Produk Inovatif Tembakau Didorong Jadi Alternatif Pengurangan Risiko Bagi Pengguna

Lunix meluncurkan vape Lunix Draco
Lunix meluncurkan vape Lunix Draco

Adopsi strategi pengurangan risiko tembakau atau Tobacco Harm Reduction (THR) secara global masih terbilang lambat, meskipun terdapat bukti ilmiah mengenai potensi manfaat produk tembakau alternatif.

Mantan Direktur Penelitian, Kebijakan, dan Kerjasama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Prof. Tikki Pangestu mengatakan, produk-produk seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, merupakan pilihan rendah risiko kesehatan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaannya.

Prof. Tikki pun mengungkapkan keheranannya mengapa inovasi teknologi tembakau ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mengatasi epidemi merokok global.

"Mengapa produk-produk inovatif baru ini belum digunakan secara luas sebagai strategi pengurangan bahaya yang penting untuk mengakhiri epidemi merokok? Hal ini tetap menjadi tantangan besar bagi negara-negara di seluruh dunia yang mengadopsi produk-produk baru ini," kata Prof. Tikki, dalam keterangannya, Rabu, 5 November 2025.

Mantan Direktur Penelitian, Kebijakan, dan Kerjasama WHO, Prof. Tikki Pangestu

Menurutnya, ada lima hambatan utama yang menyebabkan lambatnya implementasi THR, yang berdampak pada upaya menurunkan prevalensi merokok di berbagai negara. Hambatan pertama adalah sikap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sangat anti-pengurangan bahaya tembakau. 

"WHO sebagai badan kesehatan dunia sangat berpengaruh. Jadi, jika WHO mengambil posisi menolak, negara-negara cenderung mengikuti arahan mereka," ujarnya.

Kondisi ini membuat negara-negara, khususnya berpenghasilan menengah ke bawah, sering kali mengalami keterbatasan dalam menilai manfaat dari implementasi pengurangan risiko tembakau melalui penggunaan produk tembakau alternatif. Hambatan kedua, regulasi yang terfragmentasi dan tidak proporsional, yang memengaruhi keterjangkauan, aksesibilitas, dan keamanan produk tembakau alternatif. 

Hambatan ketiga adalah maraknya misinformasi tentang bahaya dan manfaatnya, serta penggunaan bukti secara selektif yang memengaruhi WHO hingga pembuat kebijakan. Banyak informasi yang salah beredar, termasuk anggapan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan yang sama dengan rokok.

"Buktinya jelas menunjukkan produk tersebut 90 persen lebih rendah risiko," kata Prof. Tikki.

Hambatan keempat adalah pengecualian terhadap industri. Umumnya terdapat ketidakpercayaan terhadap motif industri karena warisan citra buruk di masa lalu. Sehingga banyak pihak, termasuk WHO dan pembuat kebijakan, tidak percaya pada niat industri meskipun kini berupaya beralih ke produk yang lebih rendah risiko.

Hambatan kelima adalah upaya untuk mengalihkan perdebatan dari usaha berhenti merokok menjadi fokus pada nikotin dan kecanduan, serta risiko bagi generasi muda.

"Pengguna vape dewasa 15 kali lebih banyak dibandingkan anak muda. Jadi mengapa fokusnya beralih dari membantu perokok dewasa yang ingin berhenti ke anak muda yang merupakan minoritas? Sangat sedikit bukti bahwa mereka akhirnya menjadi perokok," ujarnya.