buku oleh Direktur Jenderal PHU Hilman Latief kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, dan Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin. Momen tersebut sekaligus menjadi ajang pamitan Ditjen PHU atas berakhirnya mandat pengelolaan haji oleh Kementerian Agama.

"Kami bersyukur haji terakhir sukses dilakukan Kemenag. Tahun depan, pelaksanaan haji diselenggarakan oleh Kementerian Haji dan Umrah," ujar Hilman Latief.

Hilman mengakui, penyelenggaraan haji 2025 merupakan tantangan terberat bagi Ditjen PHU Kemenag karena kompleksitas persoalan dan dinamika yang dihadapi. Meski demikian, pelaksanaan haji dinilai berjalan sukses. Pemerintah Arab Saudi bahkan menyebut penyelenggaraan haji Indonesia sebagai yang terbaik sepanjang masa, dengan indeks kepuasan jemaah yang terus meningkat dan berada pada kategori sangat memuaskan.

Menurut Hilman, 75 tahun penyelenggaraan haji bukanlah waktu yang singkat. Ia mengingat pesan Menteri Agama dan Wakil Menteri Agama bahwa meskipun pengelolaan haji ke depan berada di kementerian baru, Kementerian Agama tetap dapat berkontribusi melalui penyusunan dokumen yang menjadi memori kolektif umat Islam Indonesia.

Jemaah calon haji dari berbagai negara melakukan Tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi

Jemaah calon haji dari berbagai negara melakukan Tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi

“Hari ini kami persembahkan buku ‘Haji Indonesia Era Kementerian Agama’. Mudah-mudahan buku ini bisa sampai pada para Rektor PTKIN dan Kanwil Kemenag Provinsi serta para pemangku kepentingan untuk menjadi pegangan dan memori kolektif Kemenag,” kata Hilman.

Proses penyusunan buku ini dikoordinasikan oleh Sekretaris Ditjen PHU, M Arfi Hatim, bersama tim akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Buku setebal sekitar 2.300 halaman tersebut ditulis oleh Hilman Latief bersama tim dalam waktu relatif singkat setelah pelaksanaan musim haji.

Penyuntingan dan pengemasan buku dipercayakan kepada Hadi Rahman dan Oman Fathurahman, filolog terkemuka yang juga dikenal sebagai editor buku Naik Haji di Masa Silam.

“Ini boleh jadi merupakan buku paling tebal tentang haji Indonesia yang isinya komprehensif,” ujar M Arfi Hatim.

Ia menjelaskan, buku ini disusun berbasis sumber primer yang dimiliki Kementerian Agama serta berbagai referensi kredibel lainnya, sehingga memenuhi standar akademik.

Buku Haji Indonesia Era Kementerian Agama diterbitkan dalam tiga jilid. Jilid pertama bertajuk Dari Masa ke Masa yang memuat narasi kronologis penyelenggaraan haji Indonesia sejak 1950 hingga 2025. Jilid kedua berjudul Ekosistem dan Kebijakan yang mengulas berbagai kebijakan strategis penyelenggaraan haji selama 75 tahun. Sementara jilid ketiga bertajuk Adaptasi dan Inovasi yang menyoroti perjalanan inovasi dalam layanan haji Indonesia.

“Tiga jilid buku itu masing-masing punya sudut pandang, tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” kata M Arfi Hatim.