Stress hingga BAB Berdarah? Waspada Penyakit Radang Usus
Penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) menjadi salah satu kondisi kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius. IBD merupakan gangguan medis yang terjadi akibat adanya peradangan kronis pada saluran pencernaan dan dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya, terutama ketika gejala tiba-tiba muncul atau kambuh akibat faktor pencetus seperti stres. Scroll lebih lanjut yuk!
Apa Itu IBD dan Gejalanya?
IBD terdiri dari dua jenis utama, yakni kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Keduanya ditandai dengan peradangan pada usus, namun dapat menyerang area yang berbeda-beda dalam sistem pencernaan. Para ahli menjelaskan bahwa kondisi ini bersifat kronis dan membutuhkan pemantauan jangka panjang.
Gejala IBD dapat bervariasi pada tiap pasien, mulai dari tingkat ringan hingga berat. Beberapa tanda umumnya meliputi nyeri dan kram perut, diare berulang, mudah lelah, penurunan berat badan drastis, demam, hingga BAB berdarah.
Kombinasi gejala ini sering membuat pasien merasa khawatir dan terdorong untuk mencari penanganan medis lebih lanjut.
Peran Stres dalam Memicu Kambuhnya IBD
Selain faktor fisik, aspek psikologis ternyata juga memiliki kontribusi besar terhadap kondisi pasien IBD. Dalam penjelasannya, seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam menekankan bahwa gangguan psikologis dapat memicu kekambuhan penyakit ini.
"Saya menyampaikan memang faktor psikologis berperan. Tadi yang saya bilang, IBD nggak pernah kambuh, tapi ketika udah mau masuk usia pensiun, udah memikirkan nanti nganggur, nggak punya penghasilan, anaknya masih sekolah, misalnya, ini juga akan jadi faktor. Tapi, jangan dibalik," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD, K-GEH, FACP, FACG, dalam acara Pekan Kesadaran Kolitis Ulseratif Penyakit Crohn 2025 bersama Yayasan Gastroenterologi Indonesia, di Jakarta, Selasa 9 Desember 2025.
Pekan Kesadaran Kolitis Ulseratif Penyakit Crohn 2025
Ia menegaskan bahwa stres tidak menyebabkan IBD, namun dapat mencetuskan kekambuhannya.
"Kondisi IBD ini bisa relapse, yang saya bilang tadi kambuh, karena faktor psikologis atau faktor psikologis ini kan ngak selalu karena faktor pikiran," jelas Prof. Ari.
Stres sendiri dapat muncul dalam berbagai bentuk. Pada beberapa pasien, kurang tidur menjadi pemicu yang kuat. Beban pekerjaan yang terlalu berat juga kerap menjadi faktor pemicu stres yang pada akhirnya memperburuk kondisi usus.
"Ada beberapa pasien yang juga kurang tidur, itu juga jadi faktor stress atau karena beban pekerjaan yang cukup besar. Dengan kata lain, bukan terlalu reguler, tapi terlalu berat sekali pekerjaan yang diselesaikan, sehingga mempengaruhi juga stress dari pasien tersebut," kata Prof. Ari.
"Bukan stressnya yang bikin IBD, tapi IBD ini bisa kambuh kalau faktornya adalah faktor stress sebagai pencetusnya," tambahnya.
Pengaruh Psikosomatik pada Usus
Tidak hanya stres dalam bentuk tekanan pikiran, gangguan psikosomatik seperti kecemasan juga dapat memengaruhi kondisi usus. Dokter menjelaskan bagaimana proses biologis dalam tubuh dapat berubah akibat stres psikologis yang berat.
"Kalau kesel segala macam, pokoknya anxiety lah kita bilang, bagaimana dengan gangguan di ususnya? Itu usus yang tenang-tenang akhirnya jadi radang lagi karena memang sudah terbukti. Ada hubungan karena faktor-faktor stres di otak itu akan menyebabkan proses-proses peradangan jadi meningkat. Bahkan sel-sel yang tenang-tenang saja, yang memang ada bakat kanker, gara-gara stres akhirnya kankernya jadi keluar. Ini yang memang akhirnya masalah stres itu tidak boleh dianggap sederhana," jelas Prof Ari.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kondisi emosional tidak bisa dipisahkan dari kesehatan fisik, terutama bagi pasien dengan penyakit kronis seperti IBD.
Faktor Risiko Lain IBD
Meski stres menjadi faktor besar yang memicu kambuhnya IBD, ada sejumlah risiko lain yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit ini. Beberapa faktor tersebut meliputi:
- Genetik, yaitu riwayat keluarga dengan IBD.
- Lingkungan, termasuk pola makan dan gaya hidup.
- Gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan tubuh menyerang jaringan usus sendiri.
- Lapisan mukosa usus yang tidak berfungsi optimal, sehingga rentan mengalami kerusakan dan peradangan.