Heboh Hadiah Karate, Pemprov NTT Jelaskan Kenapa Rp2 Juta Jadi Rp300 Ribu
Seorang ibu asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) meluapkan kekecewaannya setelah sang anak menjuarai lomba karate yang digelar pemerintah setempat dalam acara Pameran Pembangunan pada Agustus 2025 lalu.
Dalam video yang beredar di media sosial, sang ibu mengungkap bahwa sang anak diberikan papan simbolis hadiah sebesar Rp2 juta. Namun, setelah tiga bulan menunggu pencairan dana, anaknya hanya diberi Rp300 ribu.
Menanggapi viralnya keluhan tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) NTT yang juga Ketua Panitia Pameran Pembangunan 2025, Frederik Christian Purwanto Koenunu, menegaskan bahwa hadiah seluruh peserta telah dibayarkan sesuai nominal.
Frederik menegaskan bahwa pembayaran hadiah dilakukan melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, kemudian diteruskan ke induk organisasi olahraga untuk disampaikan kepada para atlet. Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah bertemu langsung dengan orangtua atlet untuk menjelaskan duduk perkara.
“Kami sudah membayarkan sesuai dengan besaran yang seharusnya diterima dan kami bayarkan melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Timur,” ujar Frederik, dikutip dari Facebook @Update Viral di NTT, Jumat 228 November 2025.
Menurutnya, persoalan muncul karena sang ibu “kurang informasi” mengenai proses penyerahan hadiah, sehingga mengira hadiah tidak disalurkan sesuai nominal. Ia mengatakan unggahan viral tersebut telah dihapus setelah dilakukan klarifikasi.
Lebih lanjut, Sekretaris Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi NTT, Karel Muskanan menjelaskan bahwa ada praktik pembinaan karakter di lingkungan latihan atlet yang menekankan nilai kebersamaan. Hal ini disebut sebagai alasan mengapa uang hadiah yang diterima atlet menjadi lebih kecil dari nominal awal.
“Kami mendapatkan informasi yang jelas dari pelatih dan juga atlet, bahwa di dalam pembinaan olahraga, ada nilai kebersamaan, nilai solidaritas, sehingga besaran nilai uang yang diperoleh oleh adik kita ini (disebut tidak sesuai) faktanya mereka saling berbagi,” terang Karel.
Ia menambahkan bahwa informasi pembagian uang hadiah tersebut tidak tersampaikan kepada sang ibu, sehingga muncul kesalahpahaman yang berujung pada kekecewaan.
“Pemerintah NTT menyampaikan terima kasih atas kritik masyarakat dan memastikan persoalan ini telah diselesaikan secara langsung bersama orangtua, atlet, serta pelatih,” tandasnya.