Perlukah Les Tambahan untuk Anak? Ini Jawaban Ahli dan Pertimbangannya

Ilustrasi anak belajar, Manfaat Les Tambahan, Risiko dan Kekurangan Les Tambahan, Kapan Les Tambahan Sangat Direkomendasikan?, Kapan Les Tambahan Mungkin Tidak Diperlukan?, Tips untuk Orang Tua
Ilustrasi anak belajar

Di banyak keluarga, les tambahan sudah menjadi rutinitas setelah pulang sekolah. Orang tua kerap khawatir anaknya ketinggalan pelajaran atau gagal bersaing dalam ujian, sehingga jalan pintasnya adalah mendaftarkan mereka ke berbagai kursus.

Namun, pertanyaan mendasarnya apakah semua anak benar-benar membutuhkan les tambahan? Artikel ini membahas manfaat, risiko, serta pandangan ahli pendidikan dunia untuk membantu orang tua mengambil keputusan yang lebih bijak.

Les tambahan atau yang dalam literatur internasional disebut private tutoring atau shadow education adalah kegiatan belajar di luar jam sekolah yang bertujuan memperkuat atau memperluas pemahaman anak. Bentuknya beragam bisa les privat satu-satu, kursus kelompok kecil, bimbingan persiapan ujian, hingga kursus hobi seperti musik, coding, atau bahasa asing.

Fenomena ini begitu masif, terutama di Asia. Di Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok, jutaan siswa mengikuti les tambahan hampir setiap hari. Sementara di Indonesia, bimbingan belajar (bimbel) offline maupun online tumbuh pesat sebagai industri pendidikan.

Manfaat Les Tambahan

Bila dilakukan dengan tepat, les tambahan bisa memberi dampak positif yang nyata:

  1. Mengisi kesenjangan belajar. Anak yang kesulitan memahami pelajaran di sekolah bisa mendapat penjelasan lebih personal dari tutor.
  2. Persiapan menghadapi ujian. Les sangat membantu untuk menghadapi ujian besar seperti ujian masuk sekolah unggulan, olimpiade, atau tes bahasa internasional.
  3. Pendekatan belajar yang personal. Setiap anak punya gaya belajar berbeda; les memungkinkan metode disesuaikan, tidak sekadar mengikuti tempo kelas.
  4. Meningkatkan rasa percaya diri. Anak yang berhasil memahami materi setelah les biasanya lebih bersemangat dan tidak takut menghadapi ujian.

Risiko dan Kekurangan Les Tambahan

Meski bermanfaat, les tambahan juga punya sisi lain yang perlu diwaspadai:

  • Beban tambahan. Anak bisa merasa terlalu lelah karena sekolah sudah penuh aktivitas, ditambah lagi jadwal les setiap hari.
  • Waktu bermain berkurang. Padahal, bermain adalah bagian penting dalam perkembangan sosial dan emosional anak.
  • Biaya tidak sedikit. Les privat berkualitas bisa menguras anggaran keluarga, terutama jika harus rutin setiap minggu.
  • Kualitas bervariasi. Tidak semua lembaga les atau tutor memberikan metode pengajaran yang efektif, sehingga hasilnya tidak selalu sepadan dengan biaya.

Terkait les tambahan, seorang psikolog pendidikan dari University of Chicago, Profesor Benjamin S. Bloom pernah melakukan penelitian legendaris pada tahun 1984. Ia membandingkan tiga kondisi pembelajaran kelas konvensional, metode mastery learning (di mana siswa harus benar-benar paham sebelum lanjut ke materi berikutnya), dan les privat satu-satu.

Hasilnya mengejutkan. Menurut Bloom, siswa yang mendapat pengajaran satu-satu dengan sistem mastery learning rata-rata memiliki hasil belajar dua standar deviasi lebih tinggi dibanding siswa di kelas biasa.

Jika diterjemahkan ke dalam praktik nyata, ini berarti rata-rata anak yang ditutor secara personal mampu melampaui 98% siswa yang hanya belajar di kelas konvensional. Namun Bloom juga menekankan bahwa sistem ini sulit diterapkan luas karena membutuhkan biaya tinggi dan tenaga pengajar yang banyak.

Dengan kata lain, les tambahan memang sangat efektif bila dilakukan dengan cara yang benar, tapi tantangannya ada pada akses dan keberlanjutan.

Di sisi lain, pakar dalam studi shadow educaation, Profesor Mark Bray dari University of Hong Kong, melihat fenomena les tambahan dari sudut pandang yang lebih luas.

Ia menilai bahwa les tambahan bisa punya sisi positif. Misalnya, membantu siswa menguasai kurikulum, memberi kegiatan terstruktur di luar sekolah, sekaligus membuka peluang kerja bagi tutor.

”Namun, jika dibiarkan hanya mengikuti mekanisme pasar, les tambahan bisa memperbesar ketidaksetaraan sosial dan menambah tekanan berlebihan bagi anak-anak yang akhirnya kehilangan waktu untuk kegiatan non-akademik,” kata dia.

Kapan Les Tambahan Sangat Direkomendasikan?

Les tambahan sebaiknya dipertimbangkan bila anak benar-benar membutuhkannya, bukan sekadar ikut-ikutan tren. Ada beberapa kondisi di mana les tambahan sangat membantu:

  • Ketika anak kesulitan memahami pelajaran tertentu. Misalnya, nilai matematika terus rendah meski sudah belajar di rumah. Les bisa menjadi jalan keluar agar konsep dasar lebih mudah dipahami.
  • Saat menghadapi ujian penting. Ujian masuk sekolah unggulan, ujian nasional, atau tes kemampuan bahasa asing membutuhkan persiapan ekstra. Les bisa memberi strategi dan latihan intensif.
  • Jika anak memiliki motivasi tinggi. Ada anak yang memang ingin belajar lebih jauh, misalnya mengejar olimpiade sains atau mendalami coding. Les bisa jadi sarana mengembangkan potensi.

Kapan Les Tambahan Mungkin Tidak Diperlukan?

Di sisi lain, ada juga kondisi di mana les tambahan justru tidak terlalu dibutuhkan, atau bahkan bisa kontraproduktif:

  • Anak sudah mampu belajar mandiri. Jika anak bisa mengejar ketertinggalan dengan belajar sendiri, mungkin tidak perlu menambah jadwal les.
  • Waktu anak sudah terlalu padat. Bila sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan tugas rumah sudah menyita energi, menambah les bisa membuat anak kelelahan.
  • Sekolah menyediakan dukungan tambahan. Banyak sekolah punya program remedial atau tutor internal. Ini bisa jadi pilihan pertama sebelum mengeluarkan biaya untuk les privat.
  • Biaya terlalu membebani keluarga. Jika anggaran sangat terbatas, orang tua bisa mencari alternatif lain seperti belajar kelompok gratis atau memanfaatkan sumber belajar online.

Tips untuk Orang Tua

Sebelum memutuskan mendaftarkan anak ke les tambahan, ada baiknya orang tua mempertimbangkan langkah berikut:

  1. Diskusikan dengan anak. Tanyakan apa yang ia rasakan, apakah memang merasa butuh bantuan ekstra.
  2. Konsultasi dengan guru. Guru bisa memberi masukan objektif tentang kebutuhan akademik anak.
  3. Mulai dengan percobaan. Jangan langsung mendaftar jangka panjang. Coba beberapa sesi untuk melihat efeknya.
  4. Jaga keseimbangan. Pastikan anak masih punya cukup waktu untuk beristirahat, bermain, dan bersosialisasi.
  5. Evaluasi secara berkala. Perhatikan apakah nilai, motivasi, dan kepercayaan diri anak meningkat. Jika tidak ada perubahan, mungkin les tidak sesuai kebutuhannya.