Gubernur Mualem Tegur Bupati yang Cengeng Tangani Banjir: Letakkan Jabatan, Ganti yang Lain

banjir aceh, bencana hidrometeorologi, Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Gubernur Aceh Mualem, longsor aceh, Gubernur Mualem Tegur Bupati yang Cengeng Tangani Banjir: Letakkan Jabatan, Ganti yang Lain

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, mengeluarkan pernyataan tegas terkait penanganan banjir dan longsor yang berdampak luas di berbagai wilayah Aceh.

Dalam konferensi pers di Aceh Timur pada Kamis (4/12/2025), ia meminta seluruh bupati dan wali kota untuk bersikap proaktif, tidak mengeluh, dan tidak menghindar dari tanggung jawab dalam menghadapi bencana besar ini.

"Harus proaktif melayani masyarakat, jangan lari. Jangan ada alasan tidak tahu. Saya harapkan kepada Bupati/Wali Kota yang cengeng, letakkan jabatannya. Ganti yang lain, apa salahnya," tegas Mualem dalam konferensi pers.

Ia menekankan bahwa kepala daerah harus benar-benar hadir membantu masyarakat, bukan hanya memberi alasan atau menunjukkan ketidakmampuan.

Mengapa Gubernur Menilai Bencana Banjir sebagai "Tsunami Jilid Dua"?

Mualem menilai banjir yang melanda Aceh kali ini bukan bencana biasa. Ia bahkan menyebutnya sebagai "tsunami jilid kedua" karena luas wilayah terdampak serta durasi genangan yang jauh lebih lama dibandingkan bencana tsunami 2004.

"Kalau tsunami 2004, air hanya datang sekitar dua jam. Akan tetapi, bencana banjir kali ini, air menggenangi rumah warga sampai lima hari lebih. Ini penderitaan luar biasa bagi rakyat Aceh," kata Mualem.

Berdasarkan laporan sementara, sedikitnya lima wilayah mengalami banjir dengan kategori berat, yakni Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Utara, sebagian Bireuen, dan Aceh Tengah.

Ribuan rumah terendam, akses transportasi terputus, dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Di beberapa wilayah, aktivitas ekonomi lumpuh, dan fasilitas umum seperti rumah sakit maupun jembatan mengalami kerusakan parah.

banjir aceh, bencana hidrometeorologi, Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Gubernur Aceh Mualem, longsor aceh, Gubernur Mualem Tegur Bupati yang Cengeng Tangani Banjir: Letakkan Jabatan, Ganti yang Lain

Sejumlah bangunan rusak pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (4/12/2025). Berdasarkan data Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh pada Selasa (2/12) sebanyak 1.452.185 jiwa terdampak bencana hidrometeorologi yang melanda 3.310 desa di 18 kabupaten/kota di Provinsi Aceh.

Apa Instruksi Gubernur kepada Camat dan Keuchik?

Gubernur Aceh menegaskan bahwa seluruh aparat pemerintahan di tingkat bawah wajib bergerak cepat. Ia menolak sikap menunggu instruksi yang kerap terjadi saat kondisi darurat.

"Tidak boleh ada camat atau keuchik yang hanya menunggu instruksi. Semua harus bergerak, turun ke lapangan, memastikan rakyat tertolong, dapur umum berjalan, bantuan sampai, dan tidak ada yang kelaparan," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kepala daerah dipilih untuk bekerja dalam kondisi tersulit sekalipun. Bukan untuk mengeluh atau merasa tidak sanggup.

Sehari sebelum konferensi pers, Mualem telah meninjau Aceh Tamiang dan menyalurkan bantuan secara langsung. Ia berangkat dari Lhokseumawe pada Rabu (3/12/2025) malam dan tiba sekitar pukul 23.00 WIB.

Dalam kondisi gelap gulita akibat listrik padam dan wilayah yang masih dipenuhi lumpur, ia membagikan bantuan hingga pukul 03.15 WIB.

Di Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru, Mualem menyaksikan kerusakan yang sangat parah. Rumah-rumah warga hancur, bahkan hanya menyisakan fondasi.

Di lokasi tersebut, ia menyalurkan 30 ton bantuan sembako dari warga Medan, yang terdiri dari air minum, beras, mi instan, biskuit, telur, dan obat-obatan.

Dalam perjalanan kembali menuju Langsa, Gubernur juga menyalurkan bantuan tambahan kepada para pengungsi yang mendirikan posko di sepanjang jalan Banda Aceh-Medan.

"Kita sedih dan pilu melihat kondisi ini. Kita harap rakyat Aceh tabah menghadapi cobaan banjir dan longsor," kata Mualem.

Gubernur mengungkapkan bahwa pemerintah telah mendatangkan dokter dari Malaysia untuk membantu penanganan medis warga terdampak banjir.

Langkah ini diambil karena beberapa fasilitas kesehatan mengalami kerusakan, terbatasnya tenaga medis, serta lonjakan pasien akibat infeksi, diare, ISPA, dan penyakit kulit pascabanjir.

"Kita tidak boleh membiarkan rakyat kita berjuang sendiri. Semua sumber daya harus kita kerahkan, termasuk tenaga medis dari luar negeri jika dibutuhkan," ujarnya.

Seberapa Besar Dampak Bencana Menurut BNPB?

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, melaporkan bahwa jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 836 orang per Kamis (4/12/2025) sore.

"Saya laporkan bahwa hingga sore ini untuk jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 836 jiwa," kata Abdul dalam konferensi pers virtual.

Di Aceh saja, jumlah korban meninggal bertambah menjadi 325 jiwa. Penemuan korban terbanyak terjadi di hari yang sama, yakni 48 korban akibat tertimbun longsor.

Mualem menegaskan bahwa seluruh unsur pemerintahan, TNI-Polri, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat harus bersinergi untuk mempercepat evakuasi, distribusi bantuan, dan pemulihan pascabencana.

"Bencana banjir yang disebut sebagai tsunami kedua ini menjadi peringatan keras bahwa Aceh masih sangat rentan terhadap bencana alam, baik dari sisi geografis maupun kesiapan infrastruktur dan tata kelola wilayah," ujarnya.

Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "Mualem Minta Kepala Daerah di Aceh Tak Cengeng Hadapi Banjir, Harus Proaktif".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang