BPS Tepis Konsumsi Rumah Tangga Melemah di Kuartal III Bakal Turunkan Daya Beli Masyarakat

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti

 Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa melemahnya konsumsi rumah tangga di Kuartal III-2025 tak akan menurunkan daya beli masyarakat.

Amalia menilai, pergerakan konsumsi masyarakat lebih dipengaruhi faktor musiman.

“Konsumsi rumah tangga itu kan juga salah satunya dipengaruhi oleh siklus musiman ya kan. Karena memang di kuartal ke-III ini kalau event-event besarnya seperti libur keagamaan yang panjang kan tidak sepanjang di kuartal ke-II,” ucap Amalia kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu, 5 November 2025.

Ia menambahkan siklus musiman tersebut masih menunjukkan kondisi solid meski konsumsi rumah tangga melemah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

“Tapi kalau kita lihat tetap masih solid, walaupun kalau dibandingkan dengan triwulan ke-II kan sedikit melemah tipis,” kata dia.

Di sisi lain, Amalia membantah pelemahan konsumsi ini menandakan penurunan daya beli masyarakat. Ia mengatakan penurunan ini terjadi sebab libur panjang yang ada di kuartal II tak sebanyak di kuartal III.

“Enggak. Karena itu beda musim. Di kuartal ke-II kan banyak libur termasuk libur lebaran, idul adha-idul fitri yang panjang itu kan membuat orang banyak spending dan juga banyak travelling,” jelasnya.

Badan Pusat Statistik mengumumkan data laju pertumbuhan ekonomi nasional kuartal III-2025 pada hari ini. Ekonomi RI diproyeksi masih ada di atas 5 persen pada periode tersebut.

Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia pada kuartal III-2025 akan sedikit di atas 5 persen, yakni sekitar 5,04 persen. Sedikit melambat dibandingkan 5,12 persen pada kuartal sebelumnya.

“Kami memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia akan melemah dari 5,12 persen year on year (yoy) pada kuartal II menjadi 5,04 persen (yoy) pada kuartal III-2025,” kata Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman dalam keterangannya, di Jakarta, Rabu, 5 November 2025.

Faisal menjelaskan, perlambatan ini terutama disebabkan oleh melemahnya konsumsi rumah tangga akibat ketidakpastian politik pada akhir Agustus 2025 yang menekan kepercayaan konsumen. Serta normalisasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) seiring melambatnya impor barang modal.

Pertumbuhan ekspor diperkirakan tetap solid, ditopang oleh permintaan Amerika Serikat yang meningkat hingga Agustus 2025 dan lonjakan wisatawan asing selama musim liburan musim panas. Sementara itu, pertumbuhan impor diproyeksikan menurun seiring dengan melambatnya aktivitas PMTB serta penurunan impor jasa setelah berakhirnya musim liburan sekolah dan periode ibadah haji.

Untuk keseluruhan tahun, PIER memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia pada 2025 akan bertahan di kisaran rata-rata 10 tahun terakhir, yaitu sekitar 5 persen, ditopang oleh kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

PIER menilai prospek pertumbuhan PDB Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, yang menegaskan pentingnya mempertahankan kebijakan ekonomi yang ekspansif, terutama melalui percepatan realisasi belanja pemerintah ke sektor-sektor produktif yang memiliki efek pengganda tinggi (high multiplier effects).